Skip to content

Rumah Batu, Riwayatmu Dulu..

January 1, 2013

la masia rumah batu
Andres Iniesta selalu mengingat masa kecilnya di La Masia dengan wajah memerah. Datang dari Fuentealbilla, kota kecil yang berada di provinsi Albacete, sekitar 450 kilometer dari Barcelona, Iniesta kecil kerap menangis. Sebab, jarak yang cukup jauh itu membuat orang tuanya jarang mengunjunginya.

“Jauh dari keluarga membuatnya benar-benar tersiksa,” kata mantan Direktur La Masia, Carles Folguera, mengenang saat-saat indah ketika pemain terbaik Eropa 2012 itu tinggal bersamanya di La Masia. “Dia sangat bergantung pada keluarganya dan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk beradaptasi.”

Iniesta masuk ke La Masia saat usianya baru 12 tahun. Ia dibawa Alberto Benaiges, pelatih sekaligus pencari bakat Barcelona. Beaiges pula yang membawa Victor Valdes, Gerard Pique, dan Jordi Alba. “Saya semula tidak yakin akan kemampuannya karena dia sangat cengeng,” kata Benaiges. “Dia sering menangis di dalam kamar.”

Saat itu postur tubuh Iniesta memang sangat mungil. Tubuhnya begitu tipis. Bahkan, saking tipisnya, ia sering menjadi bahan ledekan. Pep Guardiola yang ketika itu masih bermain di Barcelona pernah berkata kepada Xavi Hernandes, “Kamu akan membuat saya pensiun,” katanya. “Tapi bocah ini (Iniesta) akan membuat kita berdua pensiun.”

Guardiola dan Xavi Hernandes juga alumni La Masia. Selain mereka ada nama Lionel Messi, Gerard Pique, Cesc Fabregas, Carles Puyol, Sergio Busquets, dan Pedro. Generasi teranyar dari La Masia adalah Andreu Fontas, Thiago Alcantara, Marc Bartra, Jonathan dos Santos and Victor Vazquez.
la masia foto
“Di sini kami tumbuh bersama sejak kecil sehingga kami mengetahui dengan persis karakter setiap pemain,” kata Iniesta. “Kami berlatih dengan filosofi sepak bola yang sama dan selalu saling berbagi. Sangat menyenangkan mengingatnya.”

Suasana di La Masia de Can Planes, nama panjang La Masia, memang serba menyenangkan. Tak ada pagar tinggi yang mengelilingi rumah berusia 3 abad lebih 10 tahun itu, membuatnya tampak ramah terhadap siapapun yang mengujunginya.

“Di sini tempat para bintang sepak bola menjejakkan kaki pertamanya,” kata Folguera sambil menatap bangga deretan foto yang menempel di salah satu dinding rumah batu itu. Di antara foto-foto itu menyelip wajah penjaga gawang Liverpool Pepe Reina, Puyol, Messi dan Jordi Roura yang kini menjadi pelatih sementara Barcelona.

La Masia berdiri di atas tanah seluas 610 meter persegi. Bangunan ini dibeli manajemen klub Barcelona pada 1957 dari seorang petani. Pada 20 Oktober 1979, atas ide Johan Cryuft, bagunan dua lantai itu disulap jadi pusat pelatihan tim junior Barcelona.

Jadi pusat pelatihan tim junior tak lantas membuat La Masia menjadi seperti barak militer. Sebab para pemain muda berusia 5-15 tahun itu ternyata hanya berlatih sepak bola tak lebih dari 1 jam 30 menit setiap hari. Selebihnya mereka belajar pelajaran umum di sekolah.

Setiap jam 8 pagi mereka diantar bus khusus ke sekolah-sekolah yang jaraknya tak jauh dari Camp Nou. Mereka baru akan kembali sekitar pukul 2 siang. Setelah itu mereka diberi waktu satu jam untuk beristirahat sebelum mulai berlatih sepak bola.

“Sebelum berusia 16 tahun kami tidak memberikan latihan fisik untuk mereka,” kata Folguera, “Kami hanya menanamkan filosofi sepak bola, kedisiplinan, kesabaran, dan sedikit tehnik bermain bola.”
la masia kids
Folguera mengatakan tak semua anak didik La Masia sukses di lapangan. Mereka yang gagal umumnya bukan tak punya bakat, tapi karena kurang telaten. “Kami selalu mengatakan kepada mereka bahwa mimpi adalah perjalanan yang panjang, siapapun harus bersabar untuk meraihnya.”

Tak mengherankan jika jebolan La Masia kemudian begitu telaten menjaga bola. Konsep kesabaran ini pula yang mendasari jurus tiki-taka. “Konsep ini lahir dari keinginan untuk menguasai bola selama mungkin, bukan mencetak gol sesegera mungkin.”

Karena itu, Folguera melanjutkan, La Masia membuka pintu lebar-lebar untuk anak-anak bertubuh tipis seperti Iniesta atau bahkan mereka yang mengalami gangguan hormon pertumbuhan seperti yang dialami Lionel Messi.

“Kami selalu mencari pemain yang bisa berpikir dan mengambil keputusan dengan cepat, memiliki bakat, tehnik, dan kelincahan,” kata Folguera. “Kekuatan dan postur fisik pemain tidak begitu penting bagi kami.”

Hasilnya, 7 dari 11 pemain yang memperkuat tim nasional Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010 adalah alumnus La Masia. Tak hanya itu, 3 finalis pemain terbaik dunia FIFA 2010, yakni Lionel Messi, Andreas Iniesta, dan Xavi Hernandez, juga lahir dari rumah batu itu.

Tak mengherankan jika banyak pemain yang menghadiri acara penutupan La Masia di akhir kompetisi 2010-11 lalu. Barcelona memindahkan pusat pendidikan tim junior mereka ke Ciutat Esportiva Joan Gamper, jaraknya sekitar 1 kilometer dari La Masia.

Ciutat Esportiva Joan Gamper memiliki luas 136.839 meter persegi. Komplek olahraga ini dibangun dengan dana tak kurang dari 77 juta euro atau sekitar Rp 987 miliar. Di komplek inilah berdiri rumah pengganti La Masia. Luasnya tak kurang dari 5 ribu meter persegi dan terdiri dari 5 lantai. Lebih mewah dan modern, tentu saja. Tapi orang tetap tak akan melupakan La Masia. Sebab dari rumah batu itulah tiki-taka dan nama-nama beken dilahirkan.

BBC | REUTERS | TOTAL BARCA | MARCA | DW

Baca Juga:
Tato di Bahu Leo
Sampai Mati Menanti Gaji
Natal Kelabu Buat Mou
Malaikat Telat Turun ke Timnas
Serba Salah
Kritik Nike di Punggung Timnas
Wangsit Dari Paris
Balada The Real Garuda

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: