Skip to content

Dari Sasi Hingga Zonasi

December 28, 2012

Upaya pelestarian terumbu karang dan biota laut di perairan Raja Ampat mengawinkan tradisi dengan zonasi. Upaya konservasi tak harus menentang tradisi.

DSC_0725Ibrahim Bahale bergegas menuju sebuah gua kecil di Pulau Wayaban, Distrik Misool Selatan, Raja Ampat, Papua Barat, akhir November lalu. Tokoh adat Kampung Yellu ini masuk ke celah sempit di salah satu tebing pulau itu. Di mulut gua, seorang wanita telah menunggu sembari memegang nampan.

“Timainya,” kata Ibrahim kepada wanita itu dari dalam gua. Timai yang dimaksud adalah sesaji berisi dua batang rokok, beberapa butir pinang, percikan darah ayam putih, serta sobekan kain di atas nampan. Ibrahim berkomat-kamit sebelum meletakkan nampan itu di lantai gua. Sejurus kemudian, pria paruh baya ini melangkah ke luar.

Tak jauh dari gua sebuah sampan kecil sudah menunggu di tepi pantai. Masih ada satu nampan berisi timai yang harus ia bawa ke Pulau Banyaganan –jaraknya sekitar 20 menit dari Pulau Wayaban. “Timai ini untuk para penunggu pulau,” kata Ibrahim di atas sampan yang semakin jauh meninggalkan Wayaban.

*****************

Prosesi peletakan timai itu merupakan bagian dari upacara adat penutupan sasi –tradisi masyarakat setempat untuk menetapkan masa jeda eksploitasi laut di satu wilayah penangkapan ikan, semacam moratorium. Tradisi ini datang dari Maluku ratusan tahun lalu.

Di Misool Timur Selatan, wilayah sasi dikuasai tiga petuanan, yaitu Petuanan Lilintah, Fafanlap, dan Yellu. Satu petuanan terdiri dari beberapa kampung. Mereka inilah yang menentukan kapan sasi dibuka dan ditutup plus lama penutupan.

Biasanya, sasi ditutup  selama 3 bulan hingga 2 tahun. Semakin lama sasi ditutup, semakin banyak hasil yang bisa dipanen. Ini bisa dilihat dari hasil yang dipanen Suku Kawe dari Kampung Selpele dan Salio di perairan Pulau Wayag, Raja Ampat.DSC_0698

Dua tahun lalu mereka menutup perairan seluas 1.765 hektare. Praktis wilayah perairan itu steril dari segala aktivitas pencarian ikan dan biota laut. Hasilnya, saat sasi dibuka pada 2-24 November lalu, berlimpah.

Conservation International —lembaga swadaya masyarakat internasional yang mengelola beberapa kawasan konservasi di Raja Ampat— mencatat hasil panen itu: 5.067 ekor teripang, 1.283 ekor lola, dan 401 lobster. Total nilainya Rp 150 juta.  Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dari pembukaan sasi dua tahun silam yang hanya bernilai Rp 74 juta.

Direktur Program Kelautan The Nature Conservancy (TNC), Abdul Halim, mengatakan berlipatnya hasil tangkapan Suku Kawe itu tak lain karena sasi yang mereka jalankan secara ketat. Sasi memberikan kesempatan pada biota laut berkembang biak sebelum ditangkap. Sehingga kelestariannya terjaga.

Sasi juga efektif menangkal eksploitasi hasil laut. Sebab konsep buka-tutup selama waktu tertentu membuat penduduk tak bisa seenaknya mengambil ikan di wilayah yang sudah disepakati. “Tradisi ini ditetapkan secara adat sehingga tak ada yang berani melanggar,” kata Halim.

Sanksi bagi pelanggar sasi lumayan berat. Ketua Adat Misool Barat, Rajak Umkabu, mengatakan sanksi bisa berupa kerja sosial, seperti mengangkut batu untuk pembangunan jalan, hingga kutukan. Untuk yang terakhir ini berlaku di pulau-pulau yang adat dan tradisi kepercayaannya masih kental.

Di kepulauan Kofiau, Misool Barat, misalnya, pelanggar adat sasi bisa mendadak sakit sebelum kemudian meninggal. Mereka percaya kutukan akan menimpa siapa saja yang berani melanggar sasi. “Tradisi ini di Kofiau masih sangat kental,” kata Koordinator Komunikasi TNC, Dwi Aryo Handono. “Karena itu jarang ada kasus pelanggaran sasi di sana.”

Meski begitu, bukan berarti kawasan perairan Raja Ampat bebas dari perusakan. Karena para pengebom ikan dan pemburu sirip hiu justru datang dari luar Raja Ampat.

Hasil survei TNC pada 2007-2009 menunjukkan lebih dari 94 persen sumber daya alam laut di perairan Raja Ampat diambil nelayan dari Sorong, Maluku, dan Sulawesi. Mereka inilah yang kerap menggunakan bom ikan dan memburu sirip hiu.

Rajak Umkabu di Pulau Waaf

Rajak Umkabu di Pulau Waaf

April lalu, misalnya, 33 nelayan asal Sorong, Buton, dan Halmahera ditangkap ketika sedang berburu hiu di sekitar Pulau Sayang dan Pulau Piai, Waigeo Barat. Namun, ajaibnya, mereka berhasil kabur ketika digiring petugas.

Sementara kasus pengeboman ikan terjadi di Pulau Batanta, Perairan Kepulauan Kofiau. Tujuh nelayan diciduk Tim Gabungan TNI Angkatan Laut dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat. Di tempat yang sama, Februari lalu, tim gabungan juga menangkap empat nelayan pengebom ikan.

Patroli memang terus dilakukan tapi tapi jumlah kasus pengeboman ikan dan perburuan sirip hiu tak kunjung surut. Sebab jumlah kapal patroli tak sebanding dengan luas perairan Raja Ampat yang mencapai 4 juta hektare. Alhasil, para pengebom ikan dan pemburu sirip hiu itu bisa bergerak bebas. Mereka pun siap melawan jika sewaktu-waktu kepergok.

Aryo mencontohkan, awal Oktober lalu timnya pernah memergoki kapal yang sedang mengebom ikan di Kofiau. Tapi Aryo tak bisa berbuat banyak karena mereka mengancam dengan bom ikan. Daya ledak bom yang dikemas dalam botol bir itu lumayan dahyat.

“Salah seorang di antara mereka memegang botol berisi ammonium nitrate,” kata Aryo, “Kalau kami nekat mendekat, mereka pasti melempar botol itu ke kapal kami. Jadi kami tak ingin mengambil risiko.”

Radius ledakan satu bom ikan bisa mencapai 5-10 meter, tergantung ukuran dan bahan yang digunakan. Akibatnya, tak hanya ikan yang menjadi korban tapi juga terumbu karang di sekitarnya. Padahal, Raja Ampat terkenal sebagai surga terumbu karang. Kawasan ini masuk dalam segitiga terumbu karang dunia.

TNC, Conservation International, Lembaga Oseanografi Nasional, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pernah mengaudit biota laut di Raja Ampat pada 2001-2002. Hasilnya, ada 553 jenis karang, 1.470 jenis ikan karang, 8 jenis paus, 700 jenis moluska, dan 7 jenis lumba-lumba. “Sekitar 75 persen dari spesies karang dunia ada di Raja Ampat,” kata Halim.

Nah, untuk melestarikan kekayaan biota laut ini, perairan Raja Ampat kemudian dipecah dalam enam zona kawasan konservasi laut daerah, yaitu Selat Dampier, Kawe, Teluk Mayalibit, Kepulauan Ayau, Kepulauan Kofiau, dan Misool Timur Selatan. Kepulauan Kofiau dan Misool Timur Selatan dikelola TNC, sedangkan sisanya ditangani Conservation Internasional.

Enam zona kawasan konservasi tersebut dipecah lagi dalam tiga zona peruntukan, yakni zona inti, zona pemanfaatan terbatas, dan zona pemanfaatan lainnya. Di zona inti, masyarakat dilarang mengambil ikan. Adapun zona pemanfaatan terbatas digunakan sebagai bank ikan dan ecowisata. Menangkap ikan secara bebas hanya diizinkan di zona pemanfaatan bebas. Wilayah tradisi sasi masuk dalam zona pemanfaatan bebas ini.

Pembagian zona tersebut bukan perkara mudah. Abdul Halim mengatakan, selain harus melakukan kajian biodiversitas dan mengamati persebaran terumbu karang serta pola pergerakan hiu dan penyu, mereka juga harus mendekati penduduk setempat agar mengakui pembagian zona tersebut. “Butuh waktu tiga tahun untuk membujuk masyarakat,” katanya.

Penduduk semula menolak konsep konservasi dengan sistem zonasi ini karena mengira tak akan bisa lagi mencari ikan di perairan yang masuk dalam kawasan konservasi. Namun setelah puluhan kali diadakan pertemuan dan mendapat penjelasan secara rinci mereka akhirnya bersedia menerima konsep tersebut.

Puncaknya, disepakati pendeklarasian kawasan Misool Timur Selatan sebagai Zona Adat Kawasan Konservasi Laut Daerah pada 28 November lalu. Deklarasi ini diteken semua tokoh adat dan agama di kawasan tersebut. “Mereka mulai tergugah setelah menyadari bahwa kekayaan laut mereka justru diambil oleh nelayan asing,” kata Halim.

Selain mendeklarasikan Misool Timur Selatan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah, mereka juga meresmikan tiga pos pengawasan di Pulau Waaf, Gamfi, dan Jaam. “Masyarakat yang melanggar akan tidak cerah hidupnya,” kata Ketua Kampung Yellu, Abdul Jalil Bahale, saat deklarasi. “Kami akan menjaganya.”

********************

Matahari mulai condong ke barat ketika Ibrahim Bahale tiba di Pulau Banyaganan. Ia melompat dari sampan kemudian melangkah menuju  rumah kecil, tempat timai terakhir dipersembahkan. Di rumah itu, telah berjejer puluhan nampan berisi timai.

Nampan-nampan itu mengelilingi patung setinggi 40 centimeter berbalut kain putih. Pada persembahan itu, harapan diruapkan bahwa bencana akan menjauhi penduduk dan peruntungan akan datang saat pembukaan sasi nanti..
DSC_0762
DW

*dimuat di majalah tempo edisi 17-23 Desember 2012

Galeri Raja Ampat:
Surga Empat Raja
Menghalau Bom di Raja Ampat

Wajah Lain Raja Ampat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: