Skip to content

Embun dari Tibet

December 27, 2012

dalaiSeorang teolog asal Brazil, Leonardo Boff, menemui Dalai Lama. Tokoh Budha Tibet itu menyambutnya dengan hangat. Boff sejak semula penasaran dengan pengetahuan Dalai Lama. Ia ingin menyelami kedalaman –kalau tak bisa dibilang menguji– ilmu pemimpin spiritual bangsa Tibet itu.
“Yang Mulia,” Boff memulai. “Menurut Anda, agama apakah yang terbaik di dunia ini?”
Dalai Lama tersenyum. Namun tatapannya dari balik kacamata gelap yang nangkring di hidungnya seolah menembus dada Boff. Teolog ini membatin, ‘Dia seolah tahu maksud jahat dari pertanyaanku.’
“Agama yang paling baik,” kata Dalai Lama sambil mengerutkan kening, “Adalah agama yang bisa membawamu dekat dengan Tuhan. Agama yang membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.
Boff berusaha menahan kagetnya. Semula ia mengira Dalai Lama akan menjawab ”Buddhis Tibet” atau agama lain di Asia yang usianya jauh lebih tua dari Kristen.
Untuk menyamarkan rasa terkejutnya, Boff kembali bertanya, “Kalau begitu, apa yang membuat saya menjadi lebih baik?”
“Apapun yang membuatmu lebih berwelas asih, lebih masuk akal, lebih lepas, lebih mencintai, lebih memiliki rasa kemanusiaan, lebih bertanggung jawab, dan lebih etis,” jawab Dalai Lama. “Agama yang bisa membuatmu menjadi menjadi manusia seperti itu adalah agama yang terbaik.”
Boff terdiam sejenak. Ia masih silau oleh kebijaksanaan Dalai Lama. Ia mengagumi jawaban-jawaban sederhana namun mengusap hatinya dengan lembut. Bukan jawaban teoritis seperti yang ia harapkan, namun sangat menyejukkan batinnya.
“Temanku,” Dalai Lama melanjutkan, “Saya tidak tertarik dan tidak perduli apa agamamu atau apakah kamu beragama atau tidak. Yang terpenting bagiku adalah tingkah laku dan sikapmu terhadap teman, keluarga, dan masyarakat.”
Dalai berbicara panjang. Di akhir kalimatnya, ia berkata, “Semesta ini adalah gema dari tindakan dan pikiran kita. Karena itu berhati hatilah akan pikiranmu karena mereka akan menjadi perkataan. Berhati hatilah pada kata-katamu karena mereka akan menjadi tindakan. Dan berhati hatilah pada tindakanmu karena mereka akan menjadi kebiasaan dan cermin hidupmu.”
Boff terpaku. Kebijaksanaan Sang Dalai membuat pikiran kritisnya tersungkur. Mungkin benar kata orang: mereka yang berbicara dengan hati selamanya tak akan pernah bisa dibantah pikiran.

_DW_
Baca Juga:
Tuhan dan Secangkir Kopi
Boikot Tuhan
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah “Sesat” Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Para Penjaja Lalat
Majelis Togel
Anti Klimaks Fatwa Zakat
Muhammad Naik Adam Turun
Seribu Dai Sedikit Arti
Ketika Toyo Bertemu Tuhan

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: