Skip to content

Sampai Mati Menanti Gaji

December 26, 2012

“Apa saya harus meninggal dulu seperti Diego (Mendieta) agar gaji saya dibayar?”
camaraa
Luas ruang tamu itu hanya 3×3 meter, tak ada meja dan kursi, hanya selembar karpet merah digelar di lantai. Sebuah televisi tabung 21 inci dan kulkas satu pintu berdempet di salah satu sisi dinding. “Beginilah keadaannya,” kata Camara Abdoulaye Sekou, Selasa tiga pekan lalu, sambil menyuguhkan segelas teh hangat. Abu Bakar Camara, putra tunggalnya yang baru berusia 2 tahun 3 bulan, ikut duduk di sampingnya.

Sejak September lalu mantan pemain Persipro Probolinggo itu pindah ke rumah kontrakkan di Serua, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Petakan sepanjang sekitar 8 meter tersebut disekat menjadi 4 ruang. Selain ruang tamu yang berisi televisi dan kulkas, tiga ruang lainnya kosong. Hanya ada tempat tidur dan kompor. “Sewa sebulannya Rp 800 ribu. Itu belum termasuk pulsa listrik.”

Pemain asal Guinea ini memang hidup serba ngepas. Sebabnya, Persipro Probolinggo belum membayar gajinya sejak Desember 2011 hingga Juni 2012. Jumlah totalnya mencapai Rp 125 juta. “Padahal saya ada istri dan anak yang harus saya beri nafkah.”

Gaji tertahan membuat pemain berusia 27 tahun ini harus pontang-panting mencari duit. Laga antar kampung (tarkam) pun dilakoninya demi menyambung hidup. Sekali main, bayarannya Rp 300-500 ribu. Persoalannya, pertandingan antar kampung tak setiap pekan digelar. Sehingga, saking kepepetnya, ia pernah turun ke jalan sambil membawa kardus untuk meminta sumbangan dari masyarakat.

Camara mengatakan bukan kali ini saja gajinya tersangkut. Saat membela klub divisi utama Medan Jaya pada 2007 lalu, gajinya selama 8 bulan pun tak dibayar. Totalnya Rp 75 juta. Setelah didesak terus, mereka akhirnya bayar. Tapi sial bagi Camara, duit itu dibawa kabur agennya. “Sampai saat ini saya belum terima duit itu.”

Keapesan beruntun ini, tentu saja, tak pernah ia bayangkan saat memutuskan hijrah ke Indonesia 2006 lalu. Sebelumnya, ia bermain di salah satu klub di Mesir selama 3 tahun. “Tapi saya tidak kecewa dengan Indonesia,” katanya. “saya hanya kecewa dengan klub.”

Camara tak sendiri. Dua rekannya di Persipro Probolinggo, yakni Syilla Mbamba dari Mali dan Salomon Begondo dari Kamerun, juga bernasib serupa. Gaji mereka selama 6 bulan masih ditahan klub. Mbamba mengaku hanya mendapat 15 persen dari total kontrak sebesar Rp 200 juta dari Persipro Probolinggo.

Duit itu dibayar ketika ia meneken kontrak Desember 2011 lalu. Setelah itu, klub tak pernah membayar gajinya lagi. “Saya hidup dari duit yang 15 persen itu selama satu musim di Probolinggo,” katanya. “selebihnya saya main di tarkam.”

Hal senada disampaikan Salomon. Untuk menyambung hidup, kata dia, ia harus rela menurunkan derajatnya dari pemain profesional menjadi pemain panggilan alias pemain yang siap dipanggil untuk membela satu kampung ke kampung lain.

“Sekarang saya jadi pemain panggilan,” katanya. Meski begitu ia bersyukur karena tak pernah sakit serius selama memperkuat Persipro Probolinggo. “Karena klub tak memberi asuransi kesehatan.”

Mbamba kini ngontrak di Karawaci dan Salomon menyewa rumah petak di Tangerang. Mbamba mengatakan sewa rumah kontrakkannya habis akhir Desember nanti. Jika hingga tenggat tersebut ia belum bisa memperpanjang kontrak, ia bisa diusir. “Setahun Rp 17 juta sewanya,” katanya.

Pemain asing lain yang kini luntang-lantung adalah Masahiro Fukusawa. Gajinya selama 7 bulan hingga kini masih belum dibayar Bontang FC meski kontrakknya telah habis November lalu. Namun pemain gelandang asal Jepang ini enggan menyebut berapa total nilai gaji yang belum diterimanya.

Ia hanya mengatakan gajinya sebagai pemain semestinya dibayar per bulan. Tapi prakteknya, gaji kerap dirapel selama dua hingga tiga bulan. Bahkan ia pun harus membayar sendiri sewa apartemen meski di dalam kontrak tertera klub-lah yang harus menanggung biaya sewa apartemen tersebut. “Untungnya biaya hidup di Bontang tidak semahal seperti di Jakarta,” katanya. “sekarang saya numpang di rumah teman.”

Kisah pilu pemain asing ternyata juga pernah dialami pemain tim nasional berdarah Belanda, Johny Van Beukering, saat membela Pelita Jaya pada 2011 lalu. Johny mengaku gajinya selama beberapa bulan di tim tersebut belum dibayar. “Itu sangat mengecewakan,” katanya. Tapi ia tak mau ambil pusing. Mantan pemain Feyenoord ini memilih hengkang ke Belanda.

Foto by Eggi Paksha

Johny Van Beukering | Foto by Eggi Paksha


Johny mungkin bisa melupakan gajinya yang belum dibayar, tapi tidak Camara dan Masahiro. Keduanya mendatangi kantor Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Rabu pekan lalu untuk mendesak federasi sepak bola nasional itu turun tangan. Sebelumnya mereka juga melaporkan kasus penungggakan gaji ini ke Asosiasi Pemain Profesional Indonesia.

“Saya sudah punya keluarga di sini, istri saya orang Pacitan, sehingga saya tidak bisa begitu saja pergi dari Indonesia,” kata Camara. “Saya hanya ingin mereka memberikan hak saya. Apa saya harus meninggal seperti Diego (Mendieta) agar gaji saya dibayar?”

Di PSSI, mereka ditemui Direktur Ahli Status dan Transfer PSSI, Marco Paulo. Namun pertemuan itu, seperti pertemuan yang sudah-sudah, belum memberikan titik terang. Harapan mendapat gaji yang ditunggu-ditunggu masih menggantung di awang-awang. “Saya hanya ingin mendapatkan hak saya,” kata Masahiro.

Adapun Mbamba dan Salomon mengatakan sudah bosan meminta bantuan PSSI karena sampai saat ini kasus mereka tak kunjung tertangani. “Dua bulan lalu saya sudah lapor ke PSSI tapi tidak ada tanggapan,” kata Salomon. Mbamba menimpali, “Sampai capek, tapi mereka tidak tanggapi.”

Sekretaris Persipro Sahri Trigiantoro mengatakan yang bertanggung jawab atas nasib ketiga pemain Afrika tersebut adalah Bondowoso United. Sebab, kata Sahri, sejak Persipro bergabung dengan Bondowoso United pada November 2011 lalu, semua kebijakan, termasuk gaji pemain, dipegang Bondowoso United. “Coba tanyakan ke mereka,” katanya.

CEO Asosiasi Pemain Profesional Indonesia Valentino Simanjuntak mengatakan kasus penunggakkan gaji tak hanya terjadi di Persipro Probolinggo dan Bontang FC, tapi dialami hampir semua pemain asing di Indonesia. Hanya saja, sedikit sekali dari mereka yang berani melapor. “Di saat yang sama pengurus klub pun tak serius menghormati kontrak,” katanya.

Ketua Komite Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus, menilai kasus penunggakan gaji pemain sebenarnya bisa diminimalisir jika konsep deposit yang diusulkan PSSI pada awal musim 2011-2012 lalu disetujui klub.
Saat itu PSSI mengusulkan agar klub-klub yang ingin bermain di kompetisi, baik di kasta tertinggi maupun divisi utama, menyetorkan sejumlah duit ke PSSI.

Untuk klub di level tertinggi, duit yang wajib disetor Rp 5 miliar dan klub divisi utama Rp 2 miliar. Duit itu sebagai deposit. Gunanya, kata Sihar, untuk memastikan kekuatan finansial klub-klub peserta kompetisi selama satu musim. Duit itu, antara lain, bisa digunakan untuk membayar gaji pemain jika suatu saat klub mengalami kesulitan finansial. “Itu sebagai jaminan,” katanya.

Namun skema deposit itu ditolak. Klub-klub pun terjun ke kompetisi meski keuangan mereka morat-marit. Akibatnya, pemain jadi korban. Gaji tak terbayar dan asuransi kesehatan pun tak jelas. Tak mengherankan jika lantas muncul tragedi Diego Mendieta. Pemain asal Paraguay ini meninggal 4 Desember lalu di Rumah Sakit Dr Muwardi Solo.

Sebelumnya, pemain kelahiran 13 Juni 1980 pernah dirawat di Rumah Sakit Islam Surakarta Yarsis dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Tapi, dia terpaksa pulang lantaran tak bisa menanggung biaya perawatan.
Bahkan sebelum meninggal, ia sempat mengatakan ingin kembali ke kampungnya. Namun hasratnya itu kandas lantaran tak ada duit untuk membeli tiket pesawat.

Gajinya yang sempat tertunggak selama 4 bulan di Persis Solo baru dibayar setelah ia menghembuskan nafas terakhir. Bahkan, pemain depan Persis Solo ini masih berutang dua bulan terhadap induk kosnya. “Dia menunggak pembayaran uang kos untuk Oktober dan November,” kata Seno, pengawas rumah kos Griya Telasih, Kawasan kota barat, Surakarta, tempat Mendieta tinggal selama 11 bulan terakhir.

Kamar kos berukuran 3×3 meter itu kini kosong. Di ruang itu hanya ada dipan dengan kasur busa, meja kecil dan sebuah televisi. Adapun sepatu bola, foto-foto, dan sebuah disc player milik Mendieta telah dikemas dan dikirim ke Paraguay, menyusul majikannya yang pulang tanpa nyawa.

DW

Baca juga:
Natal Kelabu Buat Mou
Malaikat Telat Turun ke Timnas
Serba Salah
Kritik Nike di Punggung Timnas
Wangsit Dari Paris
Balada The Real Garuda

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: