Skip to content

Menghalau Bom di Raja Ampat

December 17, 2012
Meski telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut, para pemburu sirip hiu dan pengebom ikan masih merajalela di perairan Raja Ampat.

DSC_0284Hati Dwi Aryo Handono mendadak kecut saat tiba di Perairan Kofiau, Raja Ampat, Papua Barat, awal Oktober lalu. Di depannya, di atas sebuah perahu kayu sepanjang 15 meter, berdiri 10 orang nelayan. Salah dari mereka memegang sebotol bir. Orang itu mengacung-acungkan botol tersebut ke arah speed boat tempat Aryo dan 11 rekannya berdiri.

Nyali Aryo pantas menciut. Sebab di dalam botol bir itu bukan berisi alkohol, melainkan ammonium nitrate –bahan peledak yang biasa digunakan untuk mengebom ikan. Jika meledak, radiusnya mencapai 5 meter untuk setiap 1 kilogramnya. Bisa dibayangkan jika botol berkapasitas 1,5 kilogram itu mendarat di atas speed boat.

Alhasil, Koordinator Komunikasi di The Nature Conservancy (TNC), lembaga swadaya masyarakat international yang mengelola kawasan perairan di Kepulauan Misool dan Kofiau di Raja Ampat, ini pun memilih mundur. “Kami tidak mau mengambil resiko, mereka pasti akan melempar bom itu kalau kami terus maju.”

Saat berpapasan dengan gerombolan pengebom ikan itu, Aryo dan rombongannya baru saja pulang dari acara pembukaan sasi –tradisi masyarakat setempat untuk membuka-tutup kawasan laut dari aktivitas pencarian ikan– di Wayag. “Jadi kami tak siap,” katanya. “apalagi ada tiga wanita bersama rombongan kami.”

Perairan di Raja Ampat semestinya sudah terbebas dari pengeboman ikan sejak 2006 lalu. Sebab pada tahun itu perairan ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut daerah. Tapi, sejak penetapan kawasan konservasi laut tersebut hingga kini pengeboman ikan masih terjadi.

September lalu, misalnya, Tim Gabungan TNI Angkatan Laut dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat menangkap 7 nelayan pengebom ikan di Pulau Batanta, Perairan Kofiau. Di tempat yang sama, pada Februari, tim gabungan menangkap 4 nelayan pengebom ikan.

Selain mengebom ikan, mereka juga memburu sirip hiu. Maklum saja, Perairan Raja Ampat sejak lama dikenal sebagai “tempat hiu bersarang”. Untuk menjaga hiu-hiu itu, Bupati Raja Ampat sebenarnya telah merilis surat edaran larangan menangkap hiu pada Oktober 2010. Tapi, toh perburuan sirip hiu tak berhenti.

April lalu, misalnya, 33 nelayan yang membawa 7 kapal kepergok sedang berburu hiu di sekitar Pulau Sayang dan Pulau Piai, Kawasan Konservasi Perairan Waigeo Barat. Mereka kemudian ditangkap. Tapi, saat digiring ke pelabuhan Waisai, ajaibnya, mereka melarikan diri. Sampai saat ini tak jelas kenapa mereka bisa kabur dari kawalan petugas.

Yang pasti, kata Direktur Program Kelautan TNC Abdul Halim, tak satupun dari gerombolan pemburu sirip hiu itu dan pengebom ikan adalah penduduk Raja Ampat. Mereka biasanya datang dari Sorong, Buton, Maluku, dan Sulawesi. Mereka inilah yang kerap kucing-kucingan dengan petugas patroli. “Sangat sulit menangkapnya karena kawasan ini sangat luas,” kata Halim.

Kawasan perairan Raja Ampat memang membentang tak kurang dari 4 juta hektar. Ada 6 lokasi di wilayah ini yang masuk kawasan konservasi laut daerah, yakni Selat Dampier, Kawe, Teluk Mayalibit, Kepulauan Ayau, Kepulauan Kofiau dan Misool Timur Selatan. Kepulauan Kofiau dan Misool Timur Selatan dikelola TNC sementara sisanya ditangani Conservation Internasional, lembaga swadaya masyarakat internasional.

konservasi

Halim mengatakan pihaknya pernah menggandeng Conservation International, Lembaga Oseanografi Nasional dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia untuk mengaudit kekayaan laut Raja Ampat pada 2001-2002. Hasilnya: ada 553 jenis karang, 1.470 jenis ikan karang, 8 jenis paus, 700 jenis moluska, dan 7 jenis lumba-lumba. “Artinya 75 persen dari spesies karang dunia ada di Raja Ampat.”

Untuk menjaga kelestarian biota laut itu lalu dibentuklah sistem zonasi. Dengan sistem ini, wilayah perairan Raja Ampat dibagi dalam 3 zona, yakni zona inti, zona pemanfaatan terbatas, dan zona pemanfaatan lainnya. Di zona inti, masyarakat dilarang mengambil ikan sementara zona pemanfaatan terbatas digunakan sebagai bank ikan dan ecowisata. Memancing ikan secara bebas hanya diijinkan di zona pemanfaatan bebas.

Butuh waktu lama untuk menetapkan sistem zonasi ini.  Selain harus melakukan kajian biodiversitas dan mengamati persebaran terumbu karang serta pola pergerakan hiu dan penyu, mereka juga harus membujuk penduduk agar mengakui zona-zona tersebut. “Butuh waktu tiga tahun untuk membujuk masyarakat,” katanya.

Kesadaran penduduk, kata Abdul Halim, mulai tergugah setelah mereka ngeh sebagian besar ikan mereka dicuri oleh nelayan dari Maluku, Sorong, dan Seram. Puncaknya, pada 28 November lalu, mereka pun mendeklarasikan Zona Adat Kawasan Konservasi Laut Daerah Misool Timur Selatan seluas 366 ribu hektar di Pulau Yellu, Misool Selatan.

“Mulai saat ini penduduk tidak boleh lagi pakai potasium dan bom untuk tangkap ikan,” kata Kepala Kampung Yellu, Abdul Jalil Bahalle, saat deklarasi berlangsung. “karena itu merusak laut dan kehidupan kita. Mereka yang berani melakukannya hidupnya tidak akan cerah.”

Selain mendeklarasikan Zona Adat Kawasan Konservasi Laut Daerah Misool Timur Selatan, mereka juga meresmikan tiga pos pengawasan di Pulau Jaam di Distrik Misool Selatan, Pulau Gamfi di Distrik Misool Timur, serta Pulau Waaf di Distrik Misool Barat. Penduduk, bersama kepolisian, akan berpatroli di perairan Misool Timur Selatan.

Pos-pos pengawasan ini diharapkan bisa mempersempit para pemburu sirip hiu dan pengebom ikan. Sebab Hasil survei TNC pada 2007-2009 menunjukkan lebih dari 94 persen sumber daya alam laut di perairan Raja Ampat diambil oleh nelayan yang datang dari Sorong, Maluku, dan Sulawesi.

_DW_
koran tempo edisi 17-12-2012
Galeri Raja Ampat:
Dalam Toleransi Timai
Wajah Lain Raja Ampat
Surga Empat Raja

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: