Skip to content

Pembuktian Rio di Lomba Ngepot

December 10, 2012

rio saputroSedan Nissan Cefiro A31 buatan tahun 1990 itu melesat di antara gerimis yang membasahi Sirkuit Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Ahad siang akhir November  lalu. Jarum di speedometer hampir menunjuk angka 100 kilometer per jam. Dari kaca depan yang berembun, terlihat trek mulai menikung ke kiri. Jaraknya hanya tinggal beberapa meter. Namun alih-alih menginjak pedal rem, Rio Saputro Budihardjo, pengendara Nissan itu, justru menendang pedal kopling.

Mobil pun meluncur miring. Rio cepat menarik tuas rem tangan sambil membanting stir ke kanan, menjaga agar moncong mobil tetap mengarah ke sisi dalam tikungan. Setelah itu kaki kanannya kembali menginjak pedal gas. Mesin mobil berkubikasi 3000 cc itu pun meraung. Suaranya beradu dengan jeritan ban belakang yang kehilangan traksi. Asap tebal menyembur dari knalpot. Wuush!

Seribuan penonton yang berjejer di tepi luar lintasan bersorak ketika Rio sukses “menggelincirkan” sedan merah-putihnya itu mengikuti tikungan yang membentuk huruf U. Itulah tikungan tersulit di sirkuit tempat digelarnya ajang Formula Drift Asia 2012, pekan lalu. “Momentumnya harus pas karena telat sedikit saja menarik rem tangan atau menendang kopling,” kata Rio, “mobil bisa muter 360 derajat atau ke luar lintasan.”

Aksi Rio itu akhirnya membawa ia ke tangga juara umum ketiga di seri terakhir ajang drifting paling bergengsi se-Asia Tenggara tersebut. Drifter dari GT Radial Drift Team ini mengoleksi 218 poin dari tiga seri yang digelar di Malaysia, Singapura, dan berakhir di Indonesia. Sementara juara dua diraih drifter Malaysia, Tengku Djan Ley, dengan 253 poin; dan juara pertama disabet drifter asal Jepang, Daigo Saito, dengan 330 poin.

Balapan memang bukan hal baru bagi Rio. Remaja kelahiran Surabaya 27 Juli 1991 ini bahkan sudah doyan ngebut sejak masih berseragam putih-biru. Saat itu ia sering mengikuti balap liar di jalanan. “Akibatnya,” kata Rio, “Saya sering nyungsep.” Meski begitu ia tak pernah kapok.

Aksinya di jalanan baru berhenti ketika ia masuk SMA. Itu pun bukan lantaran dari kesadarannya sendiri. Ia tinggalkan sirkuit “swasta” lantaran ultimatum ayahnya, Aryanto Boedihardjo—yang seorang jenderal polisi bintang dua itu: boleh terus kebut-kebutan tapi di ajang resmi, atau tidak sama sekali! Ultimatum ini membuatnya keder.

Apa boleh buat, Rio pun memilih opsi pertama. Sejak itulah ia sering wara-wiri ke Sirkuit Sentul, Jawa Barat. Di sana, ia menggeber habis Honda Estillo 1992 pemberian orang tuanya. Bakat, minat, dan skill balapnya digenjot. Usianya yang baru 16 tahun tak membuatnya minder.

Merasa sudah cukup bekal, ia ikut kejuaraan Indonesia Touring Car Championship Junior pada 2007. Saat itu dia berhasil naik podium pertama. “Padahal mobil saya sempat mogok dan kehabisan bensin.”

Nama Rio mulai merajalela di Sentul ketika ia memborong semua gelar juara di seri balap Retro Touring Car Championship pada 2008. Saat itu ia membesut Toyota Corolla DX lansiran tahun 1982. Prestasi serupa kembali dicetaknya setahun kemudian.

Ia mulai tertarik ngedrift setamat SMA. “Saat itu saya lihat video D1 Grand Prix di Jepang lewat youtube, kok sepertinya menarik,” katanya. Bagaimana tidak tertarik, di video itu terlihat dua mobil saling berlomba ngepot. Sepanjang trek, mobil tak dipacu lurus ke depan seperti umumnya di ajang balap, melainkan melaju miring seperti kepiting. Decit putaran ban dan semburan asap knalpot menambah dramatis pertandingan.

Ia lalu mencoba-coba tehnik ngedrift. Tak ada guru khusus yang mengajarinya. Ia belajar dari video kemudian menerjemahkannya sendiri saat di kabin mobil. Pengalamannnya selama balapan di Sentul cukup membantu meski, “Teknik balapan tidak sama dengan ngedrift.”

Barangkali karena memang bakatnya besar di dunia kebut-kebutan ini, ia mulai berbicara di tingkat Asia. Puncaknya adalah pada seri Formula Drift Asia di Kemayoran itu, saat ia menjejakkan kakinya di podium. “Saya tidak percaya, tapi saya senang sekali,” kata Rio tentang gelar juara ke-tiganya itu. Dia mengakui posisi ketiga Asia adalah pencapaian tertinggi sejauh ini.

Tentu saja, pencapaian ini membikin bangga ayahnya yang dua tahun lalu pensiun dari kepolisian itu. Bagaimana pun itu adalah lonjakan prestasi yang cukup tajam. Sebab tahun lalu Rio hanya mentok di posisi kesepuluh.

Rupanya, pencapaian drifter Indonesia memang tengah ngebut dua tahun terakhir. Hal ini di akui Ryan Sage, salah satu pendiri Formula Drift. Kata dia, perkembangan keterampilan drifting pembalap Indonesia adalah yang tercepat di Asia. Ia menunjuk fakta kian seringnya drifter Indonesia naik podum dalam berbagai balapan. “Orang-orang seperti Rio Saputro dan Amandio memiliki tingkat drifting yang bagus,” kata Ryan.

Amandio yang ia sebut punya nama lengkap Emmanuel Adwitya Amandio. Pemuda
20 tahun ini memang salah satu drifter andalan Indonesia. Di kantungnya sudah terselip lisensi Formula Drift Amerika Serikat. Dio, sapaan akrabnya, adalah satu-satunya drifter Indonesia yang memegang lisensi itu. Sebauh lisensi yang berlaku untuk seumur hidup. “Kalau sudah masuk ke Amerika, ke balapan lain lebih mudah,” katanya. Lisensi itu ia sabet dua tahun lalu saat berhasil merebut gelar juara umum ketiga Formula Drift Asia 2010 di Thailand.

Dio, sapaan akrabnya, langsung memanfaatkan lisensinya dengan terjun ke Formula Drift Amerika Serikat 2011. Hasilnya lumayan. Dari 60 peserta, ia masuk 40 besar. April lalu ia kembali mengikuti ajang yang sama, dan berhasil melejit ke 16 besar.

Di dunia drift, nama Dio memang mencorong. Di Formula Drift Asia 2012 kemarin, ia memang tak masuk 3 besar. Pebalap dari tim Wedrifteam Syailendra Achilles ini tersingkir di babak 16 besar. Ia dikalahkan drifter Malaysia, Tengku Djan Ley. Tapi targetnya tahun ini memang bukan menjuarai Asia. “Saya ingin mencoba D1 Grand Prix di Jepang.”

Jepang, memang salah satu kiblat olahraga ini. Di Negeri matahari terbit itulah teknik ngedrift ditemukan sejak 40 tahun silam. “Saat ini kita masih tertinggal dalam pengembangan mobil, suspensi, engine, dan segala macam,” kata Dio.

Siapa tahu, dengan menjajal tantangan di negeri asalnya, pelan-pelan drifter tanah air segera bisa menyusul para pendauhulunya. Para drifter Indonesia, kini bagai tengah memegang bendera start untuk melejit lebih tinggi.

_DW_
dimuat di Majalah Tempo edisi 26 November 2012

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: