Skip to content

Kisah “Sesat” Para Penepuk Dada

December 10, 2012

syiahGelap langsung menyergap begitu saya memasuki gedung Gelanggang Samudera di Kelapa Gading, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu. Ribuan orang, sebagian besar mengenakan jubah hitam-hitam, duduk dalam saf-saf panjang di ruang hampir seluas setengah lapangan sepak bola itu. Pria berada di sisi kanan dan wanita di kiri. Sehelai kain panjang memisahkan mereka.

Hampir semua wajah menunduk, sebagian terisak, dan banyak dari mereka menepuk-nepukkan tangan ke dada sambil berseru, “Ya Husain…Ya Husain..” Di atas mimbar, seorang pria bersurban hijau masih terus mengisahkan tragedi pembantaian di Karbala. Suaranya kian lama kian serak hingga ia berhenti satu-dua jenak, menangis…

Ribuan orang itu tak sedang menonton teater. Mereka adalah penganut Syiah yang tengah memperingati hari Asyura, sebuah hari ketika salah satu Imam suci mereka, Al Husain, tewas dalam pembantaian yang dilakukan Yazid di padang bernama Karbala, 680 Masehi. Husain adalah putra dari pasangan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib, alias cucu Nabi Muhammad SAW.

Syiah sejatinya adalah faham dalam Islam. Mereka mengklaim sebagai pengikut Ahlul Bayt, yaitu keluarga nabi yang terdiri atas Ali bin Abithalib, Fathimah, Hasan, Husein, dan sembilan keturunan lain yang mereka sebut Imam. Mereka percaya para imam ini maksum alias suci. Dari para imam inilah mazhab mereka berasal, yakni Mazhab Jafari, merujuk pada Imam Jafar Shadiq, imam ke-6 mereka.

Mazhab ini kurang populer lantaran mayoritas muslim di dunia hanya mengenal Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali. Keempat mazhab ini belakangan disebut Mazhab Suni, pengikutnya disebut ahlusunnah wal jamaah. Di sini, ahlusunnah wal jamaah identik dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Karena bukan bagian dari “jamaah”, Syiah pun lantas dikucilkan. Mereka kerap dicurigai, bahkan dituding sesat. Paling anyar adalah fatwa pengurus wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang memvonis sesat pengikut Syiah pimpinan Tajul Muluk di Sampang.

Fatwa ini diduga menjadi salah satu pemicu penyerangan terhadap warga Syiah di sana. Akibat peristiwa ini, dua orang tewas dan ratusan warga Syiah terusir dari kampungnya.

Tragedi di Sampang itu membuat gerah Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama Said Agil Siradj. Kang Said, begitu ia kerap disapa, mengatakan perbedaan faham atau mazhab tak bisa dijadikan dalih untuk melakukan kekerasan. “NU dengan Syiah memang beda,” katanya. “Tapi tidak boleh melakukan kekerasan atau semena-mena.”

Apalagi, kata Said, banyak tradisi di Nahdlatul Ulama yang sebenarnya berakar dari tradisi Syiah. Contohnya, kata dia, tradisi Bubur Suro yang biasa digelar para nahdliyin setiap 1-10 muharam. Tradisi itu adalah bentuk lain dari perayaan Asyura yang digelar kaum syiah. “Bubur putih mewakilkan Hasan dan bubur merah mewakili Husein.”

Peringatan asyuro juga digelar di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatra Barat, dengan upacara Hoyak Tabuik (Tabut) atau Hoyak Husain.syiah imam

Tradisi Syiah lain yang diserap Nahdlatul Ulama adalah kenduri. Ritual yang digelar untuk memperingati kematian seseorang pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000 ini dibawa para ulama Syiah dari Champa (kini Vietnam) pada abad ke-10 masehi.

Jejak kenduri ini tercatat dalam buku “Kerajaan Campa” terbitan EFEO (1981). Bahkan istilah “kenduri” pun dicomot dari bahasa Persia (kini Iran) “Kanduri” yang berarti upacara makan-makan untuk memperingati kematian Fatimah Az Zahrah.

Pengaruh budaya Syiah dari Champa yang turut mewarnai tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama lainnya yakni Rebo Wekasan atau Arba’a akhir di bulan Safar, Nifsu Syaban, larangan melakukan pernikahan dan sunatan di bulan Syuro (muharam), serta Barzanji atau pembacaan puji-pujian untuk Nabi Muhammad dan keluarganya.

Ziarah kubur dan tabarok (meminta berkah dari kyai atau orang yang telah meninggal) juga serapan dari tradisi Syiah. Sehingga, bisa dibilang, Nahdlatul Ulama dan Syiah memiliki kedekatan sosiologis dan historis. Persis seperti yang disebut Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, bahwa Nadhlatul Ulama adalah Syiah kultural. “Tapi mereka tidak menyadarinya,” kata Said Agil.

Pengaruh Syiah bahkan lebih menukik. Tak hanya mewarnai tradisi, tapi juga “menyusup” ke nama. Nama-nama seperti Syamsudin, Zainal Abidin, Syamsul Arifin, Zainudin, adalah sederet nama yang biasa digunakan para ulama Syiah di Persia. “Kalau nama-nama Arab tidak begitu, tapi Fath, Najib, Abdullah, Muhammad, Khalid,” kata Said.

Bahkan pelafalan “salat”, “nikmat” dan “rahmat” juga dipengaruhi dialek ulama Syiah Persia. Menurut Said Agil, “Seandainya datang dari Arab, dialeknya berbunyi “rohmah”, “solah” dan “nikmah.”

Pengaruh Syiah dalam bahasa juga disampaikan Agus Sunyoto lewat buku “Atlas Walisongo”. Istilah “Mak” untuk “Ibu”, “Kak” atau “Kang” untuk “kakak”, serta “Adhy” untuk “adik” dicomot dari bahasa Champa.

Pengaruh Syiah bahkan juga merasuk ke dunia klenik. Sebelum kedatangan para ulama dari Champa, orang-orang pribumi yang kala itu masih dikuasai Majapahit, hanya mengenal mahluk-mahluk halus setengah dewa seperti yakhsa, raksasa, pisaca, dan butha. Kedatangan para ulama itu kemudian membawa istilah baru: kuntilanak, pocong, kolong wewe, jin silam, dan hantu penunggu pohon.

Kuatnya cengkeraman syiah dalam budaya Islam di tanah air, yang didominasi Nahdlatul Ulama, karena ulama pertama yang menyebarkan Islam di tanah Jawa berasal dari Persia, yaitu Syaikh Subakir. Kisah Syaikh Subakir ini pernah dicatat R Tanoyo dalam bukunya Historiografi Jawa. “Lalu dilanjutkan oleh Mbah Wasil (Sulaiman Al-Wasil Syamsudin) yang dimakamkan di Kediri,” kata Said Agil.

Dalam buku “Atlas Walisongo” bahkan disebutkan salah satu ulama dari Champa yang pertama-tama menyiarkan Islam di tanah Jawa adalah Raden Rahmat alias Sunan Ampel, satu dari sembilan wali songo. Sayangnya tak disebutkan secara pasti apakah Sunan Ampel bermazhab Syiah. Namun S.Q. Fatimy, penulis bukunya “Islam Comes to Malaysia” (1963), memastikan mazhab orang-orang muslim di Champa saat itu adalah Syiah.

Salah satu wali yang secara langsung pernah belajar Syiah di Persia adalah Syeh Siti Jenar. Menurut naskah Wangsaketan Cirebon yang berjudul Negara Kretabhumi Sargha III pupuh 77, disebutkan Syeh Siti Jenar, yang bernama asli Syaikh Datuk Abdul Jalil, pergi memburu ilmu di Persia selama 17 tahun. Di sana ia berguru pada seorang Mullah Syiah bernama Abdul Malik Al-Baghdadi.

Dari Abdul Malik ia mempelajari tasawuf melalui jalan tarekat akmaliyah. Dua nama besar yang juga pernah menapaki tarekat ini adalah Huesin bin Mansyur al-Hallaj dan Ibnu Araby. Sampai di Jawa, ajaran Syeh Siti Jenar ini kemudian dikenal dengan nama manunggaling kawula-gusti, sebuah faham tentang penyatuan mahluk dengan khalik.

Pengamat Sunni-Syiah, Haidar Bagir, melihat lebih jauh ke belakang. Menurutnya, Syiah dan Nahdlatul Ulama itu “satu guru satu ilmu”. Empat Imam Suni, yakni Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali, berguru kepada Imam Jafar Shadiq, yang tak lain adalah imam ke-5 Syiah. “Imam Jafar itu gurunya Imam Hanifah dan Imam Malik muridnya Imam Hanifah, Imam Syafii muridnya imam Malik,” katanya.

Tak mengherankan jika kemudian budaya Syiah dan Nahdlatul Ulama saling berkelindan. Haidar Bagir mencontohkan konsep Imam Mahdi. Sang juru selamat itu dikisahkan akan datang sebelum kiamat nanti. Syiah dan NU sama-sama mempercayai konsep ini. “Bedanya Syiah percaya beliau sudah lahir,” kata Haidar Bagir, “Sementara NU menganggap Imam Mahdi belum lahir.

Dua saudara satu guru satu ilmu itu kini terbelah. Penyebabnya sederhana: fanatisme sempit.

_DW_

Baca Juga:
Jalan Sunyi Para Santri
Para Penjaja Lalat
Majelis Togel
Anti Klimaks Fatwa Zakat
Muhammad Naik Adam Turun
Seribu Dai Sedikit Arti
Ketika Toyo Bertemu Tuhan

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: