Skip to content

Kutukan Salah Alamat

November 23, 2012

Tak banyak yang tau kalau air mata yang sering menetes dari patung Malin Kundang ternyata bukan air mata penyesalan. Ada kisah lain di balik air mata itu, kisah yang jauh lebih menyedihkan, lebih menyayat, dan lebih gelap: tentang kutukan yang ternyata salah alamat.

********

Pagi itu, untuk yang ke sekian kali, Malin meminta restu ibunya. Ia ingin merantau. Namun ibunya menahan. Malin anak semata wayang, satu-satunya harta peninggalan mendiang suaminya. Jika Malin pergi, apa lagi yang dimilikinya?

“Duhai anakku Malin, bersabarlah, Nak. Aku sudah tua, tubuhku sudah bongkok dan kedua mataku mulai lamur. Engkau anakku satu-stunya, engkaulah penopang hidupku, engkau tongkat bagiku. Setidaknya, tunggulah sampai aku mati,” Sang Bunda membujuk.

Tapi tekad Malin sudah bulat. Ia akan mengarungi lautan dengan atau tanpa restu ibunya. “Ibu, bukan aku tak mengkawatirkanmu, tapi aku pergi tak akan lama. Aku akan kembali membawa banyak uang, kain-kain bagus, dan perhiasan. Kita akan hidup enak, Ibu,” katanya.

Sang bunda memejamkan mata. Apa artinya semua kemewahan di usianya yang telah lanjut? Ia hanya ingin Malin menemani saat-saat terakhir hidupnya, memandikan jasadnya, lalu membopongnya ke makam kemudian mengiriminya ayat-ayat suci.

Tapi kali ini Malin tak bisa dicegah lagi. Ia menatap lekat-lekat buah hati semata wayangnya. Matanya berkaca-kaca hingga beberapa butir air mata jatuh ke pipinya. “Anakku, berjanjilah untuk pulang,” katanya.

Malin menubruk ibunya, merangkulnya erat. Ia tak bisa lagi menahan haru. “Ibu, aku akan kembali. Aku berjanji akan membuatmu bahagia,” katanya berurai air mata.

Demikianlah, Malin pun berlayar. Ia menuju barat. Dari para pedagang ia mendengar negeri-negeri di barat tumbuh seperti jamur yang gemuk. Hampir sepekan ia terapung di lautan ketika mendadak badai besar mengamuk.

Petir bersahutan di langit. Angin mencabik-cabik layar perahunya. Malin memeluk tiang layar lalu mengikat tubuhnya dengan tambang. Inilah satu-satunya yang bisa ia lakukan.

“Mati aku,” batin Malin ketika melihat gelombang setinggi lima meter bergulung ke arahnya. Ia memejamkan mata saat gelombang itu menghatam perahunya. Tubuhnya terlempar. Kesadarannya hilang.

***********

Malin membuka mata. Seorang wanita berwajah oval dengan rambut pirang berdiri di sampingnya.
“Popay, orang ini sudah sadar,” wanita itu berseru sambil menengok ke luar. Seorang lelaki berlari masuk.
“Cepat ambilkan air,” kata Popay.
Malin mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya. Badai dan segulung besar air. Hanya itu yang bisa dia ingat.
“Minumlah,” kata Popay. Malin membuka mulut. “Kami menemukanmu di pantai lalu membawamu ke sini, untunglah kamu bisa selamat,” kata Popay. Malin mengerti, kedua orang inilah yang menyelamatkan nyawanya.

Begitulah, Malin pun akhirnya mengabdi kepada Popay. Enam bulan ia tinggal di sana, membantu Popay mencari ikan di laut atau menanam sayur-mayur. Dari Olive, wanita berambut pirang itu, Malin tahu jika ia kini berada di sebuah benua bernama Amerika.

Hingga suatu hari terjadi malapetaka: semua tanaman sayur habis dilahap hama. Tak hanya di kebun Popay, tapi hampir semua kebun di Amerika bernasib serupa.

“Habis riwayatku,” kata Popay.
“Kita masih bisa makan ikan,” sahut Malin.
“Kamu tidak paham, aku tidak bisa hidup tanpa bayam,” kata popay.
Mendadak Malin teringat ibunya. Wajahnya cepat berbinar. “Popay, di negeri asalku banyak sekali bayam. Tanah di sana sangat subur. Bagaimana jika kita pindah ke sana?”

Popay membutuhkan waktu tiga hari untuk memutuskan. Ia berdiskusi lama dengan Olive sebelum akhirnya menyetujui usul Malin. Mereka pun, dengan kapal laut, belayar menuju barat.

*********

Malin berdiri di geladak ketika kapal merapat di Teluk Bayur. Ia tersenyum lebar. Betapa ia begitu merindukan ibunya.

“Hei Malin, kau kah itu?” seru seorang nelayan di bibir pantai.

Malin menoleh. Senyumnya melebar. “Syamsul! Kau masih ingat awak rupanya!”
Syamsul bergegas ke rumah Malin. Ia ingin mengabarkan kedatangan sahabatnya itu ke ibunda Malin. Sementara Malin masih harus membenahi koper-koper bawaan Popay dan Olive.
“Aku mau lihat-lihat dulu ke luar,” kata Popay. Ia menggandeng tangan Olive. Keduanya turun duluan dari kapal. Pada saat yang sama, Ibunda Malin datang tergopoh-gopoh. Kedua matanya sudah lamur. Mereka bertemu di tengah desa.
“Oh, Malin anakku!” serunya sambil menubruk Popay. “aku kangen sekali padamu.”
Popay mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan wanita tua yang tak dikenalnya itu. “Orang tua, aku bukan Malin,” katanya.
Tapi wanita itu terus memeluknya. “Badanmu kini semakin kekar, lenganmu…ya Tuhan, besar sekali. Hidungmu juga makin mancung. Syukurlah, kamu pasti makmur di rantau…”
Kali ini Popay mendorong tubuh renta itu. Wanita itu terhuyung. “Orang tua, aku bukan anakmu. Aku popay.”
“Tidak, kamu Malin, kamu anakku,” seru wanita itu sambil kembali mencoba memeluk popay. Tapi popay berkelit, wanita itu jatuh tersungkur.
“Aku bukan anakmu,” kata popay lagi. “dan tidak akan pernah menjadi anakmu.”
Wanita itu menatap Popay, seolah tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Tiba-tiba matanya berair. Ia menangis. “Setiap malam aku mendoakanmu agar kamu sukses di rantau, tapi beginikah balasanmu?” kedua matanya yang lamur berkilat. Seribu belati terasa dihujamkan ke hatinya. Malin yang dulu selalu ditimangnya, yang selalu dipeluknya ketika tidur, kini mendurhakainya.
Wanita itu perlahan bangkit. Lututnya bergetar. Ia menatap tajam. “Lebih baik kamu jadi batu!”
DUAR!
Asap mendadak mengepul dari tanah tempat Popay berdiri. Popay merasakan seluruh tubuhnya tiba-tiba kaku. Tangan dan kakinya tak bisa digerakkan. Bahkan melirik pun tak bisa. Ia benar-benar menjadi batu!
Olive menjerit. Ia meratap. Saat tatapannya membentur mata wanita itu, ia bergidik. Ada sesuatu yang berkilat di sana. Olive pun berlari histeris ke kapal.
“Malin, cepat putar kapal, cepat, kita kembali!” katanya panik.
Malin bingung. Olive mendorong tubuhnya. “Cepaaat!”
Malin ingin membantah, tapi Olive tak memberinya kesempatan untuk sekedar membuka mulut. Ia pun kembali membentangkan layar dan meminta para awak segera bersiap. Tak lama, kapal itu pun mulai berlayar. Malin berdiri di geladak, ia masih belum mengerti apa yang terjadi. Pucuk-pucuk kelapa perlahan menjadi hanya deretan titik hitam.
Begitulah, Malin dan Olive akhirnya kembali ke Amerika. Kebersamaan membuat mereka akhirnya saling mencinta. Mereka hidup bahagia. Sementara Popay, hingga kini masih menjadi batu. Air mata satu-dua kali menetes. Penduduk mengira itu air mata penyesalan seorang anak durhaka, mereka sama sekali tidak tahu kisah yang sebenarnya terjadi..

_DW_
Cerita lain:
Tertawalah Pada Tempatnya
Antara Nasrudin dan Nyonya Meneer
Ketika Toyo Bertemu Tuhan
FPI
Duka Terakhir Sang Nabi

One Comment leave one →
  1. November 23, 2012 9:05 pm

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: