Skip to content

Pahit Getir Pendidikan Kita

November 14, 2012

KOMPAS/INGKI RINALDI Saya terhenyak saat membaca surat pembaca di Majalah Tempo edisi 12 November 2012. Isinya tentang curahan hati seorang ibu yang anaknya tak bisa bersekolah lantaran menunggak SPP.

Si anak bernama Caesar, 10 tahun, siswa kelas IV SD Madina Islamic School, Tebet, Jakarta Selatan. Caesar “dirumahkan” sejak 24 Oktober lalu. Orangtuanya sudah mengajukan permohonan agar diberi keringanan atau sedikitnya dispensasi waktu pelunasan SPP.

Tapi kepala sekolah bersikeras melarang bocah itu duduk di kelas. Sebelum SPP dilunasi, gerbang sekolah tertutup untuknya. Bahkan satpam sekolah, menurut si ibu, sudah berkali-kali mengusir anaknya. Duh, betapa mahal dan kejamnya pendidikan di sini.

Istigfar saya belum habis ketika sehari kemudian Harian Kompas memuat foto dua anak sekolah dasar yang sedang menyeberangi sungai Batang Surantih di Jorong Lambung Bukik, Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Keduanya terpaksa menyeberangi sungai itu lantaran tak ada jembatan. Mereka mencopot celana –menyisakan hanya celana dalam– agar tak basah karena kedalaman sungai selebar 20 meter itu mencapai pangkal paha. Maut mengincar mereka setiap saat karena banjir bisa datang secara mendadak.

Hebatnya, Bupati Pesisir Selatan, Nasrul Abit, mengatakan dirinya tak mengetahui perjuangan anak-anak itu menuju sekolah. Padahal mereka menyeberangi sungai itu setiap hari…

Perjuangan para siswa di Sumatera Barat ini mirip anak-anak sekolah di Kampung Tanjing, Lebak, Banten, yang harus bergelayut meniti jembatan gantung yang kondisinya rusak berat. Daily Mail, harian yang terbit di Inggris, menyebut perjuangan para siswa meniti jembatan gantung itu seperti salah satu adegan di film Indiana Jones and The Temple of Doom.

Pagi tadi, adik-adik kecil kita mungkin masih menyeberangi sungai dan meniti jembatan itu. Sementara para petinggi di kementerian pendidikan saat ini justru sibuk memasukkan pramuka sebagai kurikulum wajib di sekolah dasar. Mungkin agar adik-adik kecil kita itu semakin terampil meniti jembatan gantung dan menyeberangi sungai..

_DW_
sumber foto: Kompas dan Reuters

Baca Juga:
Filosofi Jagung
Seribu Dai Sedikit Arti
Kemeja Super

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: