Skip to content

Karena Tuhan Tak Membunuh

November 5, 2012

Kata kyai, usia di tangan Tuhan. Tapi dokter seringkali bisa menebak sisa hidup pasien. Memang tak selalu tepat, tapi tak jarang juga benar. Setahun lalu, misalnya, seorang teman divonis gagal ginjal kronis. Kata dokter, masa hidupnya kemungkinan tinggal 9 bulan lagi. Tapi prediksi itu meleset, karena teman saya itu meninggal 11 bulan kemudian.

Tebakan dokter itu, meski keliru, tapi tak menyimpang kelewat jauh. Lantas dari mana ia bisa menebak sisa umur pasiennya? Tentu saja, bukan dari bisikan Tuhan. Tapi dari hasil menganalisa penyakit yang diderita si pasien.

“Hidup seseorang bisa dikalkukasi dengan melihat sejumlah variabel,” kata seorang teman yang lama liputan kesehatan. Beberapa variabel itu antara lain pola makan dan pola hidup. Misal, mereka yang kelewat sering makan bebek. Kolesterol akan menumpuk di tubuhnya.

Kalau sudah begitu, jalur darah akan tersumbat. Serangan jantung dan stroke bisa menimpanya sewaktu-waktu. Di tahap ini, kata teman itu, sisa hidupnya sudah bisa diprediksi tak akan lama lagi. “Tapi kalau dia memperbaiki pola makan, peluangnya bertahan hidup bisa makin besar.”

Usia seseorang ditentukan oleh kualitas hidupnya. Dan kualitas hidup dipengaruhi pola makan dan pola hidup. Kesimpulannya, kata teman itu, jika ingin panjang usia, pola makan dan pola hidup kudu dijaga. Dengan kata lain, manusia punya peranan menentukan panjang pendek usianya.

Lalu bagaimana dengan Tuhan?

Tuhan, tentu punya peranan juga. Tapi Beliau bukan pesulap yang menjadikan segala sesuatunya serba ajaib. Tuhan, meski bisa berkunfayakun, tetap menerapkan hukum sebab akibat. KeadilanNya, misalnya, tak akan membuat orang yang sering minum air putih terkena batu ginjal. KeadilanNya juga yang membuat para perokok kelas berat dibayangi kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.

Lalu, dengan IlmuNya, Ia bisa menakar dengan persis usia seseorang berdasarkan pola makan dan pola hidup orang tersebut. Jika seseorang mengisap rokok, Tuhan akan menghitung kerusakan paru-paru orang tersebut secara tepat, plus usia yang bakal berkurang akibat serangan nikotin itu.

“Jadi kematian tak sepenuhnya di tangan Tuhan,” kata teman itu. “Kita punya kehendak bebas untuk memilih bagaimana kita hidup dan pilihan kita terhadap cara hidup menentukan sisa hidup sekaligus cara kita mati.”

Hmm…

_DW_

Baca juga:

Ketika Toyo Bertemu Tuhan
Tuhan, Kata dan Angka
Boikot Tuhan
Tuhan Dimana-mana, Tapi Tidak di Hatiku
Satu Bulan Beda Tuhan

2 Comments leave one →
  1. November 6, 2012 8:00 am

    cerita al-ghozali tentu menarik jk dimasukkan dlm cerita ini, qodlo dan qodar, dialektika antara yang rasio dan wahyu. hukum kausalitas, rasio tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: