Skip to content

Tato di Bahu Leo

October 15, 2012

Volkswagen abu-abu itu menderu di jalan kota Rosario ketika hari mulai gelap. Udara yang basah oleh gerimis sesekali menyelinap lewat jendela yang sedikit terbuka. Sampai di selatan kota, Celia memperlambat mobilnya. Ia tersenyum ketika melihat dua orang anak kecil yang sedang asyik bermain bola. “Seperti itulah Lionel kecilku,” katanya.

Celia Maria Cuccittini Oliveira de Messi yang duduk di belakang kemudi Volkwagen tua itu tak lain adalah ibunda Lionel Messi –bintang Barcelona. Ia tinggal di Rosario, sebuah kota dengan banyak rumah kumuh di Provinsi Santa Fe, sekitar 300 kilometer dari Buenos Aries, Ibu Kota Argentina. Di sini, kehidupan Celia tak berubah.

Ia tinggal bersama tiga anaknya yang lain: Rodrigo, Matias, dan Maria Sol. Marcela, adik Celia yang paling kecil, sesekali juga datang menginap. “Kami tinggal di kota yang sama di mana kami lahir, di rumah yang sama, dan kami tidak ingin pindah ke tempat lain. Kami tidak ingin melupakan asal-usul kami.”

Celia bukan tak tahu jika Leo, panggilan sayangnya untuk Messi, bergaji tak kurang dari Rp 130 miliar per tahun. Tapi ia tak ingin hidupnya diubah oleh harta. “Aku berharap apapun yang terjadi pada pesepakbola lain yang lupa daratan karena popularitas mereka, tidak terjadi pada anak kami,” katanya dalam buku Messi: The Inside Story of The Boy Who Became a Legend.

Di langit sana, Tuhan mungkin mendengar doanya. Karena Messi memang tak banyak berubah. Setiap kali pulang ke Rosario, ia selalu menggajak sepupunya, Emanuel, menyusuri jalan San Martin. Saat banyak penduduk mulai mengerubutinya untuk meminta tanda tangan dan berfoto bersama, Leo baru ngeh bahwa kini ia seorang bintang. “Dia tidak peduli dengan ketenaran,” kata Celia.

Leo bahkan pernah kepergok sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan Corte Ingles, Barcelona, hanya memakai kaos yang biasa ia gunakan saat latihan. Ronaldinho, mantan pemain Barcelona yang memergokinya, langsung mengacak-acak rambutnya sambil berkata, “Apa kamu gila memakai pakaian seperti ini.”

“Saya hanya orang biasa yang beruntung menjadi bagian dari tim yang hebat,” kata Leo dalam kesempatan terpisah. “Hidup saya berjalan seperti biasanya. Saya bukan orang yang sering menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mewah.”

Soal makanan, seleranya juga tak berubah. The Flea, julukannya ketika kecil yang berarti Si Kutu, masih suka melahap Schnitzel –selembar daging tipis– yang dilapisi tepung roti, yang menjadi kesukaannya sejak kecil. Makanan favorit lainnya: biskuit karamel dan coklat.

Daniel Rojo, bekas pengawal pribadinya di Barcelona, juga punya cerita lain. Pria berjanggut lebat ini pernah terlibat 500 kasus perampokan bank di Spanyol. Ia mengawal Messi selama dua tahun tapi tak banyak yang bisa diceritakannya. “Karena dia sangat pendiam,” kata Rojo. “Dia tidak memiliki banyak hal untuk dijadikan topik pembicaraan.”

Messi, di mata Rojo, adalah anak manis yang tak banyak tingkah. Hidupnya lurus-lurus saja. Ia tak pernah keluyuran malam dengan mulut penuh alkohol atau bikin onar di pub. “Dia tak melakukan apa pun kecuali latihan dan bermain sepakbola dalam hidupnya,” kata Rojo.

Soal pacar, Leo pun tertutup. Rojo pernah memergokinya sedang berjalan dengan seorang gadis berambut pirang. Sebelumnya Leo tak pernah bercerita bahwa ia punya pacar. Daniel baru mengetahui gadis itu bernama Antonella Rocuzzo lewat media. Antonella ternyata teman kecil Leo ketika di Rosario. “Tidak seperti pemain lain, dia tak suka gonta-ganti pacar,” katanya.

Terhadap Celia pun Leo tak banyak bercerita tentang pacarnya. Saat Leo berlibur ke Rosario, Celia pernah tidur disampingnya sambil menggoda. “Apapun akan dilakukan para perempuan di luar sana untuk bisa berbaring di sampingmu seperti ini.” Saat itu, kata Celia, Leo hanya menjawab, “Mama, jangan bercanda..”

Tapi Leo sebenarnya tak lugu-lugu amat. Ia, misalnya, punya tato di punggung kirinya. Namun Leo selalu menyembunyikan tato tersebut. Sehingga Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis, pun sempat tertipu saat memujinya, “Dia bahkan tidak memiliki tato. Dia adalah pemain terbaik impian semua pesepakbola.”

Tato di punggung kiri Leo itu bergambar seorang wanita berahang padat dengan rambut hitam tergerai hingga ke bahu. Wanita itu tak lain adalah Celia. “Yang terpenting baginya (ibu) adalah kebahagiaanku,” kata Leo. “Kami sangat dekat dan ia sering menggodaku.”

Langit sudah gelap ketika Celia menghentikan volkwagennya di Jalan Buenos Aries. Ia menurunkan kaca jendela lalu menunjuk General Las Heras, sebuah gedung tempat Leo kecil pernah bersekolah. “Leo bukan seorang siswa yang baik,” kata Celia mengingat. “Dia agak malas.”

MARCA | HUFFINGTONPOST | DW
dimuat di koran tempo edisi 14 Oktober 2012
sumber foto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: