Skip to content

Antiklimaks Fatwa Zakat

October 2, 2012

Ruang kelas yang disulap menjadi tempat pembahasan fatwa pajak itu mendadak sunyi ketika perwakilan Nahdlatul Ulama dari Sumatera Selatan, Muhammad Mahfuds, mengacungkan tangan.

“Maaf Pak Kyai, pandangan kami tidak sama,” katanya seraya menatap Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Masdar Farid Masudi, yang menjadi pembicara utama di forum ini. “Pak Kyai punya dalil, tapi kami pun punya dalil. Kali ini dalil kita berseberangan.”

Kyai Masdar menganggukkkan wajahnya beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum. “Memang pemahaman itu tergantung kecerdasan,” katanya dengan nada bergurau. “Tapi petunjuk itu soal hidayah.”

Mendengar itu, sejumlah kyai langsung tersenyum. Ketegangan yang semula memenuhi ruangan pun perlahan mencair. Sejak beberapa jam lalu para kyai dari berbagai daerah ini terlibat perdebatan soal pajak.

Berbagai pertanyaan seperti apakah pajak bersifat wajib, apakah pajak sama dengan zakat, dan bahkan perlukah kita memboikot pajak muncul dalam diskusi yang digelar dalam Musyawarah Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, pertengahan September 2012.

Isu pajak menjadi sangat seksi karena banyak duit pajak yang dikorupsi. Bahkan Ketua PBNU, Said Aqil Sirad, sebelum pertemuan alim ulama ini digelar, telah melemparkan wacana pemboikotan pajak.

“Di Islam tidak ada kewajiban membayar pajak. Tapi pajak menjadi wajib karena kami mengikuti pemerintah. Persoalannya, kalau duit pajak kemudian banyak dikorupsi, apakah membayar pajak akan tetap menjadi kewajiban?” kata Said.

Untuk menjawab pertanyaan inilah maka para kyai itu berkumpul. Namun merumuskan fatwa tentang zakat ternyata alot. Untuk definisi pajak saja, para kyai itu terbelah.

Kyai Sarkowi Abdul Somad dari Aceh, Ahmad Azhar dan Syofrudin dari Jawa Timur, serta Asnan Ritonga dari Medan menganggap kata pajak tak ada dalam terminologi Islam. “Sebab tak ada satu dalil pun, baik di hadis maupun Al Quran, yang menyebut pajak,” kata Mahfuds. “Karena tidak ada dalam Islam, maka kami tidak bisa membahas soal pajak.”

Kyai Masdar mengakui jika kata “pajak” dicomot dari bahasa Jawa, yakni ‘pajek’. Kata ini tidak ditemukan dalam Al Quran maupun hadis. Tapi Islam mengenal pajak dalam bentuknya yang lain: zakat. “Ini sama dengan sembahyang tak ada dalam Al Quran,” kata Kyai Masdar. “Adanya shalat.”

Karena itu, meskipun istilah pajak tidak ditemui dalam Al Quran dan Hadis, bukan berarti tak bisa dibahas. Karena ada cantolan yang paling dekat dengan pajak, yakni zakat. “Secara subtansi zakat ini mirip pajak,” katanya.

Karena itu Kyai Masdar meminta pembahasan tentang pajak dilanjutkan. Sebab mereka perlu membuat fatwa untuk menyikapi amburadulnya pengelolaan pajak, mulai dari peruntukkannya yang tak jelas hingga pengelolaannya yang tak transparan.

Pengelolaan pajak, kata dia, seharusnya meniru zakat. Masdar menyebutkan ada 8 golongan yang berhak menerima zakat, diantaranya adalah kaum dhuafa dan fakir miskin. Adapun pengelola zakat, yakni amil zakat, hanya memperoleh sedikit saja.

“Seharusnya konsep ini ditiru agar duit pajak digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi kenyataannya saat ini sebagian besar duit pajak digunakan buat membiayai pegawai negara. Sehingga negara, sebagai amil pajak, mengambil lebih banyak dibanding rakyat.”

Perdebatan yang berlangsung selama 4 jam itu pada akhirnya gagal merumuskan fatwa. Para kyai itu hanya sepakat memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Isinya tuntutan agar pengelolaan dan transparansi pajak dibenahi. Mirip tuntutan di spanduk-spanduk pinggir jalan.

Bagian menariknya justru setelah perdebatan usai. Beberapa peserta yang hampir semuanya memakai kain sarung itu, satu per satu mencium tangan Kyai Masdar. Dari sini saya baru ngeh jika mencium tangan seorang kyai ternyata tak berarti tunduk dan patuh.

Istilah ‘samina wa atona’ yang berlaku di kalangan Nahdliyin, yang artinya kami dengar dan kami taat, ternyata masih ada kelanjutannya, yakni: setelah kami berpikir..

DW

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: