Skip to content

Jalan Sunyi Para Santri

October 1, 2012


Di seberang sungai itu, waktu seperti bergerak surut. Tak ada suara televisi, radio, dering telepon selular, apalagi bising knalpot kendaraan. Hanya sesekali terdengar lantunan ayat-ayat suci yang timbul tenggelam diantara gerujuk air pancuran.

Hari-hari memang berjalan sunyi di Pondok Pesantren Benda Kerep, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Cirebon. Bahkan suara azan pun hanya terdengar sayup-sayup. Maklum, tak boleh ada pengeras suara di masjid. Keheningan memang dijaga ketat di pondok yang berusia lebih dari dua abad ini.

“Untuk santri kami larang membawa telepon selular,” kata pengelola pondok, Mohammad Miftah, saat ditemui dua pekan lalu. “Kami ingin mereka konsentrasi pada pelajaran.” Selain telepon selular, Pengelola pondok juga mengharamkan televisi dan radio.

Lokasi Pondok Pesantren Benda Kerep sebenarnya tak jauh dari pusat kota Cirebon. Dengan sepeda motor, waktu tempuhnya hanya sekitar 40 menit. Namun akses menuju pondok membuat kening berkerut. Sebab, untuk masuk ke sana harus menyeberangi sungai selebar 5 meter. Persoalannya, tak ada jembatan di atas sungai itu!

Antara tepi sungai yang satu dengan tepi lainnya hanya dihubungi petak-petak batu yang disusun bersisian di dasar sungai. Jarak antar petak-petak batu itu sekitar 40 centimeter. Sehingga praktis tak bisa dilalui sepeda motor, apalagi mobil.

Pijakan batu-batu itu pun hanya bisa dilewati ketika sungai kering. Jika sedang meluap, penyeberang bisa terseret arus. Paling sial, baju dari bagian dada ke bawah akan basah kuyup diterjang air.

Sebenarnya ada jalur lain, yakni melalui desa Lebak Ngok. Namun jaraknya lumayan jauh, sekitar 4 kilometer. Jalur ini hanya dipakai jika kondisi darurat, seperti ketika air sungai tak surut-surut sementara santri butuh membeli bahan makanan di luar desa.

Pengelola pondok sengaja tak membangun jembatan di atas sungai itu. Sebab jembatan dianggap akan membawa masuk pengaruh luar ke dalam pondok kemudian merusak “kesunyian” yang telah berjalan ratusan tahun.

“Mbah Soleh berwasiat supaya tak ada jembatan di sungai itu. Mungkin hikmahnya agar pesantren dan santrinya tidak terkontaminasi pengaruh luar,” kata Miftah. Mbah Soleh yang dimaksud adalah Muhammad Soleh, kakek buyutnya yang mendirikan pondok ini pada tahun 1862.

Tanpa jembatan, praktis satu-satunya cara menuju pondok hanya dengan berjalan kaki, itu pun harus menunggu sampai sungai surut. Tak mengherankan jika Pondok Pesantren Benda Kerep seperti terputus dari dunia luar. Mereka mengisolasi diri.

Tak aneh juga jika kehebohan film Innocence of Muslims, film yang dinilai menghina Nabi Muhammad, tak sampai ke sini. Maklum, tak ada televisi, radio, loper koran, apalagi internet. Para santri pun terlalu sibuk mengaji.

Aktivitas para santri di sini memang hanya mengaji, mengaji dan mengaji. Tak ada hari tanpa mengkaji kitab. Semua kitab fikih dilahap. Selain itu, mereka juga mempelajari tata bahasa Arab, membaca Al Quran, serta menghafalkan hadis. Di luar waktu-waktu itu mereka tenggelam dalam amalan tarekat.

Pengajian yang digelar menggunakan sistem sorogan: para santri putra duduk melingkar sambil mendengarkan sang kyai yang duduk di tengah. Semua duduk lesehan di ruang terbuka seluas sekitar 8X20 meter.

Semua santri pria, termasuk yang masih cilik, tak boleh memakai celana panjang. Mereka diwajibkan memakai sarung dan peci selama di lingkungan pondok. Aturan ini juga berlaku bagi 10 pengajar pria. Sementara santri-satri putri memakai jilbab.

Di sini mata pelajaran matematika, sosiologi, fisika, dan pelajaran umum lainnya tak diajarkan. Para santri hanya belajar ilmu-ilmu agama, mulai dari tauhid, fikih, hingga tasawuf.

Khusus untuk santri cilik, mereka mendapat pelajaran membaca dan menulis huruf latin. Setelah itu, mereka bergabung dengan satri-santri lain menguyah kitab-kitab agama, seperti kitab kuning. “Kami memang hanya mengajarkan agama di sini.”

Di pondok ini juga tak mengenal sistem tahun ajaran baru. Santri baru bisa masuk kapan saja. Uang muka, seikhlasnya. Biaya bulanan pun hanya dipatok Rp 10 ribu. Saat ini total ada 215 santri pria dan 107 santri putri yang mondok. Saat lulus nanti, mereka juga tak mendapat ijazah.

Pondok Pesantren Benda Kerep memang unik. Mereka tak tak punya gerbang masuk dan tak ada tembok yang mengelilingi pondok. Para santri berbaur dengan penduduk sehingga kondisinya lebih mirip desa santri. Ada 115 kepala keluarga yang tinggal di “desa santri” ini, mereka tersebar di 4 rukun tetangga. Tak satu pun rumah memiliki televisi atau radio.

Keunikan Benda Kerep juga terlihat dari sikap mereka terhadap “pengaruh luar”. Saat pemilihan presiden dan wakil presiden 2009 lalu, misalnya, pengelola pondok melarang para santri dan penduduk di sana datang ke tempat pemilihan suara lantaran harus mencelupkan jari mereka ke tinta berwarna biru. Tinta ini, menurut Miftah, melapisi kulit secara rapat sehingga air tak bisa masuk ke pori.

Secara fikih, menurut Miftah, tak masuknya air ke dalam pori-pori membuat wudhu tak sah. Kalau wudhu tak sah, solat pun tak diterima. Mereka lalu mengusulkan agar tinta diganti kunyit. Usul ini sempat menuai kontroversi, namun akhirnya diterima. “Warna kunyit lebih tahan lama,” kata Miftah. “Petani-petani kunyit juga akan diuntungkan.”

Soal pajak, mereka juga “selangkah di depan”. Ketika para kyai sibuk membahas kewajiban membayar pajak di Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, pertengahan September ini, Pondok Pesantren Benda Kerep jutru telah lama tak membayar pajak. “Kami hanya menyumbang ke kelurahan. Besarnya seikhlas kami.”

Mereka juga menolak program imunisasi pada bayi dan program keluarga berencana. Imunisasi ditolak lantaran bahan dasar vaksin masih dipertanyakan. Pengurus pondok pernah meminta Majelis Ulama Indonesia kota Cirebon mengirimkan bahan dasar pembuatan vaksin, namun sampai saat ini permintaan itu tak dipenuhi.

Adapun program keluarga berencana tak mutlak ditolak. Mereka mengharamkan program keluarga berencana jika program itu digunakan oleh keluarga yang takut tak bisa menafkahi si anak. “Itu berarti menyangsikan Allah sebagai pemberi rizki,” kata Miftah. “Tapi kalau niatnya hanya untuk menjaga jarak antara satu anak dengan anak berikutnya, itu tidak masalah.”

Kendali pondok pesantren Benda Kerep sebenarnya bukan di tangan Miftah,melainkan ada di ayahnya yang bernama KH Ahmad Faqih Abu Bakar. Namun Abah, begitu KH Ahmad Faqih kerap disapa, usianya telah 92 tahun. Ia hanya sesekali ke luar rumah. Sehingga praktis Miftalah yang menjalankan roda pesantren. Miftah pun, seperti Abah, menerapkan “jalan sunyi” untuk para santrinya.

Sebuah jalan hidup yang asing karena hampir semua orang di dunia ini merasa tak bisa hidup tanpa televisi, radio, komputer, dan blackberry. Kesunyian yang semula begitu asing namun perlahan membuat para santri kerasan.

Seperti yang dialami Ahmad Syafiq. Pemuda berusia 25 tahun ini sudah hampir 7 bulan tinggal di Benda Kerep. Sebelumnya ia sempat mondok di salah satu pesantren di Banten. Namun oleh kyai di sana, ia disuruh melanjutkan pelajarannya ke Benda Kerep. “Di sini memang sepi. Nggak ada hiburan juga. Tapi karena itu saya lebih bisa fokus belajar,” katanya.

Dalam kesunyian itu sesekali juga terselip aroma mistis. Syafiq mengisahkan pernah ada santri yang diam-diam membawa televisi kecil ke pondok. Tapi saat disetel, televisi itu tak bisa nyala. Santri yang kepergok itu kemudian dihukum. “Kyai dan ustad-ustad di sini nggak mau lagi ngomong sama dia. Didiemin seperti ini lebih menyakitkan dibanding diomelin sekalian.”

Di tengah pondok, sebuah masjid tua yang usianya sama panjang dengan usia pesantren, masih berdiri kokoh. Para santri dan warga mengeramatkan masjid ini sehingga diperlukan ijin khusus dari pengelola pondok untuk memotretnya. Namun masjid itu sendiri sebuah potret, tentang masa lalu yang tak tergerus waktu.

DW
*versi lain cerita benda kerep baca Majalah Tempo edisi 24-30 September 2012

2 Comments leave one →
  1. almi zaenal mustopa permalink
    April 22, 2014 6:44 pm

    bagus (y)

  2. Diandri Kusumah Agus permalink
    April 7, 2015 9:52 am

    SubhanaALLOH..❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: