Skip to content

Akhir Keruh Sang Pengayuh

September 25, 2012

Wajah Lance Edward Armstrong memerah seusai menuntaskan balap sepeda amatir bertajuk “Power of Four Bike” di Pegunungan Aspen, Colorado, akhir pekan lalu. Peraih tujuh gelar Tour de France ini hanya mampu finish di posisi kedua, kalah cepat lima menit dari Keegan Swirbul, remaja tanggung berusia 16 tahun. Namun tak ada gurat kecewa di wajahnya. Sebaliknya, ia justru tersenyum.

“Luar biasa. Dia baru 16 tahun dan saya finish di belakang bokongnya. Masa depannya sangat cerah,” kata Armstrong sambil mencomot sepotong burger. Sejumlah penggemar telah menunggunya di base kereta gantung yang biasa digunakan untuk mengangkut pemain ski ke puncak bukit. Mereka lalu berfoto bersama. Tak tampak jika pria berusia 41 tahun pada 18 September nanti ini baru saja mengayuh sepeda sejauh 58 kilometer.

Nasib Armstrong sedang diujung tanduk. Dua hari sebelum ia terbang ke Aspen, badan anti doping Amerika Serikat (USADA) melucuti semua gelar juara yang diraihnya sejak 1 Agustus 1998, termasuk gelar juara Tour de France yang ia sabet secara berturut-turut sejak 1999-2005. Ia juga dilarang mengikuti balap sepeda profesional seumur hidup.

Ini menjadi keputusan paling dramatis sepanjang sejarah USADA. Sebab Armstrong satu-satunya pebalap sepeda yang mampu menghimpun tujuh gelar Tour de France, gelar paling bergengsi di dunia kayuh sepeda cepat, secara berturut-turut. Ia menjelma menjadi ikon balap sepeda, sekaligus simbol perlawanan terhadap kanker –ia divonis menderita kanker sejak 1996. “Jangan menangisi saya. Yang terpenting saat ini saya bisa tetap fit dan menikmati pemandangan indah ini.”

Kabar Armstrong menggunakan doping sebenarnya telah lama beredar. Pada 2004 lalu, mantan rekan Armstrong saat masih memperkuat tim Motorola, Stephen Swart, pernah berkicau di mingguan The Sunday Times yang terbit di Ingggris. “Kami biasa menyuntikkan EPO melalui jari lalu berlari ke pemanggang roti untuk meningkatkan hematrocit (volume sel darah merah),” katanya. EPO atau synthetic erythropoietin termasuk jenis doping darah yang digunakan untuk menggenjot produksi sel darah merah.

Setahun kemudian giliran harian olahraga Prancis, l’Equipe, yang menuding Armstrong menggunakan doping. Mereka menurunkan laporan sepanjang 4 halaman pada 23 Agustus 2005, memaparkan adanya kandungan EPO dalam sampel urine Armstrong yang diambil selama tour de france 1999. Di halaman terdepan, l’Equipe menulis dengan huruf-huruf besar: “Kebohongan Armstrong”.

Isu doping terus bergulir. Kali ini giliran Floyd Landis, rekan Armstrong di tim US Postal, tampil. Pada akhir April 2010 lalu ia melayangkan surel ke para petinggi USADA dan Presiden Balap Sepeda Amerika Serikat, Stephen Johnson. Dalam surel itu, Landis mengaku menggunakan EPO. Ia juga menyebut sejumlah pebalap sepeda lain, termasuk Armstrong, ikut mengkonsumsi barang haram tersebut.

Saat tes doping digelar, Landis memang terbukti menggunakan EPO. Gelar juara Tour de France 2006 yang diraihnya kemudian dicabut. Adapun Armstrong selamat. Ia mendapat pembelaan dari Ketua Asosiasi Balap Sepeda Internasional (UCI), Pat McQuaid. Pat menuding Landis berupaya menjatuhkan Armstrong. “Ia ingin membalaskan kekecewaannya terhadap mantan rekannya di tim US Portal,” kata Pat.

Namun Tyler Hamilton, pebalap sepeda dari tim US Postal lainnya, membela Landis. Saat diwawancara stasiun televisi CBS 60 minutes pada Mei 2011, Hamilton bersumpah jika Armstrong menggunakan EPO. “Saya melihat EPO di lemari pendinginnya. Ia menyuntikannya lebih dari satu kali,” katanya. Mantan tukang pijat Armstrong, Emma O’Reilly, juga mengaku pernah diminta membuang bekas jarum suntik, yang diduga dipakai Armstrong untuk menyuntikkan EPO ke tubuhnya, selama Tour De France 1999.

Departemen Obat dan Makanan Amerika Serikat pimpinan Jeff Novitzky sebelumnya juga pernah menginvestigasi kasus Armstrong. Jeff menemukan rasio kandungan testosterone-epitestosterone Armstrong selama periode 1993-1996 lebih tinggi dari normal, yaitu di atas 6.0-to-1. Normalnya, rasio testosterone-epitestosterone hanya 1-to-1. Doping membuat kandungan testosterone-epitestosterone melonjak hingga 6.0-to-1.

Namun Armstrong tak pernah dilarang tampil lantaran terbukti mengkonsumsi doping. Sepanjang 25 tahun karirnya ia telah menjalani tak kurang dari 500 kali tes doping yang dilakukan sejumlah lembaga anti doping. Tak satu pun yang menyatakannya positif. 24 tes doping yang dijalaninya selama periode 2008-2009 juga berakhir negatif. Ia lolos berkali-kali. “‘Saya tidak pernah gagal saat tes doping. Tidak ada kasus bagi saya.”

Meski begitu langkah USADA memperkarakan Armstrong tak surut. Bermodal setumpuk kesaksian dan sejumlah hasil tes, mereka lalu menggugat Armstrong pada Juni 2012 lalu. Mereka mengklaim memiliki sedikitnya 10 kesaksian plus sampel darah dan urine Armstrong yang diambil selama periode 2009-2010.

Armstrong, yang sejak awal terus membantah mengkonsumsi doping, tak tinggal diam. Pada Juli 2012 ia menuntut USADA ke pengadilan Federal Amerika Serikat meminta USADA mencabut semua tuduhan bahwa dirinya menggunakan doping. Ia menilai semua tudingan itu hanya omong kosong. Namun Hakim Federal AS, Sam Sparks, menolak tuntutannya.

Sparks menilai gugatan Amstrong terhadap USADA bukan gugatan hukum, melainkan hanya strategi kehumasan untuk membangun opini bersih dirinya. Pengadilan, pada, pada 20 Agustus 2012, kemudian memberi waktu tiga hari kepada Armstrong untuk menjawab gugatan USADA.

Tiga hari kemudian Armstrong pun tampil. Namun, alih-alih membela diri, ia justru mengibarkan bendera putih. Mantan kekasih musisi Sheryl Crow ini menyatakan dirinya tak akan lagi membela diri, tapi pada saat yang sama juga menolak tudingan menggunakan doping. “Ada satu titik dalam hidup seseorang ketika ia harus mengatakan ‘Cukup adalah cukup.” katanya. “Bagi saya, waktu itu adalah sekarang.” Sepuluh tahun lebih menangkis semua tudingan agaknya membuatnya kelelahan.

Sehari setelah “bendera putih” berkibar, USADA langsung melucuti semua gelar yang diraih Armstrong sejak 1 Agustus 1998, termasuk 7 gelar Tour de France yang diraihnya secara beruntun sejak 1999-2005. Mereka juga melarang Armstrong bertanding seumur hidup. “Memang menyedihkan dan sangat menyakitkan,” kata juru bicara USADA, Anne Skinner. “Namun itulah harga yang harus dibayar. Ini akan jadi peringatan bagi atlet yang bersih dan generasi atlet berikutnya.”

Satu-satunya harapan Armstrong kini tinggal dari Asosiasi Balap Sepeda Dunia (UCI), yang belum menyatakan sikap atas sanksi USADA terhadapnya. Namun agaknya itu tak penting lagi baginya. Sebab pertarungan lain sudah menunggu: melawan kanker yang terus menggerogoti sebagian otak dan paru-parunya. Monster mematikan, yang menyusup ke tubuhnya sejak 1996 itu, pernah mencapai stadium 3. Ia pernah menjalani dua kali operasi dan empat periode kemoterapi. “Mungkin saya sudah mati sedikit.”

Di Aspen, setelah menuntaskan seri “Power of Four Bike”, seharusnya ia masih punya satu agenda balap sepeda lagi, namun ia lebih memilih beristirahat. Perjuangannya di balap resmi sepeda juga telah tuntas. Pembalap sepeda asal Belanda, Hennie Kuiper, pernah berkata kepadanya, “Dalam kayuhan di ketinggian Alpen, salju yang putih pun lama-lama tampak berubah jadi hitam.”

Inilah perjuangannya berikutnya: memulihkan nama baik agar torehan emas prestasinya tak tercoreng noda hitam.

REUTERS | AFP | Sports Illustrated | TELEGRAPH | DW
versi cetak: Majalah Tempo edisi 3-9 September 2012
foto: time

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: