Skip to content

Merindu Hujan

September 14, 2012

Seorang petani berjongkok di pematang, matanya nanar menatap sepetak sawahnya yang kini kering kerontang. Ah, kemarau terlampau panjang, sampai dia pun tak lagi ingat kapan hujan terakhir datang.

Tiba-tiba ia teringat kodok-kodok bangkong yang biasa menyusup di batang-batang padi bersama belut dan sesekali ular sendok. Ke dalam celah-celah tanah yang menganga lebar itukah mereka pergi?

Pada hujan yang tak kunjung datang ia perlahan memahami betapa rapuhnya kehidupan, namun betapapun rapuhnya kehidupan, ia tetap merindukannya.

_DW_
Cirebon, 14 September 2012

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: