Skip to content

Para Penjaja Lalat

August 3, 2012

Lalat itu hinggap lagi di hidung Sultan Mansyur. Keruan saja penguasa Abbasiyah itu memaki-maki. Ia mengibaskan tangan berkali-kali. Tapi lalat itu selalu berhasil hinggap di hidungnya lagi.
“Hai Jafar, untuk apa Tuhan menciptakan lalat yang menjijikkan seperti ini?” katanya berang kepada Imam Jafar Shadiq yang sejak tadi hanya duduk melihatnya.
“Untuk menghinakan orang sombong,” sahut Imam Jafar.
Wajah Sultan memerah. Ia bisa saja menepuk tangan lalu beberapa penjaga istana akan datang. Satu kedipan matanya cukup menjadi penanda untuk menyeret Sang Imam ke tiang gantungan. Tapi Sultan menahan diri.
“Jafar,” Sultan berkata sambil melotot, “Kenapa kau baru mengunjungiku setelah aku undang. Kenapa tidak atas inisiatifmu sendiri? Apakah kamu ingin memberontak? Bukankah ulama-ulama lain berlomba-lomba mencium tanganku bahkan sebelum aku dilantik jadi khalifah?”
Imam Jafar menatapnya dingin. “Untuk apa aku mengunjungimu?” katanya. “Tidak ada urusan di dunia ini yang bisa saya harapkan darimu dan tidak ada urusan di akhirat nanti yang bisa saya petik darimu. Tidak ada kenikmatanmu yang kami syukuri dan tidak ada kesusahanmu yang kami sesali.”
Sultan tercengang. Beberapa saat ia merenungkan kalimat tersebut, namun belum sempat otaknya memahami, Imam keburu pamit.
“Kenapa kau tidak menjadi sahabatku saja agar bisa menasihatiku?” katanya sebelum tubuh Sang Imam hilang dibalik pintu.
Imam Jafar berhenti sejenak. Ia menoleh lalu menjawab, “Siapa pun yang menginginkan dunia, ia tidak akan menasehatimu. Dan siapa saja yang menginginkan akhirat, ia pun tidak akan menjadi temanmu.”
Imam kemudian melangkah pergi. Sultan menggebrak kursi. Tak lama kemudian, Imam tewas diracun.
Imam Jafar Shadiq merupakan 1 dari 12 Imam Ahlul Bayt. Dalam darahnya mengalir darah kenabian. Ia ulama pejuang yang sebelum meninggal pernah berkata, “Orang yang paling celaka di hari kiamat nanti adalah ulama yang menjual akhirat dengan kesenangan duniawi orang lain.”
Di negeri ini, saya tak pernah dengar ada kisah seperti ini. Seorang teman semasa SMA dulu pernah bilang kalau ulama-ulama di sini, terutama yang sering muncul di layar tivi, tak lebih dari penjaja agama. Tapi, bagi saya, itu lebih baik dibanding ulama yang menjajakan nama calon gubernur di masjid-masjid.

Mereka bahkan lebih menjijikkan dari lalat. Selamat Berbuka!

_DW_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: