Skip to content

Majelis Togel

July 29, 2012

“Ikhlas itu seperti buang air besar, kalian melepasnya tanpa berharap –maaf– tahi itu akan balik lagi,” begitu katanya suatu malam di beranda rumah. Singkat, jelas, dan agak kasar. Begitulah gayanya memberi ‘petuah’. Tapi definisi ikhlasnya itu tepat menembus otak kami yang bebal.

Ia memang bukan jenis ustad yang suka mengutip-ngutip ayat atau hadis. Baginya, ayat atau hadis cukuplah diresapi dan dimaknai substansinya, tak perlu diobral ke publik.

Karena itu, kami menyebutnya ustad mbeling. Beberapa diantara kami bahkan ada yang memberinya gelar: Ajengan Al-Bajidud Al Yongkray. Gelar yang tak satupun dari kami ada yang tau artinya.

Menjelang sahur ini saya merindukannya. Biasanya kami suka menghabiskan waktu semalaman untuk ngobrol, sambil sesekali berdiskusi tentang Tuhan dan hal-hal yang belum selesai..ups maksudnya tentang Tuhan dan hal-hal yang ‘lahir’ dari-Nya.

Ia sosok yang ajaib, tak hanya dari pemikiran, tapi juga dari hal-hal yang lahir dari keberadaannya. Mungkin ia sejenis wali atau mungkin juga versi lain dari Nasrudin Hoja.

Saat itu kami punya majelis kecil, semacam majelis zikir. Tapi jangan dibayangkan yang duduk di sana orang-orang berjenggot dan bersurban. Hanya kami, anak-anak muda, yang kebetulan lagi bener.

Ada Kubil yang sekilas mirip Jengis Khan: matanya sipit dan tubuhnya gempal pendek. Tenaganya dua setengah kali lebih kuat dari tenaga kerbau. Ia preman di kampung kami. Tapi saat zikir, ia sering jadi yang paling pertama menangis.

Ada juga Beno. Remaja belasan tahun yang punya tato di betis kirinya. Ketika yang lain dikasih wiridan ayat kursi, dia cuma disuruh baca ‘alif’. “Ini karena hati gue yang paling lurus, Man, kayak huruf alif,” kata dia sambil cengengesan.

Selain itu ada juga satiri yang sukanya pakai kain sarung. Ketika yang lain sedang asik zikir, Satiri ini suka mengibaskan sarungnya. “Enak, adem,” katanya. Ternyata, di balik sarung itu, ia hanya mengenakan celana dalam.

Tak cuma membernya yang unik, asal mula majelis ini juga ajaib: dari Togel!

Ini serius. Berawal dari teman saya yang ustad itu. Suatu malam di tepi sungai, ia memanggil ‘sesuatu’. Dari ‘sesuatu’ itu lantas ia mendengar bisikan: empat angka.

Paginya, ia bergegas memasang pertanda alam itu. Hasilnya, Alhamdulillah. Tembus!

Duit hasil togel itulah yang kami gunakan untuk sowan ke seorang ajengan di Sukabumi. Oleh ajengan itu lantas masing-masing kami dikasih wirid. Nah, wirid itulah yang kemudian kami zikirkan.

Silahkan berdebat soal status majelis yang lahir dari togel ini. Tapi kehadiran ustad satu ini memang memberi warna lain. Saya menyukainya karena banyak yang bisa saya pahami darinya. Ia bisa menyampaikan hal-hal berat dengan cara yang kocak.

Suatu malam usai zikir, misalnya, ia kami dapati sedang tidur. Dan ini bukan satu dua kali saja. Hampir setiap zikir, ustad ini pasti tertidur. Beberapa dari kami biasanya suka menegur, tapi selalu kecele. Karena ia seperti bajaj yang jago ngeles.

“Zikir itu efeknya menenangkan hati. Dan orang yang hatinya ga tenang, pasti ga bisa tidur. Jadi kalo gue tidur sementara kalian zikir, itu karena gue dah sampe tahap tenang. Jadi berzikirlah kalian terus biar sampe tahap ini,” begitu katanya.

Tapi ia juga yang mengingatkan kami agar niat kami ga kepeleset. Karena bukan rahasia kalo ayat tertentu yang dibaca dengan hitungan tertentu bisa menghasilkan kekuatan gaib tertentu.

“Kalo zikir cuma biar bisa terbang buat apa, burung pun bisa terbang. Buat kebal bacok, batu pun kebal,” katanya.

Ia juga kritis dan cenderung kontroversial. Ia, misalnya, mengkritik Pak Haji yang setiap menjelang subuh selalu baca Quran dengan TOA. “Berisik,” katanya. Menurutnya, baca Quran itu cukup didengar telinga sendiri.

Ia juga mengkritik (alm) Mas Pur, tetangga sebelah, yang terlalu rajin shalat sunnah di masjid. “Mas, jadi orang jangan terlalu bener, nanti rugi sendiri,” tegurnya suatu subuh.

“Maksudnya?” Mas Pur balik bertanya.

“Kalo salat wajib, emang kudu di masjid, rame-rame. Karena itu untuk syiar juga. Tapi kalo salat sunnah itu baiknya sendirian di tempat yang sepi. Bukan apa-apa mas, kalo salat sunnah di masjid, takutnya riya.”

Mas Pur orang yang lugu. Ia pun masuk lagi ke rumah dan -mungkin- menunaikan salat sunnahnya di dalam sana. Dua tahun kemudian, Mas Pur dipanggil Tuhan (semoga Allah menjamunya dengan baik di sana).

Malam ini beberapa tahun telah berlalu. Segala sesuatunya berubah. Aku bahkan tak lagi hapal rangkaian zikir itu. Tapi, lagi-lagi, ia membuatku tersenyum. “Allah nggak kayak SBY yang serba protokoler. Pake pembukaan atau nggak, zikir ya zikir aja. Karena ketika zikir itu yang penting bukan bacaannya lagi, tapi kecondongan hati.”

_DW_
Ahad 29 Juli 2012

4 Comments leave one →
  1. July 29, 2012 8:42 pm

    tulisannya bagus..🙂

  2. muhatib permalink
    October 20, 2013 8:02 pm

    aslm.pak ustadz.artikel’y bgus,kocak n mexenangkan,ad s’suatu yg mnarik ht sy,klo bleh blajar dzikir ap yg dbc hingga bs tmbus 4 angka? Mhn sy ajari.ne email sy: mkhotib2@gmail.com mksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: