Skip to content

Ketika Agama dan Bola Berkompromi

July 22, 2012

Saat masih melatih Inter Milan, Jose Mourinho pernah memaki salah seorang pemainnya, Sulley Muntari, yang ngotot berpuasa sehingga performanya melorot. Ia menyalahkan Ramadan yang membuat stamina pemain kedodoran.

“Dalam cuaca panas seperti ini dia seharusnya tidak berpuasa. Ramadan tak datang di waktu yang tepat, terutama bagi para pemain yang tetap harus bermain,ā€ katanya ketika itu.

Bagi Mou pilihannya hanya dua: tetap berpuasa kemudian tampil buruk atau segera berbuka karena pemain dibayar untuk bermain. Ramadan sama sekali bukan alasan. Gelandang asal Ghana itu pun ditarik di menit ke-30.

Ucapan Mourinho rupanya sampai ke telinga Pimpinan Organisasi Islam Italia (UCOII), Mohamed Nour Dachan, yang langsung bereaksi keras. “Sebaiknya Mourinho jangan banyak bicara.ā€ kata Dachan.

Tapi Mou memang selalu banyak bicara. Itu sebabnya dia kerap dijuluki ‘Si Mulut Besar’. Tapi ucapan “Ramadan tak datang di waktu yang tepat” mewakili persoalan sejumlah pemain sepak bola muslim di Eropa.

Karena Ramadhan memang kerap datang di pertengahan kompetisi, ketika kinerja para pemain justru sedang digenjot agar tak ketinggalan poin dari klub lawan. Dan kasus Sulley Muntari bukan yang pertama.

Tiga pemain muslim di divisi 2 Jerman, Coulibaly, Pa Saikou Kujabi dan Oualid Mokhtari, pernah disemprot gara-gara keukeuh berpuasa di tengah kompetisi pada 2009 lalu. Klub mereka, FSV Frankfurt, sampai harus memberikan peringatan formal untuk ketiganya.

FSV Frankfurt juga membawa persoalan ini ke Federasi Sepak Bola Jerman (DFB). DFB kemudian menggandeng Pusat Dewan Muslim Jerman untuk duduk bersama. Pada 2010, mereka sepakat: pemain dihalalkan tak berpuasa di hari pertandingan selama kompetisi.

“Pesepakbola muslim profesional dapat menjalankan ibadah puasa saat jeda pertandingan dan mereka dapat melanjutkan ibadah puasa Ramadan di hari yang lain,” kata Aiman Mazyek, Sekretaris Jenderal Pusat Dewan Muslim Jerman. “Menjaga kesehatan adalah salah satu unsur penting dalam Islam.”

Fatwa ini merujuk pendapat Universitas Al-Azar di Kairo dan Majelis Eropa untuk Fatwa dan Penelitian, dua organisasi penting untuk peraturan Islam. Keputusan ini sekaligus menjadi jalan tengah bagi klub dan pemain muslim.

Mourinho kini melatih Real Madrid. Di sini dia punya lima pemain muslim: Mezut Oezil, Sami Khedira, Nuri Sahin, Lassana Diarra, dan Karim Benzema. Tapi, selama di Madrid, Mou tak pernah lagi menuding Ramadan sebagai biang keladi melorotnya performa pemain.

“Seorang Muslim seharusnya memang berpuasa selama 30 hari,” kata Sami Khedira. “Tapi saya seorang atlet yang selalu dituntut untuk kompetitif, saya membutuhkan tenaga saya dan itu tidak mungkin saya dapatkan tanpa makanan.”

Musim lalu Khedira dan pemain muslim lain di Madrid memang memilih tak berpuasa. Mourinho pun senang. Fatwa Dewan Muslim Jerman menjawab dilema mereka. Pimpinan Organisasi Islam Italia (UCOII) Mohamed Nour Dachan pun sebenarnya tak perlu berang, karena semua ternyata bisa dikompromikan.

Apalagi, dibanding tahun-tahun sebelumnya, Ramadan kali datang sebelum kompetisi dimulai. Liga Premier Inggris dan La Liga Spanyol, misalnya, baru mulai bergulir 18 Agustus mendatang. Seminggu kemudian baru Serie A Liga Italia dimulai. Kali ini, Mou, Ramadan datang di waktu yang tepat.

LA REPUBLICA | GOAL | YAHOO | DW
versi cetak

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: