Skip to content

Rasisme, Lubang Tikus Sepak Bola Inggris

July 19, 2012

Beberapa hari setelah pengadilan Westminster di Inggris membebaskan John Terry dari tudingan rasisme, muncul dua kasus lain. Upaya menumpas rasisme di Inggris seperti menutup lubang tikus: saat satu lubang ditutup, lubang lain muncul di tempat berbeda.

Kasus terbaru datang dari Pemain Arsenal Emmanuel Frimpong. Ahad lalu pemain berusia 20 tahun ini menghina pendukung Tottenham Hotspur, musuh sekota Arsenal, dengan sebutan “Scum Yid”, lewat akun twitternya.

“Scum Yid” bermakna sampah Yahudi. Komentar ini ditulis Frimpong setelah perang komentar dengan para pendukung Tottenham Hotspurs, yang didominasi orang Yahudi. Frimpong semula menulis agar orang-orang pergi ke gereja di hari minggu dan memanjatkan doa untuknya.

Di luar dugaan, seorang pendukung Tottenham membalas twit tersebut dengan kecaman: “Kudoakan lengan dan kakimu patah.” Frimpong pun berang. Ia kemudian membalasnya dengan menulis: “Scum Yid”.

Posting Frimpong ini ternyata membuat manajemen Tottenham Hotspur murka. Dalam pernyataan resminya, mereka mengaku tersinggung. “Anti-Semit sungguh tidak bisa diterima. Apakah istilah tersebut digunakan dengan cara atau nada yang sengaja dimaksudkan untuk menyinggung perasaan,” tulis pernyataan resmi Spurs.

Arsenal pun segera turun tangan. Alih-alih membela pemainnya, The Gunners justru meminta Frimpong meminta maaf dan menghapus komentarnya dari akun twitter.“Emmanuel Frimpong telah diperingatkan dan telah menghapus komentar itu,” ujar juru bicara Arsenal.

Sebelumnya, kasus rasisme melibatkan pemain belakang Manchester United Rio Ferdinand. Rio, yang tak puas atas keputusan pengadilan yang membebaskan Terry dari tuntutan perbuatan rasisme terhadap Anton Ferdinand, mengolok-olok Ashley Cole dengan sebutan ‘Es Coklat” di akun twitternya.

“Sepertinya Cole akan menjadi es cokelat. Tapi dia akan selalu menjadi pemain yang mudah dibeli. Seharusnya dia malu,” tulis Rio di lini masa twitternya, Ahad, lalu. Es coklat merujuk pada “berkulit hitam di luar, tapi putih di dalam”.

Cole menjadi sasaran Rio, yang tak lain kakak kandung Anton Ferdinand, setelah pemain belakang Chelsea itu memberikan saksi yang meringankan John Terry. Namun Cole tak berniat membawa kasus ini ke pengadilan. “Ashley tidak berniat mengajukan gugatan,” kata pengacara Ashley Cole.

Cole sendiri bukan kali ini menjadi bahan ejekan. Saat gagal mengesekusi pinalti ke gawang Italia saat semi final Piala Eropa 2012, Cole dan Ashley Young dihujat seorang pengguna twitter bernama Steve.

“Ashley = nigger, belajarlah bagaimana menendang PKs (tendangan penalti), dasar monyet,” tulis Steve. Tak hanya itu, ia juga menulis jika kedua pemain berkulit gelap itu seharusnya dideportasi ke Afrika.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) merespon keras kasus ini dengan meminta kepolisian setempat melakukan investigasi. “Kami menyadari komentar rasis yang dilancarkan lewat twitter setelah pertandingan Inggris lawan Italia. Saat ini kami telah melakukan penyelidikan,” katanya.

Jika terbukti, Steve akan bernasib seperti Liam Stacey, mahasiswa Universitas Swansea, yang dipenjara selama 56 hari pada Maret lalu. Pemuda 21 tahun ini terbukti melontarkan kalimat rasis melalui akun twitternya terhadap pemain Bolton, Fabrice Muamba.

BBC | THE SUN | GUARDIAN | DW
versi cetak

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: