Skip to content

Darah Nabi

July 2, 2012

“Saya punya 100 cucu,” kata Umi terkekeh. Kami bertemu di tempat hajatan. Usianya 85 tahun. Dari rahimnya pernah lahir 16 anak. Masing-masing kemudian berbiak hingga tahun ini keluarga besar mereka genap 100. Di usianya yang sepuh beliau masih mengajar mengaji.

Umi, menurut cerita, punya darah langsung ke Kanjeng Nabi. Beberapa putranya bergelar habib. Raut wajah, postur tubuh, warna kulit, dan ikal rambut mereka memang khas orang dari gurun.

Saya bukan bagian dari yang 100 itu. Tapi ada pertalian yang membuat Umi dan saya bersaudara. Salah satu putranya menikahi bibi saya. Sehingga, bisa dibilang, beliau adalah nenek jauh; sejauh tanah Arab dari tanah Condet.

Bibiku bercerita jika sejumlah habib beken adalah kerabat dekat Umi. Bahkan habib yang terbaring d Kramat Luar Batang dan Kwitang konon masih leluhurnya. Tapi saya tak begitu terkesan. Karena hanya orang-orang putus asa yang selalu membanggakan nenek moyangnya.

Tapi saya tidak meliat kesombongan itu di wajah Umi. Nada bicaranya lembut, tatapannya matanya teduh, dan ia yang pertama menyalami saya. Ia tak seperti habib berdarah nabi lain yang angkuh menutup jalan setiap kali menggelar pengajian.

Umi pamit. Ia harus menghadiri pernikahan cucunya yang lain. Langkahnya tertatih menyusuri jalan sempit. Saya menatapnya hingga tubuh rapuh itu hilang di balik tikungan.

Ia ‘darah nabi’ yang rendah hati.

_DW_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: