Skip to content

Revolusi Catenaccio Ala Prandelli

July 1, 2012

Cesare Prandelli sempat berpikir dirinya adalah orang paling sial ketika mewarisi kursi pelatih tim nasional Italia dari Marcello Lippi Agustus 2010 lalu. Saat itu ia merasa seperti orang yang mewarisi sepetak kebun milik seorang aristrokrat yang bangkrut: tak ada sesuatu yang berharga.

Wajah tim nasional IItalia sungguh muram ketika itu. Mereka tak lolos babak penyisihan grup dalam Piala Dunia 2010. Dan yang memalukan, sebagai juara bertahan, mereka kalah dari Slovakia. Mental pemain anjlok ke titik terendah dalam sejarah sepak bola negeri pizza.

Skandal suap dan pengaturan skor di Liga Serie A, kompetisi yang bergulir di Italia, yang terjadi pada 2006 juga masih menyisakan luka. “Saya menyadari tugas pertama saya adalah merekonstruksi tim,” kata Prandelli. “Dan hal pertama yang harus saya lakukan adalah membuat tim menjadi lebih bersahabat.”

Permintaan pertama Prandelli kepada pemainnya adalah agar mereka lebih terbuka kepada publik dan jangan pelit memberikan tandangan atau menerima ajakan berfoto bersama. “Menandatangani dan berfoto bersama bukan sesuatu yang merepotkan,” katanya.

Tak hanya itu, Prandelli juga memboyong para pemainnya ke penjara di Florence. Ia seolah ingin menunjukkan seperti itulah tim nasional Italia di era Lippi: terisolasi, dingin, dan kaku.

Lippi memang kaku. Ia membuat aturan ketat bahwa pemain tak boleh tampil sembarangan di depan publik, melarang para wanita, baik pacar maupun istri, menginap di hotel pemain saat turnamen. Di masanya, tim nasional italia seperti sepasukan agen rahasia yang serba ekslusif.

Prandelli menjadi matahari yang mencairkan kebekuan itu. Secara pribadi, mantan pelatih Fiorentina ini adalah sosok yang ramah dan hangat. Secara pemikiran, dia sangat liberal. Sehingga, ketika sebagian orang Italia menganggap catenaccio sebagai skema ‘suci’, ia justru merombaknya.

Catenaccio adalah skema permainan bertahan. Strategi ini pertama kali diterapkan Pelatih asal Austria, Karl Rappan, yang menukangi Swiss pada 1930 dan 1940. Saat itu Rappan memainkan seorang sweeper yang sangat defensif tepat di depan kiper.

Italia mengenal sistem gerendel ini ketika Helenio Herrera, pelatih blasteran Argentina-Prancis, menerapkannya saat melatih Inter Milan di era 1960-an. Harrera selalu menempatkan seorang sweeper di belakang tiga pemain belakang yang berdiri sejajar.

Tugas sweeper ini menyapu bersih setiap bola yang datang ke arah gawang. Sehingga praktis catenaccio adalah jenis skema bertahan murni. Untuk menyerang, mereka mengandalkan serangan balik cepat.

Prandelli tak sreg dengan gaya ini. Ia bukan jenis orang pragmatis yang mementingkan hasil dan kemenangan. Ia justru kepincut permainan indah yang pernah diperagakan para pemain Ajax Amsterdam di era 1970-an. “Saya terinspirasi mereka, tim terbaik pada zamannya,” katanya.

Baginya tak masuk akal mengharapkan kemenangan namun disaat yang sama terus-menerus bertahan. “Menurut saya lebih baik kami kebobolan melalui serangan balik yang cepat daripada terus-menerus dibombardir lawan,” katanya.

Catenaccio pun berubah. Di tangannya permainan Italia menjadi lebih hidup dan menawan. Saat melawan Spanyol, mereka bahkan bisa menandingi jurus tiki-taka tanpa harus menerapkan catenaccio murni. “Saya ingin tim yang memiliki karakter, bukan hanya memimpikan hasil akhir,” katanya.

Italia kini memang memiliki karakter baru. Mereka tak lagi memasang gerendel di depan gawang, tapi juga mengandalan gerak cantik dan aliran bola ciamik dari lini tengah. Mirip tiki-taka, tapi dengan pertahanan yang lebih solid. Ini adalah catenaccio jilid II.

GUARDIAN | AP | DW

terbit di koran tempo 30 juni 2012

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: