Skip to content

Demokrasi Meja Judi

July 1, 2012

Jakarta sebentar lagi memilih gubernur. Wajah lima pasang calon yang bakal maju sudah nempel dimana-mana: spanduk, poster, koran, dan -satu dua kali- di layar teve. Semuanya nyengir. Siang tadi, arak-arakan pendukung juga sudah turun ke jalan. Aroma demokrasi mengebul di langit kota. Jakarta bergeliat, tapi optimisme jalan di tempat: para gubernur datang dan pergi tapi persoalan klasik kota ini tak kunjung kelar.

Foke-Ramli. Foke maju lagi dengan persoalan yang sama ketika dia terpilih dulu: banjir, macet, jalan berlubang, dan polusi. Dia gagal. Jika lima tahun lalu dia memakai slogan ‘serahkan pada ahlinya’, kini kita bisa bertanya ‘apa sebenarnya keahliannya?’ Karena jalanan masih macet, air masing menggenang, udara masih disesaki asap knalpot, dan jalanan masih berlubang-lubang.

Hidayat-Didik. Pasangan ini lumayan adem. Hidayat pernah menjabat Ketua MPR. Orangnya simpel. Tapi agak aneh jika mantan Ketua MPR –majelis yang bisa memakzulkan presiden– lalu jadi Gubernur DKI. Apa yang dicarinya sebenarnya? Jangan-jangan dia petualang politik atau playboy jabatan: asal menjabat, kursi apapun bolehlah.

Mendadak saya ingat Cicero, seorang konsul Romawi di abad 63 SM, berkata, “Sungguh gila orang yang mengejar kekuasaan, padahal dia bisa duduk di bawah sinar mentari sambil membaca novel.”

Jokowi-Ahong. Saya mengagumi pribadi Jokowi yang simpel dan sikapnya yang membumi. Mobil Esemka yang dirintisnya cukup menggambarkan kalau penggemar musik rock ini seorang idealis. Tapi, mengintip sosok penyandang dana di balik punggungnya, hati saya mendadak kecut. Jangan-jangan Jokowi hanya perpanjangan tangan, hanya boneka, hanya pijakan menuju 2014. Tapi ini hanya jangan-jangan, semoga jangan.

Ada alex nurdin. Kalau tidak salah dia punya lima program: sekolah gratis, jalan bebas macet, bebas banjir dan dua lainnya saya lupa. Ia menjamin semua itu selesai dalam 3 tahun, jika tidak mereka mundur. Ini kontrak politik yang lumayan baik. Tapi, melihat janjinya, dia seperti petani yang menanam tebu di mulutnya: hanya janji manis. Memberikan waktu tiga tahun kepada ‘petani tebu’ untuk mengurus Jakarta..bah betapa sia-sianya!

Faisal-Biem. Yang satu ini agak beda. Mereka maju tanpa jalur partai. Orang yang mual dengan partai politik seperti saya jadi punya alternatif. Kemenangan pasangan ini, jika itu terjadi, akan jadi sejarah baru politik di negeri ini. Sebab biang keladi persoalan di negeri ini tak lain memang partai politik.

Hendardji-Riza. Saya tak tahu siapa Hendardji, juga Riza. Pengin googling, sih, tapi malas. Untuk apa? Toh, mereka juga tak pernah ‘meng-googling nasib orang-orang seperti saya ini. Jadi karena tidak
menggogling, saya pun tak akan mengkliknya..hehe.

Sebelum memilih memang ada baiknya mencari tau siapa pengusaha di balik punggung setiap pasangan ini. Sebab, merekalah pemain sebenarnya. Adapun para pasangan calon, mereka hanya kartu-kartu di atas meja perjudian. Taruhannya, ya, kita ini –11 juta juta orang Jakarta. Saya sendiri belum tahu akan memilih siapa. Terlalu banyak spekulasi dalam demokrasi. Sehingga saat masuk ke bilik TPS serasa datang ke meja judi.

DW
1/7/12

2 Comments leave one →
  1. arieitem permalink
    July 2, 2012 12:20 am

    Fokelah kalau beg..beg..begituuuu!! *nyanyi* *lalu ngeloyor pergi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: