Skip to content

Muhammad Naik, Adam Turun

June 17, 2012

Hari ini, hampir 14 abad lalu, Nabi Muhammad (SAW) bertemu Tuhan di Sidratul Muntaha, sebuah tempat entah di mana di langit ke-7. Peristiwa yang bikin geger dan melahirkan pertanyaan yang hingga kini tak pernah terjawab tuntas: apa mungkin manusia di jaman itu bisa terbang ke langit, menembus lapis demi lapis atmosfir, dalam waktu hanya semalam?

Mustahil. Saat itu manusia memang sudah mengenal tehnologi membangun rumah plus seni arsitektur: Taman Gantung Babilonia yang dibangun Nebukadnezar di Selatan Bagdad pada 600 SM dan tembok raksasa Cina. Hampir seribu tahun kemudian Borobudur berdiri di Jawa.

Selama periode 600 SM – 600 M, praktis manusia hanya berkutat pada urusan properti. Belum ada catatan sejarah yang menunjukkan pada masa itu ada tehnologi yang sanggup melempar orang ke bulan (ya iya laaaah). Karena pesawat pun baru ditemukan Wright Bersaudara pada 1903.

Sampai saat ini pun, meski Amerika dan Soviet telah menjejakkan kaki di bulan, tetap saja penelusuran terhadap Mars masih belum khatam. Semua data ilmiah dan analisis sejarah memang akan menggiring kita pada kesimpulan akhir: mustahil Muhammad terbang ke langit.

Tapi tidak ilmiah dan tidak masuk akal adalah dua hal yang berbeda. Sebab tak semua hal bisa ‘diakali’. Ingat tagline film seri The X-Files: The Truth is Out There. Kebenaran seringkali berada di luar sana, jauh dari jangkauan nalar dan rumus fisika. Tapi, meski jauh, kebenaran itu harus tetap masuk akal. Karena akal sejatinya lebih luas dibanding ‘ilmiah’.

Sehingga mereka yang menuntut jawaban ilmiah dari peristiwa miraj Muhammad rasanya tak akan mendapat jawaban, setidaknya sampai satu-dua abad ke depan. Tapi mereka yang mencoba memahami peristiwa ini secara logika, bisa menemukannya.

Jika Tuhan bisa menciptakan bumi dan langit, lantas apa susah sih memindahkan satu mahluk ciptan-Nya dari satu tempat (bumi) ke tempat lain (langit) atau sebaliknya? Jangan lupa, sebelum Muhammad, Adam lebih dulu mengalami ‘miraj’. Bedanya, jika Muhammad naik ke langit, Adam justru turun dari langit.

So, jika ada yang tak percaya Muhammad bermiraj, dia juga harus menolak fakta bahwa Adam turun dari langit. Kalau tak percaya Adam, sebagai manusia pertama, turun dari langit, maka patut diragukan kemanusiaannya. Bisa jadi, dia adalah jenis monyet yang ber-evolusi ala Darwin.

Jadi, yang =membingungkan saya justru bukan soal naiknya Muhammad ke Sidratul Muntaha, tempat beliau dijamu Jibril dalam rupanya yang asli kemudian bertemu Tuhan. Melainkan perintah salat yang dibawa Muhammad turun ke bumi.

Karena, konon, pada awalnya Tuhan memerintahkan manusia salat 50 kali sehari. Namun di tengah jalan, entah di langit ke berapa, Nabi Musa mencegatnya. Musa meminta Muhammad naik lagi menghadap Tuhan karena salat 50 kali sehari jelas akan memberatkan manusia. Muhammad manut. Beliau pun naik lagi menemui Tuhan.

Tuhan luluh. Perintah salat dipangkas menjadi hanya 45 kali. Tapi ketika Muhammad turun, Musa mencegatnya lagi. Menurutnya, salat 45 kali sehari itu pun masih berat. Proses yang sama pun berulang berkali-kali: Muhammad naik lagi meminta korting hingga akhirnya ia turun dengan hanya membawa 5 kali perintah salat sehari.

Ini seperti dongeng. Lucu aja membayangkan Muhammad, pamungkas para nabi, naik turun hanya demi mengikuti saran Musa. Dan Tuhan, dengan predikat Maha Tahu, apa mungkin nggak ngeh jika salat 50 kali sehari so pasti bakal menyusahkan manusia. Kata Tuhan: Aku tak akan menguji manusia dengan beban yang tak akan sanggup mereka pikul.

Dan Musa, yang tersungkur pingsan di Bukit Sinai saat melihat cahaya Tuhan, hanya cahaya-Nya, kenapa begitu gagah berani membantah Sabda Tuhan?

Ada yang mengambil sisi positif dari kisah –yang bagi saya lebih mirip dongeng– ini dengan menggambarkan betapa Tuhan begitu toleran dan betapa Islam sungguh demokratis. “Lihatlah,” kata mereka, “Tuhan pun bisa dinego!”

Tapi bagi yang pernah mengebet bab salat, pasti ngeh jika salat, bersama zakat, haji, dan puasa, adalah ibadah mahdhah alias ibadah yang ukuran, bilangan, dan susunannya, telah ditentukan sendiri oleh Tuhan, tanpa campur tangan manusia sedikit pun, termasuk Musa. CMIIW!

_DW_
17/06/2012

3 Comments leave one →
  1. HS Harjanto permalink
    June 18, 2012 5:07 pm

    ….
    Jika benar S=v.t

    berarti tempat pertemuan antar Muhammad dengan tuhannya dapat diukur…
    hanya saja tempatnya sebanyak titik di 3 dimensi ruang ini…

    • June 18, 2012 5:39 pm

      sepertinya harus bawa petugas BPN kalo mau ngukur tempat itu.wkwk

      • HS Harjanto permalink
        June 25, 2012 10:09 am


        hhhh……..
        gak perlu repot melibatkan orang lain dan makhluk laen…
        ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: