Skip to content

Roman dalam Mimpi dan Poundsterling

May 21, 2012

Raja bisnis Rusia sekaligus pemilik klub sepak bola Chelsea, Roman Abramovich, memeluk John Terry seusai pertandingan final Liga Champions meski sang kapten hanya duduk di tribun saat The Blues–julukan untuk Chelsea–menekuk Bayern Muenchen lewat adu penalti di Alianz Arena, Ahad, 20 Mei 2012. Mengenakan sweater biru lengan panjang, pemilik perusahaan investasi Millhouse LLC ini tampak terharu.

Abramovich memang punya mimpi besar: menjadikan Chelsea sebagai klub nomor wahid di daratan Eropa. Untuk itu, ia rela merogoh kocek besar-besaran. Auditor internasional Deloitte, misalnya, mencatat taipan Rusia itu telah menggelontorkan dana tak kurang dari Rp 14,6 triliun sejak ia membeli Chelsea 2003 lalu. Semua itu demi memboyong piala Liga Champions, sebagai lambang supremasi Chelsea di Eropa, ke Standford Bridge.

Penantian sembilan tahun Abramovich akhirnya memang berbuah manis. Chelsea suskes memaksa tuan rumah Bayern Muenchen bertekuk lutut lewat drama adu penalti yang berakhir dengan skor 4-3 untuk kemenangan The Blues. Ini menjadi kemenangan pertama Chelsea di ajang Liga Champions sejak klub itu didirikan 107 tahun lalu.

“Ini berarti segalanya bagi kami. Dan tanpa Roman Abramovich, kami tidak akan mungkin berada di sini (sebagai juara),” kata pemain lini tengah Chelsea, Frank Lampard. “Saya telah menunggu momen ini selama sebelas tahun dan hari ini adalah saatnya.”

Abramovich sendiri belum berbicara tentang kemenangan klubnya. Namun pengusaha–yang oleh majalah Forbes dinobatkan sebagai orang terkaya ke-68 di dunia pada pada 2012 dengan total kekayaan mencapai US$ 12,1 miliar–ini telah menyiapkan bonus sebesar 10 juta pound sterling atau sekitar Rp 148 miliar untuk dibagikan kepada manajer dan para pemain.

Manajer Chelsea Roberto Di Matteo akan menerima bonus sebesar 750 ribu pound sterling atau sekitar Rp 11 miliar. Sementara para pemain masing-masing menerima bonus 350 ribu pound sterling atau sekitar Rp 5,1 miliar. Artinya, dengan total 25 pemain yang diboyong Di Matteo ke Liga Champions, pengusaha kelahiran 24 Oktober 1966 ini harus merogoh sekitar 8,7 juta pound sterling.

Bonus yang begitu besar namun tak terlalu besar untuk menebus mimpi sekaligus menjawab pertanyaan penyiar ITV, Clive Tyldesley. Empat tahun lalu, saat Chelsea dikalahkan Manchester United di partai final Liga Champions 2008, Clive berkomentar pedas, “Apa yang tidak bisa diraih oleh seseorang yang memiliki semuanya? Ini (trofi). Ia tidak bisa membeli ini (trofi).”

Abramovich saat itu hanya tersenyum kecut di tribun penonton. Ia hanya bisa menepuk dada dan menundukkan kepala saat John Terry gagal mengeksekusi penalti ke gawang Manchester United. John terpeleset. Bola membentur tiang gawang dan harapannya merebut juara Liga Champions 2008 pun buyar.

Empat tahun kemudian di Alianz Arena, Abramovich memeluk John Terry. Piala Liga Champions yang empat tahun lalu sempat melayang, kini tergenggam di tangannya. Di layar televisi, komentator pertandingan–yang mungkin bukan Clive Tyldesley–berkata, “Jika Chelsea sudah ditakdirkan menang, siapa yang bisa menjegalnya?”

SKYSPORT | IBTIMES | THE SUN | THE TIMES | DW

published: http://bit.ly/KJryQA

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: