Skip to content

Tevez, Fergie, dan Presiden Inggris

May 18, 2012

MANCHESTER — Permintaan maaf Manchester City kepada Sir Alex Ferguson ternyata tak cukup meredakan perseteruan antara Carlos Tevez dan Sir Alex Ferguson. Tevez, yang membentangkan poster bertulisan “R.I.P Fergie” saat perayaan kemenangan The Citizen, Senin lalu, justru melontarkan makian baru.

“Ferguson seperti Presiden Inggris saja. Setiap kali dia berbicara buruk tentang pemain atau hal-hal yang mengerikan tentang saya, tak seorang pun menyuruh dia meminta maaf,” kata Tevez seperti dikutip situs berita Argentina, ole.com.ar, kemarin. “Tapi, ketika seseorang membuat lelucon atau olok-olok (tentang Ferguson), dia harus meminta maaf (kepadanya).”

Tevez saat ini sedang berada di Argentina untuk menikmati liburan musim panasnya. Sampai kini, pemain berusia 28 tahun itu masih menganggap apa yang dia lakukan saat perayaan kemenangan City, Senin lalu, itu sebagai sebuah lelucon. Karena itu, kata dia, “Saya tidak akan meminta maaf (kepada Ferguson).”

Perseteruan Tevez dengan mantan bosnya itu memang bukan kali ini saja terjadi. Saat Setan Merah ditekuk 0-2 oleh Barcelona di final Liga Champions 2009, Tevez–yang saat itu masih berkostum Manchester United–menuding Ferguson sebagai biang keladi kekalahan.

Uniknya, pemain berdarah Argentina ini selalu memaki Ferguson dengan istilah “Presiden Inggris”. Harian The Telegraph, yang terbit di Inggris, pada 30 Juni 2009, misalnya, mengutip kemarahan Tevez saat itu. “Anda tidak bisa berdebat dengan Alex Ferguson. Dia seperti Presiden Inggris. Mustahil berdebat dengannya, Anda akan selalu kalah.”

Tevez diboyong ke Manchester United dari West Ham United pada 2007 dengan nilai transfer 25 juta pound sterling. Di Old Trafford, pemain terbaik Amerika Selatan pada 2003, 2004, dan 2005 ini justru mengalami hari-hari yang berat. “Saya berada di sana selama dua tahun dan Sir Alex tidak pernah menelepon atau kirim pesan selama itu,” katanya.

“Keluarga saya tahu betapa saya menderita di MU (Manchester United),” Tevez melanjutkan. “Saya tidak bisa tiba di rumah setelah pertandingan atau latihan dan melupakan rasa sakit saya. Itu tidak baik.”

Pada Juli 2009, Tevez akhirnya menyerah. Ia angkat kaki dari Old Trafford menuju Etihad Stadium, markas Manchester City, yang tak lain adalah rival sekota Setan Merah. Ini keputusan yang membuat Fergie berang. “Dia (Tevez) sebenarnya tidak layak dihargai 25 juta pound,” kata Ferguson ketika itu.

Konflik di antara keduanya terus berlanjut hingga kini. Tevez, dengan gelar juara Liga Primer Inggris di tangan, mungkin masih menganggap Ferguson sebagai sosok yang tak mungkin didebat. Tapi ia membuktikan bahwa Fergie–yang selama ini mendominasi Liga Inggris bersama Manchester United–bisa dikalahkan.

Hanya satu yang mungkin tak bisa dijelaskan Tevez: menyebut Fergie dengan istilah “Presiden Inggris”. Sebab, pemerintahan Inggris adalah monarki konstitusi dengan ratu sebagai pemimpin negara dan perdana menteri yang menggulirkan roda pemerintahan. Tak ada kursi presiden di sana.

(OLE | BBC | THE TELEGRAPH | DW)
published: http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/05/18/index.shtml?ArtId=022_020&Search=Y

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: