Skip to content

Jiwa di Balik Teralis

May 6, 2012

Kemarin habis ngobrol dengan seorang bapak yang istrinya mengalami gangguan kejiwaan. Ikut prihatin sekaligus salut: dia merawat sang istri sejak 1998 lalu.

Si bapak cerita, kegilaan istrinya bermula dari kematian ayahnya dan
kenyataan bahwa dia ternyata anak pungut. Bener-bener pahit. Dalam kondisi seperti itu, siapapun akan mendadak kehilangan ‘dirinya’.

Setelah masa berkabung lewat, sang istri suka berprilaku aneh. Dia
mendadak mempelajari semua agama. Padahal selama ini, bersama suami dan anaknya, dia penganut jalan Budha.

“Saya ingin mencari jalan yang benar,” katanya selalu setiap kali
ditanya. Pernah sang suami menasehatinya, tapi justru dihardik, “Kamu jangan ikut campur!”

Beberapa kegilaan sang istri antara lain keluyuran di vihara tengah malam, meninggalkan mobil begitu saja di parkiran gereja dengan kunci menggantung di pintu, ia juga pernah nimbrung di pengajian dan sering mengaku mendengar bisikan dari leluhur.

Tak cuma itu, si istri juga tak pernah mau berbagi waktu lagi dengan empat anaknya. Ia lebih memilih menyendiri sambil menuliskan lafal-lafal mantra di buku hariannya.

Pada 1998, ketika krisis ekonomi menghantam perekonomian, sang suami nyerah: dia membawa istrinya ke rumah sakit jiwa di Grogol. “Saya gak tahan lagi karena disaat suku bunga waktu itu sampe 7O persen, dia malah DP-in ruko!”

Usaha si bapak saat itu memang sedang di tubir jurang. Sekarang dia
punya 5 dealer motor di Jakarta. Rumahnya mentereng di komplek elit Kelapa Gading. Tapi kata Mick Jagger, “My riches can’t buy everything..”

Dua pekan setelah dirawat, sang istri pulih. Ia kembali ke rumah. Tapi keadaan tak menjadi baik-baik saja. Karena jiwa seperti ranting: sekali patah tak akan pernah bisa tegak sempurna lagi. Serapuh abu di ujung sebatang rokok.

Dan bulan lalu, setelah empat belas tahun, kegilaannya kumat lagi.

Kini sang istri dirawat di Salemba. Dia selalu membawa dupa dan masih menulis mantra-mantra di buku hariannya. Kepada dokter, dia sering bertanya, “Dimana jati diri saya?”

Saya tercenung sejenak. Sebuah pertanyaan melintas di benak: bisakah orang menjadi gila karena mempelajari agama? Apakah Tuhan akan membiarkan pencari jalanNya tersesat di tengah jalan?

Batin saya spontan menjawab: “Tidak!” Karena Tuhan pernah bilang,
“Kalau kamu berjalan kepadaKu, aku berlari menghampirimu. Kalau kamu berlari, Aku terbang.”

Si bapak melanjutkan, istrinya hidup tertekan sejak kecil. Ibunya
–yg menjelang nikah baru diketahui ternyata ibu angkat– sangat
posesif. Dia tak bisa berteman dengan siapa saja, ruang geraknya terbatas, jiwanya diteralis.

Saat tertekan, siapa yang akan kau seru selain tuhan? Saya
pikir, begitulah yang terjadi dengan istri si bapak. Bagaimana pun, Jiwa yang disalib akan mencari jalannya sendiri menuju kebebasan, menuju Tuhan, mungkin lewat lafal dan mantra.

Karena jiwa yang ditekan pada akhirnya akan menemukan kebebasannya sendiri, meski dalam bentuk gangguan kejiwaan. Atau barangkali kegilaan adalah cara Tuhan membebaskan sebuah jiwa, tanpa perlu mematikannya.

Kata Kid Rock: Only God Know Why. So, God, WHY?

_DW_
5/05/2012

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: