Skip to content

Ketika Toyo Bertemu Tuhan

February 6, 2012

Kabar itu cepat menyebar. Si Toyo, tukang gali sumur, mengaku bertemu Tuhan. Beberapa hari lalu, ketika sedang menggali sumur dibelakang rumah Wak Haji Darus, ia melihat cahaya dibalik mata air. “Mula-mula tipis tapi lama-lama menggumpal,” kata Toyo saat diminta menceritakan pengalaman ajaibnya itu.

Lalu, Toyo melanjutkan ceritanya, ia mendengar dinding-dinding sumur seolah berbisik kepadanya. “Tapi maaf saya diminta merahasiakan pesan tersebut,” kata Toyo. “Tuhan sendiri yang meminta.”

Toyo yakin cahaya yang dilihatnya di bawah sumur itu Tuhan. Ia lalu mencomot kisah Musa ketika bertemu Tuhan di Bukit Sinai. Ketika itu Tuhan menandai kehadirannya dengan cahaya. “Itu pasti cahaya yang sama dengan yang saya lihat,” kata Toyo. Matanya berbinar.

Sejumlah orang ketika itu saling berpandangan. Heran, takjub, campur geli jadi satu. Toyo pun mendadak beken. Kyai Mursyid, sesepuh ulama di kampung, segera memanggil Toyo.

Di pendopo pondok, disaksikan orang banyak, Toyo pun disidang.

“Kamu bener melihat Tuhan?” Kyai Mursyid menyelidik.
“Iya Kyai, betul.”
“Dari mana kamu yakin itu Tuhan?”
“Cahayanya, Kyai,” kata Toyo.
Mendadak Kyai mursyid tersenyum. Toyo bingung.
“Kalau saya bilang matahari itu Tuhan,” kata Kyai Mursyid, “Apa sampeyan semua percaya?”
Toyo menggeleng. “Matahari ya bukan Tuhan, Pak Kyai.”
“Nah,” kata kyai mursyid, “Jika matahari yang cahaya dan panasnya begitu hebat bukan Tuhan, apalagi cahaya di dalam sumur yang sampeyan lihat itu?”
Toyo merengut.
“Tapi pesan itu Pak Kyai,” Toyo tiba-tiba ingat sesuatu.
“Pesan apa?” sahut Kyai.
“Yang disampaikan cahaya tu kepada saya.”
“Iya, apa isinya,”
“Tapi saya diminta merahasiakan,” kata Toyo.
“Bisikan saja kepada saya,” kata Kyai.
Toyo semula ragu. Namun tatapan mata Kyai Mursyid membuatnya bergerak. Toyo lalu berbisik ditelinga Kyai Mursyid, mengatakan sesuatu, lalu Kyai Mursyid sontak pingsan.

Setelah sadar, Kyai Mursyid segera memeluk Toyo, ia menangis meraung-raung, sebelum bergegas masuk ke pondok. Seorang ustad muda mengikutinya. Di dalam pondok, ustad itu mendesak Kyai Mursyid memberitahu apa yang dikatakan Toyo tadi. Setelah didesak, Kyai Mursyid akhirnya membisikkan pesan tersebut ke telinga si ustad. Seperti Kyai, ustad itu pun sontak pingsan.

Para santri meminta sang ustad memberi tahu pesan rahasia itu. Ustad semula menolak, namun para santri mendesak. Singkat cerita, pesan itu pun berpindah dari mulut ke mulut, dari ustad ke santri lalu dari santri berlanjut ke penduduk. Semua yang mendengar langsung pingsan. Begitulah, pesan dari dinding sumur itu menyebar ke semua penduduk desa melalui bisik-bisik. Namun mereka tak pernah membicarakannya.

Seorang teman dari kampung itu pernah membisikkan isi pesan tersebut kepada saya. Isi pesan itu, ternyata, tak lain nama Tuhan yang ke-seratus. Saya tak pingsan ketika ia berbisik. Sebab nama itu tak lain nama asli saya sendiri.

_dwi_
18/02/2011

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: