Skip to content

Duka Terakhir Sang Nabi

February 2, 2012

..Kepergianmu tak mungkin dikembalikan dan kematianmu tak bisa dihindarkan, kenanglah kami di sisi Tuhanmu dan simpan kami dalam hatimu..

Tubuh suci itu terbaring lemah. Matanya redup menatap orang-orang yang dikasihinya: Fathimah, Ali, Hasan dan Husein. “Ambilkan aku kertas,” katanya lirih. Ia akan menulis wasiat terakhirnya. Seseorang lalu keluar kamar mengambil kertas dan pena. Namun langkahnya dicegat umar.

“Tidak perlu, kasihanilah Nabi sedang sakit keras, ia meracau..” Sahabat lainnya, Abu Bakar, menambahkan, “Diantara kita sudah ada Quran, cukuplah itu bagi kita.”

Nabi mendengar keduanya. Air matanya meleleh. Ia meminta keduanya pergi. Ali menunduk disisinya sementara Fathimah, Hasan dan Husein tak bisa lagi membendung kepedihan.

Hening menyelimuti kamar. Beberapa pasang mata melirik Umar yang bersiap pergi. Kenapa Umar menghalangi Nabi menulis wasiat dan menuduh Nabi sedang meracau. Mereka tak habis pikir, sebab mereka tahu Nabi yang maksum tak mungkin meracau.

Angin gurun mendadak berhenti berhembus. Debu dan pasir jatuh kembali ke tanah. Pucuk-pucuk kurma lunglai dan awan berbaris lesu: dari kamar itu tersiar kabar Sang Nabi telah wafat. Orang berduyun bertazkiah, larut dalam duka.

Namun duka menguap di Saqifah: disini Umar, Abu Bakar, serta sejumlah muhajirin dan anshar berdebat mencari pengganti Nabi. Mereka lalu sepakat mengangkat Abu bakar menjadi khalifah. Padahal jenazah suci Sang Nabi pun belum lagi dimakamkan.

Dari Saqifah, Umar bergegas kembali ke rumah Nabi. Bersamanya ikut serta beberapa orang membawa obor. Di tengah kedukaan, rombongan Umar berkata lantang, “Ali, keluarlah atau kubakar semua yang ada di dalam rumah. Berikan baiatmu pada Abu Bakar!”

Orang-orang tertegun. Di rumah itu Fathimah, Hasan, Husein, dan Abbas masih bersimpuh meratap duka. Dari balik pintu, terdengar rintih Fathimah, “Wahai Ayah, Duhai Rasulullah, setelah kau tiada belum pernah kulihat sahabatmu bersikap seperti ini…”

Rintihan suci itu diiringi tangis para wanita. Namun para pengancam tak surut. Obor mulai diacung-acungkan hingga Ali membuka pintu. Wajahnya sendu, kedua matanya masih sembab. Namun ia menolak memberi baiat.

“Demi Allah, kami ahlul bait lebih berhak akan urusan ini daripada kalian, pada kamilah pembaca kitab, ahli ilmu agama, dan paling paham sunnah..” Ali tetap menolak memberikan baiat meski mereka mengancam akan membakar rumahnya.

Fathimah tak lagi tahan. Ia membenahi jilbabnya lalu melangkah keluar. Matanya yang basah menatap para pengancam. Kepada mereka ia berseru, “Alangkah cepatnya kalian menyerang keluarga Rasul. Kalian membiarkan jenazah Rasulullah bersama kami, kalian mengambil keputusan diantara kalian sendiri tanpa bermusyawarah dengan kami dan tanpa menghormati hak-hak kami.”

Fathimah merasakan dadanya begitu sesak. Ayahnya pergi beberapa jam lalu dan orang-orang kini berbalik memusuhinya. “Demi Allah,” Fathimah melanjutkan, “Pergilah kalian semua. Jika tidak, dengan rambut yang kusut ini, aku akan meminta keputusan dari Allah!”

Orang-orang terdiam. Mereka tahu siapa Fathimah: putri rasul yang tak seorang pun lebih dekat kepada Allah kecuali ayahnya sendiri. Ancaman Fathimah membuat hati mereka goyah. Satu demi satu mereka pergi.

Di kamar suci Sang Nabi, mereka yang sebelumnya bertanya untuk apa para ‘sahabat’ menghalangi nabi menuliskan wasiatnya mulai paham apa yang terjadi. Umar dan Abu Bakar tak ingin Nabi menunjuk Ali sebagai penggantinya.

Hari-hari berlalu namun kepedihan masih bergelayut di langit Yastrib. Kesedihan Fathimah kembali membuncah saat Abu Bakar merampas tanah fadaq darinya. Fadaq adalah tanah yang diwariskan Nabi kepadanya. “Duhai putri Nabi”, Ali berusaha menghibur, “Apa yang diberikan Allah lebih utama dari apa yang dirampas darimu.”

Fathimah menatap Ali, suaminya. Air matanya meleleh. Ia masih mengingat ketika ayahandanya, Rasulullah, mengangkat tangan suaminya di depan puluhan ribu jamaah usai haji wada di Ghadir Qum. “Inilah Ali,” kata Rasul ketika itu, “Siapa yang menjadikan aku maulanya, Ali juga maulanya.”

Orang-orang, termasuk Umar, saat itu menjabat tangan Ali memberi selamat. Tapi semua berubah cepat kini. Para sahabat dengan cepat berkhianat bahkan ketika jasad nabi belum lagi dingin. Fathimah teringat kisah pengikut Musa, yang kembali kafir sebelum air laut kering di kaki mereka.

Malam bergerak lambat. Ali menatap langit Yastrib. Disana bulan seperti lentera kapal di laut hitam, cahayanya timbul tenggelam ditelan awan. Sayup ia mendengar rintihan Fathimah dari balik kamar…

Nafasku tersekat dalam tangisan, duhai mengapa nafas tak lepas bersama jeritan, karena sesudahmu tiada lagi kebaikan dalam kehidupan.

Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu, tangisan memelukku, kenangan padamu melupakanku dari segala musibah yang lain.

Engkau menghilang dari mataku tapi sungguh engkau tidak hilang dari hatiku yang pedih, berkurang sabarku bertambah dukaku setelah kehilanganmu.

Ya Rasul Allah, wahai kekasih Tuhan, pelindung anak yatim dan dhuafa, Islam kini terasing di tengah manusia, aku melihat kegelapan setelah cahaya.

Bi Abi Anta wa Ummi

Kepergianmu tak mungkin dikembalikan dan kematianmu tak bisa dihindarkan, kenanglah kami di sisi Tuhanmu dan simpan kami dalam hatimu..

juli, 15, 2009
-dw-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: