Skip to content

Tertawalah Pada Tempatnya

January 27, 2012

Jam 12 pas. Saatnya makan siang. Seno loncat dari bangkunya. Perutnya kosong sejak pagi.
“Ada ayam, Mba,” katanya begitu masuk warteg.
“Ada,” sahut Mbaknya.
“Cepet usir! Saya mau makan. Mosok makan sama ayam,” sahut Seno sambil duduk.
Mbaknya cekikikan. Seno memang langganannya. Supir taksi ini datang saban siang.
“Pake apa, Mas?”
“Orok ada?”
“Orek maksudnya?”
“Mbae iki piye, sudah tau nanya.” tegur Seno. Mukanya lempeng aja.
Sepiring nasi hangat campur orek tempe terhidang di depannya. Seno mencomot bakwan goreng.
“Minumnya apa, Mas?”
“Teh aja,” Seno mulai mengunyah.
“Manis?”
“Nggak perlu manis, yang penting setia,”
Kali ini Mbaknya ngikik. Tapi Seno tak acuh saja. Ia terus makan. Tiba-tiba pandangannya membentur seorang anak yang lagi asik mencoret-coret buku di sudut warung.
“Anakmu, Mbak?” tanya Seno sambil memberi isyarat sendok ke sudut warung.
“Iya, masih 3 tahun,” sahut Mbaknya. “Dia lagi nulis surat.”
“Buat siapa?”
“Buat Cila temennya.”
Seno tertarik. “Memang dia sudah bisa nulis?”
“Belum, Mas.”
“Lho, kok belum bisa nulis tapi mau nulis surat buat temennya?”
“Gapapa, Mas. Cila juga gak bisa baca, kok.”
Gubrak! Seno nyaris terjengkang saking kagetnya. “Ini baru lucu,” katanya sambil cekikikan, tangannya memegangi perut. Lama ia tertawa sampai matanya berair.
Mbaknya cuma geleng-geleng. Ia tak bermaksud melucu, tapi memang begitu adanya. Anaknya belum bisa nulis dan Cila belum bisa baca. Apanya yang lucu. Dasar orang aneh, pikirnya.
“Sudah Mbak, ini uangnya,” kata Seno sambil ngasih selembar dua puluh ribuan. Sepiring nasi berikut orek ludes tanpa sisa.
“Waduh, Mas, lagi nggak ada kembaliannya.”
“Sudah ndak papa, buat Mba aja. Itung-itung ongkos bikin saya ketawa tadi.”
Mbaknya mengerutkan kening, “Tapi…”
“Ketawa itu mahal, Mba,” Seno memotong, “Banyak orang melucu tapi sebenernya mereka tuh cuma mengeksploitasi kekurangan fisik orang lain. Yang lebih parah, ada yang menganggap kekurangan fisik itu sebagai sesuatu yang lucu. Kasihan orang-orang jenis ini, yang melucu dan tertawa tidak pada tempatnya.”
Seno lalu cabut. Perutnya telah terisi. Hatinya senang bisa ketawa lepas, satu hal yang jarang ia alami. Apa yang orang lain anggap lucu, menurutnya justru ironis. Ia pelucu, tapi tak mudah ketawa. Ia bagian dari ironi itu sendiri.

_DW_

2 Comments leave one →
  1. January 27, 2012 4:51 pm

    aku suka ini! :))

  2. January 27, 2012 4:54 pm

    trims ya mba, mari budayakan tertawa, meski tanpa alasan..lho..wkakakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: