Skip to content

Tuhan, Kata, dan Angka

January 25, 2012

“Aku tau shalat itu perintah Tuhan, ada di Quran tentang itu. Yang aku persoalkan jumlah 17 rakatnya dan kenapa harus 5 waktu? Apa Quran menjelaskan itu?” katanya menodong.
“Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya kepadamu,” kataku.
“Jelaskan saja yang kamu tau,” katanya.
“Justru itu, aku tidak tau,” sahutku.
Sebuah guling melayang ke arahku. Aku bisa saja mengelak, tapi entah kenapa pertanyaan Zen tadi menohok kepalaku. Membuatku tertegun. Quran, yang aku tau, memang tak secara rinci menjelaskan jumlah 17 rakaat dan 5 waktu shalat. Kalau begitu, darimana muncul 17 rakaat dan 5 waktu shalat? Ah, kepalaku jadi ikutan puyeng.
“Barangkali itu hasil kreativitas Nabi, lewat bimbingan gaib,” kataku.
“Maksudmu Nabi yang menciptakan 17 rakaat dan 5 waktu shalat?”
“Hmm..aku nggak bilang begitu, sih.”
“Nabi mana boleh menciptakan jumlah rakaat, itu kewenangan Tuhan semata. Tuhan sendiri yang menggariskan tata-cara, susunan, dan ketentuannya,” kata Zen.
Zen ini memang ajaib. Ia sahabat kecilku. Ia kritis dan dalam beberapa hal sangat egois. Kalau sudah muncul keponya, jangankan mendaki gunung mengarungi lautan, deretan rak toko buku pun akan dijelajahinya semalam suntuk. Ia jenis makhluk yang percaya kalau keyakinan harus dilandasi ilmu. “Keyakinan tanpa ilmu,” begitu katanya suatu kali, “Seperti jemuran tanpa jepitan. Sewaktu-waktu bisa terbang ditiup angin.”
“Jadi menurutmu bagaimana?” tanyaku.
“Justru aku yang bertanya kepadamu,” balas Zen.
“Ahaa…” tiba-tiba aku ingat. “Saat isra mi’raj Nabi mendapat perintah shalat 50 waktu, tapi kemudian jadi hanya 5 waktu. Mungkin disitu Nabi dapat angka-angkanya.”

Dikisahkan saat Miraj nabi mendapat perintah 50 waktu shalat. Nabi pun turun, tapi di tengah ‘jalan’ ia ketemu Nabi Musa. Menurut Musa, 50 waktu itu kebanyakan. Umat Muhammad gak bakal sanggup. Ia lalu menyarankan Nabi kembali menemui Allah untuk meminta keringanan. Nabi pun kembali ke atas. Ia kemudian bernegosisasi dengan Tuhan. Singkat cerita, Nabi berhasil melunakkan Tuhan sehingga perintah shalat hanya jadi 5 waktu.

“Kamu percaya kisah itu?” tanya Zen. Matanya mendelik.
“Tentu,” sahutku.
“Bagiku itu dongeng. Kenapa Nabi harus mendengarkan saran Nabi Musa? Memangnya Musa lebih tau dari Tuhan tentang apa yang bisa ditanggung manusia? Memangnya Musa lebih tau dibanding Muhammad yang menjadi pamungkas para nabi, samudera para nabi? Dan apa pernah Nabi membantah perintah Tuhan, sekali saja dalam hidupnya? Bagiku, kisah itu tidak masuk akal,” katanya.
“Habis akalku, kalau begitu,” kataku.
“Lalu tak ada jawaban?” katanya.
“Hmm..Kita tunggu pagi,” kataku.

—->> bersambung (kehabisan ide..)

16 Comments leave one →
  1. 070681 permalink
    January 25, 2012 4:38 pm

    ak suka ini

  2. Ray permalink
    January 25, 2012 9:35 pm

    Menarik membahas pertanyaan ini “Memangnya Musa lebih tau dibanding Muhammad yang menjadi pamungkas para nabi, samudera para nabi” sekilas kita mendengar pernyataan seperti ini yg terlintas pasti pastinya Nabi lebih mengetahui tentang umatnya dan Nabi SAW seutama2nya Nabi…cuma yg saya pikirkan bukankah merupakan akhlak Nabi menghormati seseorang apalagi yg di hormatinya itu seorang nabi juga yang diutus sebelumnya jadi klo menurut ku sih itu bukan yang mustahil di lakukan oleh Nabi SAW…tlg koreksi ya klo aku salah

    • January 25, 2012 10:29 pm

      iya kenapa ya, saya juga bertanya, apa kisah nego waktu salat itu bener

  3. dyn permalink
    January 25, 2012 10:17 pm

    terus kenapa gerakan shalat harus jungkir balik? kenapa tidak tidur saja? terus kenapa baca baca-bacaan seperti yang diajarkan guru ngaji kita? kenapa tidak sambil nyanyi atau ngapain gitu? kenapa pula kalau shalat harus nutup aurat (pake sarung, mukena, ato lainnya)? kenapa juga harus pake wudlu? kan jadi ga bs efektif dan efesien bisa nglekuin dimana dan kapan aja?

  4. dyn permalink
    January 25, 2012 10:25 pm

    Ternyata Al Quran saja tidak cukup. Hadits juga tidak semua menjawab. Karenanya, jadi pengen ketawa kalau ada orang yang teriak-teriak sampek muncrat-muncrat (hujan lokal) hehehe.. untuk mengajak kembali hanya pada Al Quran dan hadits. Nah, bagaimana bisa shalat, kalau kemudian di Quran dan hadits ternyata nggak dijelaskan??

  5. Ray permalink
    January 26, 2012 9:24 am

    @dyn:kenapa gerakan sholat begitu bukannya kita ikut Nabi cara sholatnya,dan kata siapa di Al quran dan hadits ga di jelasin tentang sholat….meskipun di Alquran ga dengan rinci menerangkan bagaimana sholat smp waktu2 sholat tp bukannya sholat itu kita contoh dr Nabi berarti pasti ada hadits yg menerangkan tentang sholat jadi saya bingung juga dengan pertanyaan “Nah, bagaimana bisa shalat, kalau kemudian di Quran dan hadits ternyata nggak dijelaskan??”

  6. January 26, 2012 10:20 am

    nyimak..

  7. January 26, 2012 3:14 pm

    Kamu syiah sah?! ayo ngaku!🙂

  8. January 26, 2012 3:28 pm

    Saya NU Imamiah bang..😛

  9. dyn permalink
    January 26, 2012 9:14 pm

    @ray: hehehe.. coba sampeyan cari di Al Quran maupun hadits tentang salah satu syarat sah shalat yang menghadap ke kiblat, atau cari juga bagaimana cara duduk dalam gerakan shalat di Al Quran maupun hadits, insya Allah sampai tua nggak akan ketemu. Makanya, kemudian, ada tuntunan lain sebagai lanjutan, yaitu ijma’ dan qiyas. Lebih jelas soal dua itu, sampeyan belajar sendiri dulu. hehehe pisss…

  10. dyn permalink
    January 26, 2012 9:18 pm

    Poin sy di comment sebelumnya, adalah jangan kemudian merasa gagah dan merasa Islam-nya sudah paling benar, ketika sudah bisa teriak “Islam harus di-purifikasi” atau teriak “Kembali ke Al Quran dan Hadits” atau juga “Babat habis perilaku-perilaku bidah”.

    • January 26, 2012 11:22 pm

      setuju. tak seorang pun berhak mengklaim islamnya paling islami. klo ga salah, nabi juga bilangnya bukan kembali ke quran dan sunnah (hadis), tapi quran dan itrahku.

  11. Ray permalink
    January 27, 2012 9:58 am

    @dny klo di tambah dengan ijma dan qiyas saya juga setuju cuma setau saya dasar ulama menetapkan ijma dan qiyas adalah Al Quran dan hadits dan memang kita memahami sholat dan ibadah lainnya juga berdasarkan pemahaman para ulama seperti imam 4 madzhab…🙂 cuma mereka semua mengambil itu berdasarkan Al Quran,hadits dan ijtihad mereka itu sih setau saya.

  12. January 27, 2012 1:17 pm

    kok cuma imam 4 mazhab bro, mazhab ahlul bait ga diitung yah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: