Skip to content

Tuhan, Kata, dan Angka (2)

January 25, 2012

Ruang itu tak terlalu besar, hanya sekitar 4X5 meter persegi. Beberapa bagian dindingnya terkelupas. Sebuah kalender dan foto hitam-putih menempel di salah satu sisinya. Tak ada bangku, hanya gelaran karpet hijau dan meja kecil dengan dua gelas teh hangat di atasnya. “Duduklah,” kata Wak Haji.

Kami pun bersila. Zen duduk di sampingku. Aku mengajaknya menemui Wak Haji karena tak mampu menjawab penasarannya tentang asal-mula angka 17 dan 5 dalam salat. Tadinya kami ingin menghadap Wak Haji pagi, tapi karena satu-dua hal yang tak bisa dijelaskan, maka jadilah kami berangkat usai isya.

Pondok wak haji tak terlalu jauh, sekitar 2000 meter (sebenarnya cukup ditulis 2 kilometer, tapi ini penting untuk mendramatisir cerita) dari rumahku. Sekitar 10 menit kalau naik busway. Tapi karena di kampung kami tak ada busway, maka perjalanan bertambah 20 menit karena kami menggenjot sepeda. Berboncengan pula.

Wak Haji bukan orang lain. Beliau adalah guru spiritualku -istilah keren buat guru ngaji. Konon, beliau punya ilmu laduni, semacam ilham yang turun kepada Khidr. Namun dengan porsi yang lebih kecil. Karena itu aku yakin Wak Haji bisa memecahkan teka-teki ini.

Seperti dugaanku, Wak haji tenang saja saat mendengarkan pertanyaan kami. Ia hanya mengangguk satu-dua kali. “Pertanyaan rumit,” lirihnya sambil membetulkan peci putihnya. “Menurut kalian, kalau kita tidak menemukannya dalam Quran, apa berarti itu tidak ada?”

“Pertanyaan rumit,” sahutku meniru Wak Haji. Begitulah ciri orang bijak: tak langsung menjawab pertanyaan. Tapi malah bertanya balik. Ini semacam strategi mengulur waktu, untuk memikirkan jawabannya.

“Ee..maaf Wak Haji,” Zen akhirnya membuka mulut, “Kita memahami sesuatu berdasarkan yang kita tahu, setahu saya memang Quran tidak menyebut bilangan rakaat dan lima waktu salat.”

“Hmm..memang begitu. Kita menyakini sesuatu berdasarkan level ilmu yang kita capai. Tapi yang kita anggap tidak ada, belum tentu tidak ada. Bisa jadi bukan sesuatu itu yang tidak ada, tapi otak kita yang bebal.”

“Jadi jumlah rakat itu ada di Quran?” Zen cepat menyahut.
Wak Haji menarik nafas, kedua matanya memejam. Aku mencolek Zen sambil berbisik, “Beliau sedang menerima ilham,” kataku.

“Kalian tau togel?” katanya tiba-tiba.
Kami serentak mengangguk.
“Togel itu berdasarkan angka. Angka-angka lewat mimpi itu lalu dijadikan petunjuk. Betul tidak?” kata Wak Haji seperti logat Aa Gym.
“Klop,” jawabku spontan.
“Kamu sering pasang, ya?”
“Tidak Wak Haji,” sahutku sambil merendahkan suara, “tidak pernah dapat..”
Medadak Wak Haji tertawa. “Tidak apa-apa, Uwak lebih suka pendosa yang jujur dibanding orang alim yang munafik.”
Aku tersenyum lebar.
Tapi Wak Haji cepat melanjutkan, “Begitu juga di Quran. Tuhan memberi petunjuk bukan hanya melalui kata, tapi juga melalui angka.”
“Saya nggak ngerti,” kata Zen.
“Saya juga,” aku menyambung.
“Quran menyebutkan kata ‘aqimu’ yang dilanjutkan dengan ‘salat’ sebanyak 17 kali. Sehingga bunyinya menjadi ‘dirikanlah salat’. Ini jadi dasar jumlah 17 rakaat salat,” kata Wak Haji.
“Wow..” sahut kami nyaris bersamaan.
“Kata ‘faradha’ yang berarti kewajiban yang tak boleh ditinggalkan, disebut dalam Al­Quran sebanyak 17 kali. Sama dengan jumlah rakaat salat, yang tak boleh ditinggalkan,”
“Wooww..” kali ini Zen menyahut sendiri.
“Sementara lima waktu salat berasal dari kata ‘shalawat’ yang merupakan bentuk jamak dari kata ‘salat’. Kata ini muncul di Al Qur’an sebanyak 5 kali, sebagai penanda 5 waktu shalat.”
“Woww..,” sahut kami berbarengan lagi. Jawaban yang tak terduga membuat Zen melongo sekian detik, mulutnya terbuka dan kedua matanya berkedip, tanda ia sedang berpikir dengan cepat.
“Ini hebat!” katanya sambil meninju lenganku. Rasa takjub juga seolah menghipnotisku, membuatku lupa pada rasa sakit.
“Tapi ini sumbernya dari mana Wak Haji?” Zen mendadak normal lagi.
Wak Haji menunjuk ke atas.
“Tuh,” kataku, “Wak Haji emang punya ilmu laduni.”
Wak Haji tertawa, kali ini lebih deras. “Bukan itu. Bukan laduni-ladunian. Di atas ada ruang komputer, bisa internetan. Uwak pernah baca soal ini di internet.”
“Ooooo….,”
“Kalian tau Galileo?” tanya Wak Haji.
“Yang terusannya Galilei?” sahutku.
Wak Haji mengangguk. “Nah, beliau pernah bilang, ‘Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini.’ Jadi, seperti kata Uwak tadi, Tuhan tak hanya memberi petunjuk lewat kata, tapi juga melalui angka. Tidak hanya dari yang zahir, tapi juga melalui batin. Jadi yang tak ada jangan dikira tak ada dan yang tak ada jangan diada-adakan,”
“Kami mendengar dan kami patuh,” kata Zen.
Wak Haji ketawa lagi. “Kamu ini kayak orang NU aja.”

Kami lalu mohon pamit. Jawaban Wak Haji membuat kami shock. Sepanjang jalan kami tak banyak bicara. Zen hanya menggaruk-garuk kepalanya tanpa berkata-kata. Aku sendiri juga terkejut bukan main, bukan karena ‘angka-angka’ yang tak terduga itu, tapi juga karena fakta ini: Wak Haji ternyata lebih gaul dibanding kami!

_dw_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: