Skip to content

Filosofi Jagung

January 24, 2012

John Pemberton barangkali jadi apoteker paling sukses sekaligus paling paranoid. Penemu racikan coca-cola ini selama ratusan tahun menyembunyikan resepnya dalam brankas di SunTrust Bank, Atlanta.

Resep itu dijaga begitu ketat hingga, konon, hanya dua eksekutif coca-cola yang tau salinannya, masing-masing menyimpan setengah dari keseluruhan resep. Biar tak bocor, kedua eksekutif itu tak boleh terbang dalam satu pesawat.

Kerahasiaan resep coca-cola kemudian memang berkembang jadi ‘mitos’. Bahkan coca-cola pernah menarik diri dari India pada 1970-an saat pemerintah setempat memaksa mereka menyerahkan salinan resep tersebut.

Kegigihan coca-cola menjaga resep ini yang -barangkali- membuat penjualannya tak pernah surut. Ia hadir di 200 negara, dengan rasa yang tak beda.

Seorang guru keterampilan zaman SMP dulu pernah membagikan resep membuat minuman ala coca-cola. Saya lupa bahannya apa saja, tapi begitu diracik, rasanya memang tak mirip. Hanya warnanya yang sama coklat, tapi rasanya mirip rasa soda dicampur gula.😦

Belakangan saya tau, coca-cola tak bisa ditiru karena sebagian bahannya konon berasal dari daun koka; tumbuhan yang sama dimana kokain dihasilkan.

Kesuksesan barangkali tumbuh dengan menanam kerahasiaan sedalam-dalammnya. Tak cuma Pemberton yang memegang prinsip ini. Kolonel Sanders juga melakukannya. Tapi tidak bagi James Bender.

Penulis buku ‘How to Talk Well’ ini mengungkapkan sisi sebaliknya: bahwa sukses tak melulu lahir dari apa yang kita rahasiakan. Untuk itu, Bender menyajikan kisah menarik.

Tesebutlah seorang petani jagung yang setiap musim selalu menyabet penghargaan ‘petani dengan jagung terbaik’. Seorang wartawan kemudian datang menemuinya.

Ia terkejut ketika mengetahui si petani jagung membagi-bagikan benih jagung unggulan miliknya ke para tetangga. Menurut si wartawan, benih jagung itu semestinya dirahasiakan.

“Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahun? Bukankah sebaiknya anda merahasiakan bibit jagung itu?” tanya si wartawan dengan heran.

“Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain?” Si Petani balik bertanya.

“Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya juga akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jika saya ingin menghasilkan jagung berkualitas unggul, saya pun harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang unggul pula.”

Wartawan itu bengong. Diam-diam ia mencatat dalam hatinya: petani yang begitu polos ini ternyata sangat menyadari hukum konektivitias dalam kehidupan. Bahwa kesuksesan tak melulu tercipta lewat jalan menguasai dan memonopoli, tapi juga bisa dengan cara berbagi.

Bender menyimpulkan: mereka yang ingin menikmati kebaikan, harus memulai dengan menabur kebaikan pada orang di sekitarnya. Sebab kita tak bisa bahagia di sekitar orang yang menderita. Kalau ada yang bisa, pastilah dia sakit jiwa..he2

So, mari berbagi..

_dw_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: