Skip to content

Seribu Dai Sedikit Arti

January 20, 2012

Jadi dai di negeri ini gampang. Tak perlu mengkaji fikih, mendalami irfan, apalagi sampai mendaki jalan thariqat. Cukup pakai sorban, gamis, dan tasbeh, lalu orang akan mencium tanganmu. Syukur-syukur kalau situ anak kyai dan punya pesantren. Jangankan santri, pejabat pun akan sowan. Selain itu ada cara lain: ikut audisi dai di tivi.

Nggak heran kalo kemudian lahir ulama-ulama panggung bermazhab kitab ‘kumpulan kotbah jumat’. Nggak kaget juga kalau lantas muncul kyai-kyai tukang stempel haram dan tukang tuding sesat hanya karena beliau nggak pernah buka kamus bahasa: ‘berbeda’ dan ‘sesat’ adalah dua hal yang tak sama.

Nggak heran pula (sambil narif nafas) kalo kemudian muncul habib yang seenak udelnya meggelar pengajian di tengah jalan yang -ajaibnya- banyak pengikutnya. Karena kita memang nggak punya satu sistem yang bisa menjamin kedalaman ilmu seorang ulama.

Inilah ironisnya. Sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, kualitas ulama kita justru tak terjamin. Tak ada otoritas yang -misalnya- berwenang menguji apakah ilmu yang dikuasai seorang ulama sesuai dengan atribut kesalehannya.

Padahal sistem ini penting untuk memastikan orang bergelar kyai, habib, atau ustadz tak berlagak seperti calo terminal yang mendorong-dorong orang naik bus tapi dia sendiri ogah naik. Juga untuk menjamin ulama ngga jadi pengamen agama yang bisanya cuma bergitar, nyanyi, dan bilang, ‘Alhamdulillah,’.

Barangkali kita perlu belajar ke Iran. Seorang teman yang pernah menuntut ilmu disana cerita, menjadi ulama di negeri seribu mullah butuh perjuangan yang sulitnya naudzubillah. Ada jenjang-jenjang keilmuan yang harus dilewati sebelum sampai ke tahap ‘ulama’. Mulai jenjang santri hingga level tertinggi: ayatullah.

“Mereka yang bergelar ayatullah nggak cuma ahli fikih, tapi juga filsafat, etika, ilmu sosial, dan juga ilmu-ilmu mistik,” kata teman itu.

Ada juga gelar yang disematkan karena kepakaran khusus seperti gelar Allamah. Gelar ini secara spesial diberikan kepada Ayatullah Muhammad Husain Thabathaba’i karena kecanggihannya di bidang tafsir dan filsafat. Sementara Ayatullah yang secara khusus mendalami studi islam, seperti Ayatullah Murtadha al-Askarikhusus, diberi gelar Muhaqqiq.

Kalau disini gelar ustadz terasa murahan karena ada di setiap kampung, lain lagi di Iran. Disana tak sembarang orang mendapat gelar ustadz. Sampai saat ini, kata teman itu, hanya satu ayatullah yang mendapat gelar ustadz, yakni Murtadha Muthahhari. “Disana ustadz levelnya lebih tinggi dari profesor,” katanya.

Gelar-gelar itu bukan omong kosong. Setiap gelar yang disandang pemiliknya menjamin kualitas keilmuan orang tersebut. Sehingga, ketika kita bertanya kepada mereka, kita tak seperti bertanya kepada rumput yang bergoyang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: