Skip to content

Djohar: Saya Bukan ‘Boneka Jenggala’

January 16, 2012

Hujan deras mengguyur Jalan Jenggala, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin, 12 Desember 2011. Satu per satu pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memasuki pelataran rumah nomor 4 di jalan tersebut. “Ada rapat tentang tim nasional,” kata anggota Komite Eksekutif PSSI, Bob Hippy, ketika itu. “Rapat disini lebih tenang.”

Rumah besar yang diapit dua jalan itu memang rindang. Pohon-pohon berdaun lebat tumbuh di sekelilingnya. Di rumah ini pula acara ‘syukuran’ Tim Nasional U-23 setelah meraih medali perak Sea Games XXVI, November tahun lalu, digelar. Rumah ini tak lain milik taipan Arifin Panigoro.

Tak heran jika sejumlah pihak kemudian menduga Arifin Panigoro sebagai sosok dibalik kepemimpinan Djohar Arifin. Tudingan yang bikin gerah pengurus PSSI. Saat berkunjung ke kantor Tempo, Jumat pekan lalu, Djohar pun angkat bicara.

Berikut petikan wawancara Tim Tempo dengan Djohar Arifin yang didampingi Wakil ketua PSSI Farid Rahman, Deputi Sekjen Bidang Luar Negeri Rudolf Yesayas, Juru Bicara PSSI Eddi Elison, dan sejumlah pengurus lain.

Nurdin Halid (mantan Ketua PSSI) disebut-sebut mewakili keluarga Bakrie di PSSI, apa kini Anda mewakili Arifin Ponigoro?

Memang ada tuduhan yang tak enak ya, disebut sebagai boneka, itu yang paling..(tak melanjutkan). Saya ini guru besar di kampus, senior, dihormati, dan saya selalu diundang kemana-mana sampai ke Kalimantan untuk memaparkan konsep sepak bola. Sekarang saya punya kesempatan untuk melaksanakan kosep itu. Ini bukan soal hubungan dengan Pak Arifin (Ponigoro) atau Pak George (Toisutta).

Kenapa acara syukuran tim nasional U-23 yang sukses meraih medali perak di Sea Games XXVI lalu digelar di rumah Arifin Panigoro?

Ini perlu dikoreksi. Pak Arifin itu dia nonton. Begitu selesai dia minta (anak-anak) diundang makan. Masa saya larang (menghadiri) undangan makan. Dia (Arifin Panigoro) juga bilang mau kasih hadiah. Masa kita larang. Itu bukan kemauan saya bikin acara di rumah Pak Arifin, tapi beliau yang mengundang ke rumahnya.

Acara dan rapat PSSI di rumah Arifin Panigoro itu menimbulkan kecurigaan publik. Kalau rapat memang harus di luar kantor, kenapa tidak di tempat yang netral?

Rumah Pak Arifin memang disana, tapi disana juga ada graha untuk komplek pertemuan. Gedung pertemuan itu sangat bagus, ini yang dipakai. Tapi ini jadi catatan kami.

Farid Rahman menambahkan: Disana bukan hanya untuk acara sepak bola saja, acara tubercolosis pernah disitu dan yayasan air susu ibu juga di situ, saya sering datang ke situ.

Hubungan Anda dengan Nirwan Bakrie bagaimana?

Kami terus berhubungan dengan siapa saja, dengan Pak Agum (Gumelar), Nugraha (Besoes). Nirwan kemarin saya telepon waktu kita minta ijin Timnas U-19 yang bermain di Kuala Lumpur, katanya pakai saja. Masih terus hubungan. Tidak ada masalah. Siapa saja yang mau bantu PSSI kita akan datangi.

_dw_

*Koran Tempo, 16 Januari 2012

2 Comments leave one →
  1. tnt permalink
    January 20, 2012 7:29 pm

    keep posting..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: