Skip to content

Atlet Sportif, Jurnalis Berpihak

November 3, 2011

Di lapangan sepak bola, sportif bisa berarti tak menekel kaki lawan dari belakang, tak main mata dengan wasit, dan mungkin juga tak memakai jampi-jampi di mistar gawang. Sementara di dunia jurnalistik, sportif bisa berarti netralitas. Tapi ketidakberpihakan ini kerap gagal dipraktekkan para jurnalis yang meliput pertandingan olah raga.

Ambil contoh berita berjudul Timnas U23 Tekuk Persibo 2-0 yang dimuat di http://bit.ly/py0tLn . Pada paragraf ketiga, penulis berita itu mengetik: Andik Virmansyah yang menerobos barisan kanan sempat memberi umpan cantik ke tengah, sayang tandukan Patrick Wanggai melebar.

Pertanyaannya, kenapa si penulis harus menyempilkan kata ‘Sayang’ sebelum kalimat ‘tandukan Patrick Wanggai melebar’. Kata ‘sayang’ ini menujukkan si penulis tak rela bola tak masuk ke gawang. Meskipun bisa juga kata ‘sayang’ disini sengaja dipakai untuk menekankan sisi dramatis dari kejadian di mulut gawang tersebut.

Tapi, masalahnya, kata ‘sayang’ itu muncul lagi di paragraf ke-10: Timnas nyaris menambah gol ketika pada menit akhir Ferdinand menusuk lewat sisi kiri. Namun sayang, tendangan kerasnya dari dalam kotak penalti berhasil ditepis penjaga gawang Persikabo.

Dengan menambahkan kata ‘sayang’, si penulis seolah tak rela penjaga gawang Persikabo itu menepis bola. Harusnya bola itu masuk ke gawang, demikian mungkin harapan si penulis. Akan lebih netral jika kata ‘sayang’ itu dibuang. Toh pemangkasan kata itu tak akan membelokkan substansi peristiwa.

Banyak contoh berita-berita tentang pertandingan sepak bola yang memuat kata ‘sayang’ atau ‘beruntung’. Misal: Beruntung, bola masih membentur tiang gawang. Mungkin penulisnya ingin meniru komentator sepak bola di televisi yang sering mengulang-ulang kata tersebut. “Ah, Sayang sekali pemirsa…”

Memang, sih, kata macam ‘sayang’ dan ‘beruntung’ bikin berita narasi sepak bola jadi lebih dramatik. Tapi disisi lain, kata-kata itu juga menunjukkan keberpihakan si penulis.

Namun khusus di berita ‘Timnas Tekuk Persikabo 2-0,’ agaknya penulis tak bermaksud untuk tak netral. Sebab, pada paragraf ke-6, penulis juga menempelkan kata ‘sayang’ ketika pemain depan Persikabo gagal meloloskan bola ke gawang timnas. Selain itu, penulis berita itu tak lain adalah penulis sendiri🙂 .

So, pesan bermainlah sportif, seharusnya tak hanya dialamatkan untuk para pemain bola atau atlet, tapi juga kepada para juru tulis yang meliput mereka. Termasuk penulis ini😦 Memang agak sulit sih, apalagi kalau sudah menyangkut negara. Wartawan boleh dong berpihak ke Christian Gonzales, apalagi kalau pas melawan timnas malaysia nanti🙂 .

_dw_

One Comment leave one →
  1. February 17, 2015 8:45 pm

    Just want to say your article is as astounding. The clearness in your post is just great
    and i could assume you’re an expert on this subject.

    Well with your permission allow me to grab your RSS feed to
    keep updated with forthcoming post. Thanks a million and please carry on the rewarding work.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: