Skip to content

Setidaknya, Belikanlah Ibumu Kain Kafan

September 20, 2011

Kabar mengejutkan datang siang ini: ibu tua tetangga rumah meninggal dunia kemarin sore. Kematiannya tak diketahui kapan persisnya, karena ketika ditemukan anaknya, tubuh ibu tua yang baik hati ini telah kaku.

Ibu tua ini, saya biasa memanggilnya Bude Sum, sebenarnya punya delapan anak. Tujuh diantara mereka kini hidup sukses. Ada yang jadi dokter, pilot, dan lainnya karyawan swasta. Sementara satunya lagi, yang paling bungsu, kabur. Dia mengalami kelainan jiwa ketika usia remaja. Suaminya sendiri telah meninggal beberapa tahun lalu.

Bude Sum menempati rumah yang lumayan luas, sekitar 200 meter persegi. Beberapa genting rumahnya telah melorot dan langit-langit di teras rumah menganga. Karat juga mulai menggerogoti pagar besi yang berdiri di depan rumahnya. Bude Sum tinggal di rumah itu sendiri karena anak-anaknya telah mentas semua.

Saya tak tahu persis berapa usia Bude Sum. tapi kalau dilihat kondisi fisiknya, boleh jadi usianya di atas 60 tahun. Tubuhnya sangat kurus dan beberapa bulan terakhir ia tak lagi bisa berdiri. Sehingga, untuk pindah dari satu ruang ke ruang lain di rumahnya, ia harus merangkak atau mengesot. Pemandangan yang bikin ngilu.

Salah satu anaknya, yang tertua, sesekali datang menjenguk. Selebihnya Bude sum mengandalkan tetangga kiri-kanan yang setiap siang dan sore membawakan makanan. Pernah ia ditanya kenapa tidak ikut anak-anaknya, Bude Sum menjawab, “Saya ingin menunggu anak saya (yang bungsu) pulang dan nggak mau merepotkan mereka.”

Si ibu tak ingin merepotkan anaknya sementara anak-anaknya tak memedulikan kehidupan ibunya. Sangat kontras. Kalau si ibu tak mau ikut anaknya, anaknya harus berinisiatif membayar orang untuk mengurus ibunya. Syukur-syukur si anak bisa mengurus sendiri, begitu semestinya.

Tapi sampai si ibu menghembuskan nafas terakhir, itu tak pernah terjadi: ibu yang memiliki 8 putra ini meninggal seorang diri dengan tubuh gering. Tetangga yang kemudian datang bahkan tak menemukan selembar kain pun untuk menutupi tubuh kakunya!

“Anak-anak durhaka, jika kalian tidak bisa mengurus dimasa hidupnya, setidaknya belikanlah kafan untuk jenazahnya!”

Saya menyayangkan sikap Bude Sum. Ia terlalu nerima, terlalu sabar, terlalu ikhlas. Kalau saja Bude Sum mencontoh ibunda Malin Kundang, tentu Jakarta sudah punya delapan patung manusia batu. Tapi Bude Sum memilih menyimpan sumpahnya dalam-dalam.

Mungkin hanya kepada bumi yang kini memeluknya ia akan bercerita. Karena bumi adalah ibu bagi segala ibu, tempat segala air meresap, segala yang ditanam tumbuh.

Kata Gibran, “Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian..Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.”

Selamat jalan Bude Sum

_dw_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: