Skip to content

FPI

August 30, 2011

Suatu hari Nasrudin menerima dua orang yang sedang berselisih. Salah seorang diantara mereka lalu menjelaskan duduk perkaranya. “Seharusnya begitu, kan?” kata orang tersebut di akhir kalimatnya. Nasrudin yang mendengarkan dengan cermat segera menyahut, “Kamu benar.”

Namun seorang lainnya menyela. Ia membantah omongan temannya. “Kamu juga benar,” kata Nasrudin.

Istri Nasrudin yang mendengar pendapat suaminya segera protes. “Mana bisa dua orang yang pendapatnya berbeda ini bisa sama-sama benar?”

Nasrudin mengerutkan keningnya. Untuk sesaat keheningan menyelimuti ruangan. Tiba-tiba Nasrudin berkata, “Ya, kamu pun benar.”  Ia lalu berdiri dan pergi begitu saja. Kedua orang itu cuma bisa melongo. Sementara istrinya hanya menggelengkan kepala.

Dalam kisah sebenarnya, cerita itu berhenti sampai disini. Tapi saya ingin melanjutkan cerita itu dengan -tentu saja- karangan saya sendiri..hehe.

Sore hari Nasrudin kembali ke rumahnya. Dua tamu yang tadi datang sudah pergi sejak tadi. Namun belum sempat Nasrudin masuk, istrinya segera mencegat. “Kamu ini plin-plan, kalau tidak punya jawaban, jujur saja sama mereka, jangan bilang kamu benar..kamu benar.”

Nasrudin segera menyeret istrinya masuk. Ia menengok ke luar sebentar sebelum menutup pintu. “Kamu tidak tahu siapa mereka tadi?” kata nasrudin. Istrinya menggeleng. “Yang satu itu tadi Kyai NU. Satunya lagi Kyai Muhammadiyah.”
“Lalu kenapa?” sahut istrinya.
“Karena yang satu dari NU maka saya membenarkan pendapatnya. Dan karena satunya lagi dari Muhammadiyah, maka saya pun tak bisa menyalahkannya.”
“Kenapa begitu?” istrinya bingung.
“Karena disini memang tidak ada ruang untuk kebenaran lain selain dari dua organisasi itu.”
“Memangnya apa sih yang mereka selisihkan?”
“Soal hilal.”
Istrinya berpikir sejenak. “Tapi harusnya kamu tegas. Kalau kamu memang tahu mana yang benar, tunjuklah mana yang benar,” kata istrinya.
“Kamu tidak tahu sih,” kata Nasrudin sambil menghela nafas, “kebenaran itu dulu seperti cermin besar. Kamu tahu apa yang terjadi dengan cermin itu sekarang?”
Istrinya menggeleng.
“Cermin besar itu kini telah pecah. Masing-masing dari kita memungut pecahannya dan menganggap telah melihat kebenaran. Dan ada diantara kita yang menggunakan pecahan cermin itu untuk saling menusuk. Karena itu tadi aku bilang kamu benar..kamu benar..”

Istrinya manggut-manggut. Ia belum sepenuhnya paham penjelasan Nasrudin. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Nasrudin bergegas ke jendela. Mengintip: seorang lelaki berdiri di depan pintu rumahnya. Wajah Nasrudin mendadak pucat. Ia berlari ke belakang dan berbisik kepada istrinya. “Katakan pada lelaki itu aku tidak ada di rumah.”
Istrinya yang bingung menyahut, “Memangnya siapa yang datang?”
“FPI.”

Selasa, 30 Agustus 2011, 02.00 wib

_dw_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: