Skip to content

What We Have Become, Just Look What We Have Done

August 29, 2011

“..What we have become..just look what we have done..”

Masa depan dibentuk dari dari apa yang telah kita jalani. Karena itu ia bukanlah satu hal yang mutlak gaib. Kita bisa memprediksi, setidaknya menduga-duga, apa yang akan terjadi besok. Untuk itu, banyak instrumen yang bisa dipakai. Salah satunya dengan mengingat.

Yup, dengan mengingat masa lalu, dengan mencatat lagi apa saja yang pernah kita lalui, dengan mengumpulkan kepingan-kepingan masa lalu, akan memberi gambaran seperti apa masa depan yang akan kita hadapi kelak. Tak percaya? Saya pun tidak, sebelumnya. Tapi setelah mengingat-ngingat, setelah membuka lagi halaman demi halaman kenangan, saya mulai ragu-ragu untuk tidak percaya.

Dulu, waktu kelas 3 SD, saya pernah jualan koran di kereta. Rutenya Manggarai-Cilebut. Koran diambil di toko kaset samping Stasiun Lenteng Agung sebelum subuh. Jam 9 balik ke lenteng, setoran. Hasilnya lumayan, maksudnya lumayan capek..hehe. Karena itu dagangnya ga lama, cuma beberapa minggu atau bulan, maap lupa.

Lalu 1998. Ketika Presiden Soeharto lengser, Ekonomi anjlok. Kerusuhan dimana-dimana. Saat itu saya masih berseragam abu-abu, baru diterima di SMA. Di tengah hiruk-pikuk itu seorang teman mengajak usaha. “Bikin majalah musik, yuk!”

Awalnya tanpa konsep. Bahkan cover depan halaman edisi perdana tak lain band saya sendiri..xixixi..malu. Hasilnya? Gagal total di pasar. Hampir 80 persen majalah dikembalikan agen. Padahal harganya cuma @ Rp 1.500. Tapi teman saya pantang surut. Edisi kedua dilepas. Tapi lagi-lagi gagal.

Masuk edisi ketiga, modal buat nyetak dah habis. Ditambah harga kertas saat itu melonjak tinggi. Sementara, duit hasil penjualan majalah dua edisi sebelumnya di agen tak bisa diambil. Sebab, mereka memberlakukan sistem 3-1. Artinya, pembayaran edisi perdana dilakukan setelah edisi ketiga sampai ke tangan mereka.

Akhirnya diputuskan edisi ketiga tetap naik cetak meski dengan dana seadanya. Caranya, kualitas cetak dan kertas diturunkan. Cover jadi hitam-putih. Padahal dua edisi sebelumnya full colour. Saya usulkan agar tokoh cover depannya haruslah sosok yang pas dengan karakter hitam-putih. Supaya gak kelihatan banget kekurangan dananya, tapi karena memang konsepnya begitu, hehehe. Lalu disepakati cover ketiga adalah wajah Bob Marley, dengan linting ganja menggantung di bibirnya!

Di luar dugaan, edisi tersebut laris manis. Prediksi kami, edisi ketiga ini bakal jadi edisi terakhir, diterbitkan sekedar untuk mengakali agen agar duit kami dari dua edisi sebelumnya bisa ditarik. Ternyata Om Bob menebarkan berkahnya ke kami (saya kirimkan alfatihah untuk beliau). Dari edisi ketiga itu lalu terbit edisi-edisi berikutnya hingga nyaris 8 tahun kemudian.

Oplah majalah ini bahkan pernah menembus 35 ribu eksemplar. Majalah cakram edisi 6/2006 pernah memasukkan majalah ini dalam 10 majalah terlaris bersama majalah hai, bobo, dan tempo. Dan sekarang, majalah berukuran mungil itu tak lagi terbit. Saya keluar dari sana begitu diterima kerja di media lain. Keputusan yang berat saat itu. Tapi lebih berat kalau harus menulis untuk dua media, maksud saya beban moralnya.

Malam ini saya memikirkan lagi majalah mungil itu.  Dari hasil mengingat-ingat itu saya menyimpulkan: masa depan bukan kado Tuhan untukmu, tapi sesuatu yang kamu bentuk sebelumnya, meski kamu tak menyadarinya. Bermula dari menjual koran, lalu membuat majalah, dan sekarang kerja lagi untuk koran. Rangkaian perjalanan itu rasanya cukup jelas membuktikan teori saya tentang masa depan..hehe. Karena sekarang pun hidup saya tak jauh dari dunia koran, satu hal yang pernah saya lakukan jaman SD dulu.

Persis kata White Lion:  “What we have become..just look what we have done..”  (when the children cry)

Senin, 29 Agustus 2011, 01:04 wib

_dw_

2 Comments leave one →
  1. Sumire permalink
    March 1, 2015 6:27 am

    Kayaknya tau majalah ini. Waktu sekolah dulu sering pinjem punya temen😀

    • March 9, 2015 5:50 pm

      wow..ada pembaca yang inget ternyata. sudah lama sekali mas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: