Skip to content

Aku dan Puisi

August 27, 2011

Aku ingin menulis puisi, sebait saja, sekedar untuk membuktikan aku pun bisa seperti Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono atau bahkan penyair teler Jalaludin Rumi. Tapi apa yang ku lakukan? Berjam-jam hanya duduk menatap monitor laptop ini tanpa satu kata pun tertulis.

Barangkali puisi memang lahir dari sesuatu yang kosong, dari ruang hampa.  Dari situ ide mungkin akan menyeruak, sebuah gagasan, pergulatan batin, kegelisahan pikiran, yang semuanya akan mengalir begitu saja menjadi kata, kalimat, lalu membentuk bait-bait hingga tercipta puisi. Karena itu mungkin aku pun harus berproses dulu, melewati tahap bengong, berkontemplasi.

Tapi ini sudah tiga jam lebih dan belum satu kata pun. Bukankah ini sudah keterlaluan?

Atau jangan-jangan sejatinya puisi adalah kata-kata yang tak terkatakan, kalimat yang tak tertulis, seperti air mata bagi kesedihan dan tawa bagi kebahagiaan? Atau mungkin ini hanya justifikasiku saja yang memang tak mampu menulis puisi, meski hanya separuh kata.

Sabtu, 27 Agustus 2011 02:47

_dw_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: