Skip to content

Boikot Tuhan

June 17, 2011

“Kalau doa-doa tak lagi didengar, kenapa kita tidak memboikot Tuhan aja?”

Ide gila ini loncat dari bibir seorang kawan ketika kami asyik
membicarakan aksi-aksi penolakkan atas serangan zionis ke Gaza,
termasuk aksi memboikot produk amerika yang dilakukan warga malaysia.
Pemboikotan produk amerika dinilai percuma karena justru bakal memukul
perekonomian kita sendiri. Produk-produk yang diboikot, kata kawan
itu, cuma recehan. “Kita boikot McD, Coca-Cola, Pizza, tapi ribuan barel
minyak kita tetap mengalir kesana!”

Ia juga menilai nyinyir gelar doa bersama yang digelar sejumlah
kalangan untuk membantu warga Gaza. Nyatanya, kata teman itu, sampai
detik ini pembantaian terus berlangsung. “Tuhan mungkin sudah pergi
dari Palestina,” katanya. Karena itu kita butuh lebih dari sekedar doa
untuk membuat Tuhan kembali melirik Gaza, kemudian menolongnya. “Cuma
boikot jalannya!”

Ia lalu menjelaskan, dengan mata berbinar, kalau kita semua sepakat
mengabaikan azan, sama-sama menolak shalat, ada kemungkinan Tuhan akan
memperhatikan. Sebab, kata dia, Tuhan akan kehilangan eksistensinya
kalau tiada seorang pun yang menyembahnya. “Sekali-kali kita yang
mahluk ini, harus jual mahal juga.” katanya.

Gw cekikikan mendengarnya. Tapi ia rupanya serius. Boikot Tuhan, teman
itu melanjutkan, akan membuat posisi tawar mahluk menjadi lebih
tinggi. Kalau berdoa sebaliknya, justru menurunkan daya tawar karena
menunjukkan kelemahan kita.

“Gimana kalo aksi boikot justru membuat Dia marah lalu membinasakan
kita semua? ” gw mulai tertarik menanggapi.

“Nggak mungkin,” sahutnya sambil mengibaskan tangan. Tuhan nggak akan
membinasakan manusia karena Ia membutuhkan kita untuk menyembah-Nya.
Dia boleh Maha Kuasa Atas Segalanya tapi tanpa ada manusia yang
menyembah-Nya, tak akan berarti apa-apa.

Itulah kenapa Dia menghidupkan lagi orang-orang yang mati lalu
mengekalkannya di surga atau neraka. Karena dia butuh ada mahluk, Dia
butuh penyembah, jadi mustahil memusnahkan manusia. “Jika itu
dilakukan sama aja Dia menghilangkan ketuhanannya sendiri.”

Ia menyeruput kopi lalu membakar sebatang kretek. Sesaat ia diam,
menikmati pikirannya sendiri, lalu mendadak berdiri. “Gue cabut dulu,
ya,” katanya sambil mengeluarkan dompet lalu menaruh tiga lembar
ribuan di meja. “Mang, kembaliannya disimpen aja dulu ya, jadi besok
saya tinggal nambahi kekurangannya kalo pesen kopi lagi.”

“Lho soal boikot ini belum kelar,” gw protes.

Tapi ia tak acuh saja, jalan melenggang hingga tubuhnya habis ditelan malam.

Friday, January 23, 2009 at 7:40am

_dw_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: