Skip to content

‘Nyablak’ Soal Jakarta

June 13, 2011

Kotak itu berdiri tak jauh dari pintu masuk Hall B1 Arena Pekan Raya Jakarta. Berukuran 1,5 x 2 meter dengan dinding mika, kotak ini mirip boks telepon umum dari kaca yang dulu pernah ada.

Bedanya, kotak ini bukan milik PT Telkom, melainkan disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di sampingnya dipacakkan dua spanduk bertulisan “Kotak Nyablak: Tempatnya Usul-usil dan Unek-unek buat Jakarta Tercinta.”

Seperti namanya, kotak ini memang ditujukan untuk memancing aspirasi warga Jakarta. Setiap pengunjung kotak itu dipersilakan nyablak tentang segala problem di Ibu Kota menggunakan mikrofon serta perekam gambar dan suara yang terpasang di dalam kotak tersebut.

Yang tinggal dilakukan adalah menekan atau menyentuh tanda “mulai” di layar televisi datar yang ada di satu sisi dinding kotak. Setelah itu, layar monitor akan menampilkan pertanyaan: “Kalo elo jadi Gubernur, apa yang pertama kali lo lakuin?” Tersedia 20 detik untuk menjawabnya.

Dari setiap usul, usil, ataupun tumpahan unek-unek yang diterima setiap harinya, akan dipilih satu untuk ditampilkan di akun Twitter @JKTkita dan akun Facebook JKTkita–dua situs jejaring sosial yang khusus mempromosikan perayaan ulang tahun Jakarta ke-484 pada tahun ini.

“Kotak yang dipasang di PRJ hanya untuk permulaan,” kata Hani, pengelola Kotak Nyablak yang ditunjuk pemerintah provinsi. “Kami sudah menyiapkan beberapa kotak lainnya yang akan dipasang di beberapa tempat,” katanya lagi sambil menambahkan bahwa dia menerima order dari Badan Penanaman Modal dan Promosi Pemerintah Provinsi DKI.

Anda Darmawan, 32 tahun, adalah satu di antara para pengunjung PRJ yang sudah mengunjungi kotak itu. Tapi dia mengeluhkan waktu yang dinilai harus ditambah. “Kalau cuma 20 detik, mana bisa nyablak seenaknya?” katanya, Sabtu lalu.

Warga Cililitan, Jakarta Timur, itu ingin menceritakan rumahnya yang selalu kebanjiran setiap musim hujan. Waktu 20 detik tak cukup untuk ceritanya itu. “Putus di tengah jalan,” ujarnya.

Edward, operator Kotak Nyablak, mengakui belum banyak pengunjung yang mau nyablak di sana. Setelah hari pertama bisa digaet 12 pengunjung, hari-hari berikutnya malah terus melorot.

Banyak pengunjung ragu untuk masuk. Mereka yang sudah masuk pun banyak yang terlihat bingung bagaimana harus memulai, dan akhirnya keluar lagi. “Seharusnya memang ada pemandu dan petunjuk yang lebih jelas,” kata Edward.

Sejauh ini aspirasi lebih ramai justru disampaikan di sebuah kertas yang dimaksudkan sebagai catatan pengunjung replika mass rapid transit di hall yang sama. Menurut penjaga replika itu, Adinda, hampir setiap pengunjungnya memang bertanya kapan sistem angkutan modern yang akan membelah Jakarta, mulai Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia, dengan cara melayang maupun menembus di bawah tanah, itu akan mulai beroperasi.

Para pengunjung itu menulis di kertas yang disediakan, di antaranya “Cepat diwujudkan, jangan lama-lama” dan “Jangan cuma menanggulangi macet, tapi polusi juga”. Atau yang ditulis Nino asal Kuningan, Jakarta Selatan, “Dah gak sabar nih naik MRT”. Total sampai kemarin sore sudah 20 lembar kertas yang terisi. DWI RIYANTO | IRA GUSLINA | WURAGIL

dimuat di Koran Tempo edisi Senin, 13 Juni 2011. Visit http://www.korantempo.com

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: