Skip to content

Tentukan Bintangmu

December 15, 2021
ilustrasi: Pinterest


Hati adalah laut yang gelombangnya tak selamanya mampu kau baca. Ia bisa mengombang-ambingmu tanpa kau merasa terombang ambing. Membuatmu semakin asing dan terasing lalu menjadi sekedar titik yang perlahan dilupakan.

Sementara pikiran adalah gemintang di langit malam yang menjadi petunjuk arahmu dan kerlipnya menghibur sedihmu. Mereka tetap di sana, dalam posisi dan rasi yang selamanya tak berubah.

Maka tentukan bintangmu lalu kayuhlah sauh atau kembangkan layarmu menujunya, daratan menunggumu. Atau kamu memang menghendaki kebimbangan tanpa titik: larut dalam laut yang selamanya tak dimiliki atau memiliki..

Dari Notes FB Januari 2010

-dw-

Mengejar Aroma

October 11, 2021
Kopi Aroma. 📸: Me

“Kita gak akan keburu kalau ke Aroma,” kata teman saat kami keluar di exit Tol Pasteur. Aroma yang dimaksud adalah Kedai Kopi Aroma di Jalan Banceuy, Bandung.

Saya lirik jam, sudah pukul 13.35 WIB. Memang tidak akan keburu. Sebab dari exit Tol Pasteur menuju Braga tempat Kedai Aroma cukup memakan waktu. Belum lagi macetnya. Maklum, ini Sabtu. Sementara kedai Kopi Aroma tutup pukul 14.00 WIB.

Jadi, apa boleh buat, Kedai Aroma kami coret dari daftar.

Padahal saya kangen banget ingin mencicipi aromanya kopi Aroma. Terakhir kali saya minum kopi Aroma di kedai Kopi Tiam Oey di Jalan Sabang Jakarta bertahun-tahun lalu. Sampai saat ini saya masih menyimpan kenangan akan rasa dan aromanya.

“Aneh ya ada kedai kopi tutup jam 2 siang, Sabtu pula. Padahal ini lagi rame-ramenya, kan,” kata saya.

“Sebenernya gak aneh,” sahut teman saya. Dia pernah mewawancari pemilik Aroma.

Oya, kedai kopi aroma sudah berdiri sejak 1930-an. Sejak itu konon tak banyak yang berubah dari kedai ini, baik toko maupun rasa dan aroma kopinya.

“Pemilik Aroma itu kokoh-kokoh yang kayaknya menjalankan bisnis bukan untuk meraup kekayaan sebanyak-banyaknya,” kata teman saya.

“Mana ada. Orang berbisnis ya pasti mencari cuan,” sahut saya.

“Gue gak bilang dia gak mencari cuan, tapi sepertinya dia gak berpikir cuan adalah segalanya.”

“Hmm…”

“Kopi Aroma itu udah dikenal. Orang se-Bandung Raya pasti tahu kedai kopi ini. Jadi kalau kokohnya mau, bisa aja dia expand, go nasional, tapi dia memilih bertahan. Dia memilih gini-gini aja.”

“Kenapa begitu? Kenapa dia melewatkan peluang untuk menjadi lebih besar, meraup lebih banyak cuan?”

“Kenapa harus ngoyo mengejar cuan kalau secangkir kopi udah cukup membuat lo bahagia?” katanya balik bertanya.

Saya diam.

“Kokoh pemilik Aroma itu mengelola kedai kopi seperti petani yang selalu menanam di lahan yang itu-itu juga. Itu sebabnya dia gak membuka penjualan kopi secara online.”

Mobil terus merayap membelah kemacetan Kota Bandung. Saya masih merasa ada yang aneh dengan konsep berbinis tapi enggan meraup cuan sebanyaknya.

“Kalau begitu, besok saja kita ke kedai Aroma-nya,” kata saya. Kebetulan kami akan menginap di Bandung malam ini.

“Kamu belum tahu?” sahut teman saya. “Kedai Aroma tutup hari Minggu.”

_DW_

Sugeng Tindak, Mas Hari..

July 15, 2021
Foto diambil dari laman Facebook Mas Hari Prasetyo

Saya baru menyalakan komputer ketika Mas Hari tiba di kantor. Ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek dengan tas ransel di pundak.

“Sepedaan lagi, Mas?”

“Iya. Tipis-tipis aja,” katanya

Mas Hari lalu mengeluarkan handuk kecil kemudian berjalan menuju toilet. “Aku nyeka dulu, ya.”

Mas Hari, lengkapnya Hari Prasetyo, adalah editor olahraga di Tempo. Saya mulai akrab dengannya sejak bergabung ke desk sport pada awal 2011.

Semula saya mengira Mas Hari pendiam. Tapi saya keliru. Sebab Mas Hari ternyata doyan ngobrol. Kalau sudah kumpul bareng Pak Agus Baharudin dan Mas Tulus Wijanarko –dua editor sport lainnya, obrolannya bisa gado-gado.

Dari obrolan itu saya kemudian tahu kalau Mas Hari menyimpan begitu banyak cerita. Mas Hari ternyata juga pegiat teater. Ia, bersama timnya, bahkan kerap mentas di berbagai negara di Eropa.

Pernah suatu pagi sepulang dari Eropa ia menghampiri saya lalu menyodorkan jersey berwarna biru bertuliskan “Ukraine”.

“Sorry ya, aku cuma bawa ini aja,” katanya.

Saya lupa di mana menyimpan jersey tersebut. Tapi kebaikan, kerendahhatian, juga kebersahajaannya masih terus membekas.

Komputer saya sudah nyala ketika Mas Hari datang dari kamar mandi. Handuk kecil tersampir di pundaknya sementara tangan kanannya membawa segelas teh. Celana pendeknya berganti sarung.

Beberapa jam kemudian teh itu masih utuh.

“Udah dingin kali Mas tehnya,” canda saya.

Mas Hari cuma tersenyum sambil menjawab singkat, “Oh, ini buat persiapan buka puasa nanti..”

Siang ini saya mendapat kabar Mas Hari berpulang. Sugeng tindak, Mas. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah…

_DW_

Lorong Duka

July 15, 2021
Menangkap cahaya. Foto: Dwi Agustiar

Kabar-kabar duka berdatangan seperti lorong gelap panjang yang seolah tak berujung. Foto-foto mereka yang telah tiada bergelantungan di kedua sisi dinding lorong.

Hari ini di dinding itu bertambah dua foto baru: Mas Hari Prasetyo dan Mas Yoni Iskandar.

Mas Hari editor sport saya semasa di Tempo. Beliau orang baik yang suka gowes ke kantor, rajin berpuasa, dan hobi main teater. Kini ia telah melepaskan semua perannya di dunia. Selamat jalan, Mas Hari..

Mas Yoni saya kenal saat liputan Prabowo 2009 lalu. Saat itu kami menyusuri jalur pantura selama sepekan. Mas Yoni teman yang asyik, humoris dan terkadang bijak. Semoga mendapat tempat terbaik di sana ya, Mas..

Pekan lalu Om saya pergi. Beberapa hari kemudian istrinya menyusul, meninggalkan lubang duka yang teramat dalam.

Lorong gelap ini masih panjang. Tapi kita harus terus melangkah sambil berdoa semoga tak melihat foto kita sendiri di dinding duka itu..

_DW_

Asal Mula Nama Winona Rider

July 8, 2021

Malam ini membahas Winona Rider sama teman di chat WA. Ternyata dia gak tahu kalau Winona itu nama alias. Nama aslinya adalah Helen. Waktu kecil Helen tinggal di Ambon. Dia sering digoda karena kulitnya putih.

“Wii..Nona mau ke mana, kah?” begitu goda teman-temannya setiap kali Helen lewat.

Godaan itu berlangsung terus sampai si Helen akhirnya terbiasa dengan sebutan “Wii..Nona” yang lama-lama jadi Winona.

Saat kembali ke AS, Helen memutuskan mengganti namanya menjadi Winona untuk mengenang teman-temannya di Ambon.

Demikian sedikit kisah Winona yang bukan aktris.

_DW_