Skip to content

Karena Nama Punya Cerita

February 3, 2015

Saya pernah berkhayal, jika suatu saat saya dititipi anak perempuan, saya akan menamainya Jingga. Sebuah nama yang anggun. Juga warna yang selalu membuat saya terpesona.

Tapi kemudian saya berpikir, jika saya menamainya Jingga, maka kelak saya akan memanggilnya, “Jing”. Lalu dia mungkin akan menyahut, “Ya, (A) Biii.”

Jadinya seperti anjing memanggil babi. Maka saya coret nama Jingga ketika dokter kandungan memastikan kehamilan istri saya, April lalu.

Saya sebenarnya tidak begitu mempersoalkan nama. Apapun selama klik di hati, akan saya pilih. Persoalannya, mencari yang klik itu yang susah.

Beberapa orang mungkin menganggap nama seperti ruang kosong tempat bermacam doa bisa dijejalkan ke dalamnya. Karena itu mereka menggunakan kata-kata sarat doa untuk nama anaknya.

Saya sendiri menganggap nama adalah cerita. Karenanya ia bisa apa saja. Bisa Timur Angin, Embun Pagi, Mata Senja atau bahkan Hening. Semua membawa kisahnya masing-masing.

Begitu pun dengan putri kami. Ia hadir dengan kisahnya sendiri, tentang tawa dan tangis kami menyambut kehadirannya. Karena itu, saya menamainya Didia Dakita, versi langsing dari kalimat “Di dia ada kita”.

Selamat datang, Didia. Jangan cepat besar ya, nanti nggak lucu lagi :)

_DW_

Ketika Subuh Selalu Molor

November 20, 2014

foto: me

foto: me

Setiap kali bangun kesiangan, istri saya biasanya langsung mengambil wudhu lalu salat subuh –sekalipun jam sudah menunjuk pukul 06.30 wib. “Mending telat daripada nggak sama sekali,” begitu katanya.

Saya cuma nyengir. Namanya saja shalat subuh, dikerjakannya ya di waktu subuh. Kalau sudah jam segini, namanya bukan lagi salat subuh. Mungkin duha.

Tapi kalimat itu tak pernah benar-benar keluar dari mulut saya. Takut dia tersinggung. Saya lebih memilih tidur lagi. Salat yang terlewat hari ini, saya akan membayarnya subuh besok.

Pernah ada teman yang bertanya: “Apa bisa salat diganti waktunya?”

Kenapa nggak? Derajat salat, setidaknya menurut rukun Islam, lebih tinggi dari puasa Ramadhan. Jika puasa bisa diganti, kenapa salat nggak bisa?

Memang ada beberapa hadis yang menyebutkan Rasul pernah bangun ketika matahari sudah kelewat tinggi lalu langsung salat subuh. Ini menjadi dasar mereka melakukan salat subuh di luar waktunya.

Tapi, benarkah –atau mungkinkah–rasul pernah bangun kesiangan lalu tergopoh-gopoh salat subuh? ..lanjut

Perginya Senandung Ibu

October 30, 2014

“Kau selalu di hati, bersemi di dalam kalbu, dari semula, hingga akhirnya, kasih ku serahkan..”

Suara Mba (apa tante ya?) Tetty Kadi dari komputer tua di meja seberang mengingatkanku pada ibu.
Dulu sekali, ketika dua adikku belum lahir, ibu selalu menyetel lagu-lagu Tetty Kadi lalu ikut mendendangkannya.
Kini, ibu tak selincah dulu. Keriput mulai merambati kulit-kulitnya dan ia mulai sering mengeluh sakit kepala.
Tapi ia masih bisa berjalan ke pasar. Hanya, ia tak lagi menyanyi. Saya tak tahu persis mulai kapan ibu berhenti bernyanyi. lanjut

Nyi Ratu di Belakang Jokowi

October 21, 2014

Ilustrasi API

Ilustrasi API

“Kamu tahu Nyi Roro Kidul? Dia sekarang dekat dengan Jokowi,” kata Seno sambil mengunyah sebatang bengbeng.
Saya tak terkejut mendengarnya. Sebab otak manusia satu itu mirip kuda liar, sering loncat-loncat ga karuan.
Meski begitu, toh, saya tertarik juga. “Dari mana kamu tahu? Memangnya kamu paranormal? Lagian memangnya Nyi Roro Kidul beneran ada?”
Seno tersenyum, lebih tepatnya mencibir. Dia menunjuk televisi sambil berkata, “Kamu nonton pelantikan Jokowi pagi tadi?”
Ia tak perlu jawaban karena mulutnya yang masih penuh bengbeng itu cepat berkata lagi. “Di pelantikan itu Jokowi bilang dia akan mengembalikan kejayaan samudera kita.”
“Ya, saya dengar itu.”
“Nah, setelah pelantikkan, dia diarak ke Istana dengan kereta kencana. Samudera dan kereta kencana, apa yang bisa kamu simpulkan?”
“Nyi Roro…” lanjut

Habis Susu, Tumbuhlah Cabe

October 10, 2014

IMG_4543-1Sepasang daun mungil itu akhirnya mekar juga. Usianya baru 7 hari, batangnya masih rapuh, namun ia hidup. Bahagia sekali melihatnya. Benar kata orang, berkebun itu ternyata memang menyenangkan.

Apalagi, modalnya pun tak banyak. Hanya butuh biji-bijian, tanah, sedikit pupuk, dan pot. Bijinya bisa biji apa saja, tergantung selera. Saya memilih biji cabe, karena kebetulan punyanya itu.

Ini adalah biji cabe meksiko. Saya membelinya di Ace Hardware. Satu sachet harganya –kalau nggak salah–Rp 15 ribu. Cukup murah karena berisi puluhan biji cabe. Ada jaminan pasti tumbuh pula!

Tanah tinggal keduk sedikit dari halaman belakang lalu masukkan ke pot. Karena nggak punya pot, jadi kardus bekas susu uht pun jadi, hehe. Untuk menyemai saja tak apa, nanti kalo sudah besar tinggal dipindah ke pot beneran. lanjut