Skip to content

Zona Nyaman yang Gak Nyaman

June 7, 2018
kalender
Ilustrasi: Unsplash/Brooke Lark
Suatu malam menjelang tidur, seorang istri berbisik, “Mas, kayaknya kamu harus pindah kerja, deh.”
“Lho, kenapa?”
“Karena aku lihat kamu udah terlalu nyaman.”
“Lho orang udah nyaman kok malah disuruh pindah?”
“Karena kenyamanan itu bikin kamu mandeg. Kamu nggak tertantang untuk melompat lebih tinggi atau melangkah lebih jauh.”
“Memangnya aku harus melompat setinggi apa? Melangkah sejauh apa?
“Setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya,” sahut sang istri.
“Setinggi-tingginya aku terbang tetap gak akan bisa menyundul langit karena langit nggak berbatas. Sejauh-jauhnya aku melangkah pun tetap gak akan sampe ke ujung karena bumi itu bulat.”
Hening sesaat.
“Jadi kamu nggak mau meninggalkan zona nyamanmu?”
“Buat apa?”
“Ya sudah.” kata si istri sambil membalikkan badan.
Lelaki itu menghela nafas. Baginya, cara berpikir istrinya sungguh aneh. Tanpa sadar ia menggelengkan kapalanya.
Saat ia menggeser tubuh untuk guling, tatapannya membentur kalender dinding. Langsung teringat olehnya kontrakkan yang dua bulan belum dibayar.
Mendadak hatinya tak nyaman..

_DW_

Advertisements

Temukan Bingkai Mu Sendiri

June 5, 2018
FullSizeRender
Dengan atau tanpa sadar kita kerap memframing diri kita sendiri dengan bingkai yang dipasangkan orang lain.
Kita gak ingin keluar dari bingkai tersebut karena gak ingin orang itu kecewa. Lalu kita jadi jaim, jadi manis, jadi orang yang dibentuk oleh persepsi orang lain.
Gak masalah sih, selama bingkai itu membuat kita nyaman. Tapi bahkan di zona ternyaman pun seringkali kita gelisah.
Jadi gak ada salahnya sesekali loncat dari bingkai, keluar dari kotak, lalu berlari mengikuti kata hati, mencari bingkai kita sendiri.

_Dw_

Syahadat Kanjeng Dimas

November 10, 2016

Penasaran dengan pertanyaan yang sejak tiga hari terakhir berkeliaran di kepalanya, seorang santri menemui pimpinan pondok.

“Kanjeng,” katanya saat tiba di depan Kyai.

“Ya, Dimas..”

“Bukankah syahadat adalah pintu pertama untuk beriman?”

“Benar.”

“Kalau begitu, kenapa Tuhan justru meminta Nabi membaca pada wahyu pertama? Harusnya kan mengucapkan syahadat.”

“Dimas,” Kyai menyahut.

“Dalem, Kanjeng..”

“Membaca adalah pintu masuk menuju pemahaman. Dan pemahaman adalah jalan menuju keyakinan.”

Hening sejenak. Dimas melirik segelas kopi di atas meja samping Kyai. 

“Dan hanya dengan keyakinan yang dilambari pemahaman, seseorang akan sampai pada penyaksian. Apa kamu paham?”

Dimas menggeleng. Jawaban Kyai terlalu berat buatnya. “Tapi saya akan taat,” sahutnya.

“Bagus. Jadilah pribadi yang taat.”

“Baik, Kanjeng..”

Dimas kemudian pamit. 

_dw_

Hawa datang bulan

October 18, 2016

Hawa tiba tiba muncul di tengah tulisan. Ia langsung marah-marah. “Kamu, kalian, tidak adil kepada kami,” katanya.

“Apanya yang tidak adil,” sahutku terkejut. Kemunculannya yang ujug-ujug seperti hantu dan tudingannya membuatku sedikit shock.

“Ini,” katanya sambil menunjuk sebaris frase di monitor. “Hawa nafsu,” katanya.

“Apanya yang salah?”

“Kamu tahu,” sahutnya dengan tatapan sinis. “Dengan menulis ‘hawa nafsu’ berarti kamu telah merendahkan perempuan.”

“Hah?” Sahutku takjub.

“Ya.” Jawabnya. “Sebab, kalau ada hawa nafsu, seharusnya juga ada adam nafsu. Karena yang punya nafsu bukan cuma hawa!”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Pikiranku sibuk mengingat kapan terakhir kali ia datang bulan..

_DW_

Adil Sejak dalam Doa

September 7, 2016

Sebelum lomba lari anak-anak dimulai, gadis kecil itu menundukkan wajahnya. Mulutnya berkomat-kamit memanjatkan doa.

Begitu lomba dimulai, gadis kecil itu langsung menerjang. Ayunan kakinya begitu ringan. Tubuhnya meluncur seperti anak kijang.

Akhirnya, meski dengan tubuh basah kuyup dibanjiri keringat, gadis kecil itupun menjadi anak pertama yang muncul di garis finis.

Seorang guru sekaligus juri kemudian mendekatinya. “Hebat, Nak!” berkata Si Guru. “Sebelum lomba saya lihat kamu berdoa, ya?”

Gadis itu mengangguk. Bulir-bulir keringat masih terus mengalir dari dahinya. “Kamu meminta Tuhan menolongmu agar bisa menang, ya?”

Tiba-tiba gadis itu menggeleng. “Kalau saya minta Tuhan agar Dia memenangkan saya, itu sama saja saya meminta agar peserta lain dikalahkan. Itu tidak adil,” katanya.

“Kenapa begitu?” Si Guru sedikit bingung. Dahinya yang mulai keriput semakin berkerut.

“Karena seperti saya, mereka pun sudah berusaha keras untuk menang. Jadi biar usaha kami yang menentukan, bukan bantuan Tuhan.”

Si Guru terhenyak. Namun sesaat kemudian ia kembali bertanya, “Kalau begitu, apa yang kamu minta pada Tuhan dalam doamu tadi?”

“Saya meminta kepada Tuhan agar Dia memberi kekuatan supaya saya tidak menangis saat kalah..”

_DW_

 

 

*terinspirasi dari cerita teman di wa