Skip to content

Lawan Kita Adalah Intoleransi

July 20, 2015

Masih ingat ketika para penganut Ahmadiah diburu atau ketika ratusan orang Syiah diusir dari kampung halaman mereka?

Sampai hari ini, pengikut Ahmadiah masih takut menunjukkan keyakinan mereka dan orang-orang Syiah masih mengungsi.

Masih ingat juga puluhan orang yang tak bisa melakukan kebaktian di Gereja Yasmin? Sampai sekarang gereja itu kabarnya masih disegel.

Cerita-cerita menyedihkan seperti ini selalu berulang dan terus bermunculan hingga akhirnya kita bersikap permisif dan menganggap lazim intoleransi. lanjut

Ngopi Tak Meski Pahit

June 29, 2015

Kata orang, minum kopi yang benar itu tanpa gula. Pahit memang, tapi di situlah nikmatnya. Aneh ya, pahit kok nikmat? Begitulah. Maka, demi meminum kopi secara benar, saya pun berulangkali minum kopi minus gula.

Salah satunya saat acara #ngipidikantor saat berbuka tadi. Saya memesan kopi tubruk. Mas Eko, sang barista, berpesan, “Tunggu empat menit, jangan diaduk, biarkan kopinya turun sendiri.”

Saya ikuti sarannya. Dua menit berlalu. Butir-butir kopi perlahan larut menjadi buih coklat yang menutupi permukaan cangkir. Tak lama kemudian buih coklat itu berguguran, menyibakkan wajah kopi sesungguhnya yang hitam pekat.

Inilah saat paling pas untuk menyeruputnya. Saya berharap pahit kali ini akan berbeda, pahit yang nikmat, seperti yang dikatakan orang-orang. Namun, sekali lagi, saya keliru.

Cukup satu tegukan untuk membuat leher saya tercekik. Pahitnya itu, seperti rasa jamu godok bikinan ibu! Seharusnya saya sadar, pahit tak punya makna lain selain pahit. lanjut

Cuma Anak Kecil, Bukan Anak Nakal

April 20, 2015
ilustrasi: pixgood.com

ilustrasi: pixgood.com

Saya lagi menonton teve ketika seorang keponakan datang dan langsung bertanya, “Om, boleh injek kakinya, ga?”

Tentu saja, saya menggeleng. Tapi dasar anak kecil, ia tetap saja menginjak kaki saya. Berkali-kali. Sambil tertawa pula.

Tak lama setelah itu, bocah yang usianya belum genap lima tahun ini mendadak menyodorkan kakinya. “Nih, Om gantian kakiku diinjek,” katanya.

“Nggak, ah,” saya menggeleng.

“Kamu takut diomelin ayahku, ya? Gapapa Om, injek aja. Aku nggak ngadu ke Ayah, kok,” katanya dengan tatapan yang nyaris membuat saya tertawa.

Segera saya tarik lengannya lalu berbisik, “Aku nggak mau nginjek karena aku nggak mau menyakiti orang lain.”

Sesaat ia diam. Mata besarnya menatapku. Saya tahu sesuatu sedang berkelebat di kepalanya. Entah apa karena tiba-tiba ia menubrukku. “Maaf ya, Om..aku nakal..” ..lanjut

Karena Shalat Tiga Waktu

March 16, 2015

anak-kecil-shalatIni adalah artikel lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Al Quran Lain Milik Syiah.

Selain menuding Syiah telah mengubah Al Quran, ustad tersebut juga menganggap kaum syiah hanya shalat tiga kali.

Kebetulan saya punya beberapa teman bermazhab Syiah. Mereka shalat lima kali, kok, hanya waktunya memang tiga kali.

Ini karena mereka sering menggabung zuhur dengan asar dan magrib dengan isya. Sehingga timbul kesan mereka hanya shalat tiga kali.

Namun barangkali kita lupa: shalat dan waktu shalat adalah dua hal yang berbeda. Shalat memang lima kali sehari tapi waktunya terbagi menjadi tiga. .. lanjut

Al Quran Lain Milik Syiah

March 9, 2015

koranSeorang ustad mengirim artikel berantai berisi ajakan mewaspadai gerakan Syiah. Ia menuding Syiah adalah aliran sesat. “Bukti kesesatan mereka antara lain mengubah Al Quran. Mereka mempercayai Al Quran yang berbeda,” tulisnya.

Saya berharap ustad tersebut pernah memegang, membaca, dan meneliti sendiri Al Quran kaum Syiah, sehingga tudingnya tak semata berdasarkan katanya. Namun saya bahkan ragu ia pernah melihatnya.

Barangkali ustad itu juga lupa kalau Al Quran adalah kitab yang kesuciannya dijamin langsung oleh Tuhan. Dengan jaminan ini, maka isi Quran tak akan berubah satu ayat pun, hingga kiamat nanti.

Dengan menuding kaum Syiah telah mengubah Al Quran, atau ada Al Quran lain yang berbeda, berarti ustad itu telah menyangsikan janji Tuhan tersebut. Dia mungkin khilaf, tapi saya lebih percaya dia pandir. ..lanjut