Skip to content

Surga atau Harta? Malaikat Bingung

November 20, 2020
<a href=”https://www.vecteezy.com/free-vector/dream”>Dream Vectors by Vecteezy</a>

Seno tertidur di tengah wirid. Seorang malaikat kemudian menyusup ke dalam mimpinya. Setelah berbasa-basi memperkenalkan diri, malaikat itu langsung bertanya, “Kamu pilih mana: surga atau harta yang gak akan habis tujuh turunan?”.

“Harta, doong!” jawab Seno spontan.

Malaikat itu kaget. Jawaban Seno nyaris membuatnya terjengkang. Ia mengamati Seno selama beberapa hari ini dan selama itu pula ia menjadi saksi betapa rajinnya Seno beribadah.


‘Ternyata hatinya masih terperdaya dunia,’ batin malaikat tersebut dengan nada kecewa. Ia lalu lenyap begitu saja dari mimpi Seno.

Malam berikutnya ia menjelma menjadi seorang bapak. Ditemuinya Wak Haji di pondok. Wak Haji merupakan guru mengaji Seno. Dia yang menuntun Seno selama ini.

Malaikat tersebut menceritakan pilihan Seno dalam mimpi semalam. Wak Haji hanya manggut-manggut mendengarnya. Selepas malaikat itu pamit, Wak Haji langsung memanggil Seno.


“Aku tahu mimpimu semalam,” todong Wak Haji begitu Seno duduk di depannya. “Pilihanmu itu menandakan kamu lebih mencintai dunia dibanding akherat.”.


Seno terkejut mendengarnya. Hatinya bertanya-tanya dari mana Wak Haji tahu mimpinya. Namun ia segera mafhum kalau Wak Haji bukan guru ngaji biasa.

Read more…

Curug Nambo Bogor…Ternyata Ada Pelanginya!

November 19, 2020

Akhirnya…setelah nyambi sana-sini video perjalanan menuju Curug Sawer Nambo kelar juga. Durasinya cuma lima menitan, tapi ngerjainnya butuh dua butir panadol merah..wkwk.

Maklum, saya terbiasa mengolah teks, bukan gambar, apalagi video. Jadinya masih kikuk. Selain itu tools-nya juga pas-pasan. Dan saya juga baru sepekan ini belajar Adobe Premier..🙈.

Jadi mohon maaf ya kalau editannya kurang halus, jahitan footage2-nya berantakan, dan soundnya sekadar nempel aja..hehe.

Oya, saat melihat ulang rekaman di Curug Nambo, saya terkejut karena kamera saya bisa menangkap bias pelangi yang muncul di kaki curug.

Padahal waktu merekam pelangi tersebut saya sudah skeptis. Ternyata GoPro 4 bisa merekamnya, meski warna-warni pelangi yang terlihat pada video gak secerah aslinya.

Rekaman pelangi tersebut ada pada menit ke…ke berapa ya? Lupa saya. Tonton sendiri aja, yak. Tinggal klik video di atas. Trims, ya.

_DW_

Curug Sawer Nambo Bogor, Surga Tersembunyi di Hutan Bambu

November 15, 2020
Curug Sawer Nambo

Sabtu pagi kemarin (14/11/2020) saya gowes ke Curug Sawer Nambo di Taman Sari, Bogor. Jaraknya sekitar 45 km dari Tanah Baru, Depok. Cek di Google Maps, elevasinya 530 meter. Fyuuh..langsung terbayang gimana tanjakannya.

Perjalanan normal-normal aja sampai kami tiba di Ciherang. Jalur yang semula jalan raya menjadi jalan-jalan kampung, gang-gang sempit, hingga akhirnya mentok di persawahan.

“Gak ada jalan lagi Aa, kalau mau gotong aja sepedanya lewat sawah,” seorang ibu yang sedang mencuci pakaian memberi petunjuk.

Sepeda pun kami gotong menyusuri pematang. Hamparan sawah tanpa padi membentang. Di ujung sana, siluet biru Gunung Salak seolah tersenyum. Saya ingat pernah bercita-cita mendaki ke puncaknya.

Siluet Gunung Salak di ujung pematang sawah

Cita-cita tersebut kini semakin tinggal cita-cita. Sebab saya semakin menua, semakin menyadari kondisi fisik yang kayaknya gak bakalan sanggup meniti jalur-jalur menanjak di Gunung Salak.

Read more…

Gowes ke Curug Dengdeng Bogor, Arusnya Ngelawan!

November 14, 2020

Curug Dengdeng sudah di depan mata, tapi akses menuju ke sana ternyata sedang ditutup karena ada pengaspalan jalan.

“Punten ya, sepeda juga gak bisa lewat,” kata si Akang penjaga portal, Minggu 8 November 2020. Padahal kami sudah menggowes sejauh 45 km.

Saya cek Google Maps ternyata ada jalur alternatif, tapi lewat Hutan Penelitian Pasir Awi. Artinya kami harus memutar lumayan jauh.

Apa boleh buat?

Kalau petugas pemadam pantang pulang sebelum padam, kami pun pantang pulang sebelum ditelepon istri.

Kebetulan di sana gak ada sinyal sama sekali. Jadi gak bakal ada panggilan atau pesan masuk. Halo..halo Telkomsel kenapa sinyal kalian ilang di Rumpin Bogor?

Kejadian tak terduga memang kerap terjadi, apalagi saat blusukan seperti ini. Selalu ada kejutan yang kadang bikin kesel dan keder.

Seperti saat gowes ke Curug Cioray awal November lalu. Saat itu saya sempat nyasar ke semak belukar.

Kalau mengikuti rasa kesel, urusannya bisa makin runyam. Karena itu pilihan terbaik adalah menerima kejadian tak terduga sebagai kewajaran.

Dengan begitu kita bisa menyikapi hal-hal gak wajar secara wajar. Bijak juga saya, ya? Haha.

Kembali ke Curug Dengdeng. Saya kemudian mengambil jalan memutar, menembus Hutan Penelitian Pasir Awi yang basah. Jalurnya berbatu, menanjak, dan licin. Lengkap, ya!

Sekitar 4 km kami memutar sebelum akhirnya tiba di gerbang menuju Curug Dengdeng. Dari gerbang, akses menuju curug cuma bisa ditembus dengan berjalan kaki dan bersepeda.

Kalau membawa mobil, kamu bisa parkir di dekat loket masuk. Setelah itu jalan kaki sekitar 500-700 meter. Hati-hati ya, karena jalurnya licin dan curam.

Tapi begitu melihat curugnya, kamu pasti bakal tertawa…ups..maksud saya terpana.

“Kalau musim kemarau, airnya warna hijau toska,” kata Jang Asep, teman gowes saya. Ini perjalanan keduanya ke Curug Dengdeng.

Oya, ada yang unik di Curug Dendeng, yakni batu-batu warna-warni yang tersebar di sekitar curug. Batu-batu tersebut terlihat jelas karena airnya bening kayak air mata.

Curug Dengdeng ternyata juga punya juru kunci. Namanya Abah Salim. Saya sempat ngobrol dengan Abah. Tapi ceritanya di artikel berikutnya aja yak..wkwk.

Oya, video perjalanan menuju Curug Dengdeng bisa kamu lihat di bawah. Selamat menikmati!

Curug Dengdeng Bogor
Curug Dengdeng Bogor
Curug Dengdeng Bogor
Curug Dengdeng Bogor

_DW_

Kutukan Salah Alamat

November 12, 2020

Tak banyak yang tau kalau air mata yang sering menetes dari patung Malin Kundang ternyata bukan air mata penyesalan. Ada kisah lain di balik air mata itu, kisah yang jauh lebih menyedihkan, lebih menyayat, dan lebih gelap: tentang kutukan yang ternyata salah alamat.

********

Pagi itu, untuk yang ke sekian kali, Malin meminta restu ibunya. Ia ingin merantau. Namun ibunya menahan. Malin anak semata wayang, satu-satunya harta peninggalan mendiang suaminya. Jika Malin pergi, apa lagi yang dimilikinya?

..lebih lanjut