Skip to content

Kopi Media Sosial

February 11, 2016

kopiSeorang teman memotret secangkir kopi kemudian mengunggahnya ke media sosial. Di bawah foto tersebut ia menulis, “Bahagia itu senderhana.”

Saya yang sedang duduk di depannya jadi bertanya-tanya: begitu sederhanakah kebahagiaan itu? Hanya dengan secangkir kopi?

Seorang motivator pernah bilang kalau kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kamu raup, tapi seberapa besar rasa bersyukurmu.

Jadi, kalau kamu mensyukuri setiap tetes kopi yang kamu kecap, kami pasti termasuk satu dari sedikit orang yang berbahagia.

Tapi saya ragu dengan teman saya ini. Sejak tadi matanya jelalatan melihat layar telepon genggam. Kopi yang seharusnya ia cicip selagi hangat kini sudah dingin. ..lanjut

Penghianat di Ruang Ganti

January 11, 2016

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10:30 ketika Jose Mourinho tiba di Cobham Training Center, pusat latihan sepak bola milik Chelsea, di Surrey, Inggris, Jumat dua pekan lalu.

Namun udara masih terasa dingin –hari itu suhu di Surrey 5 derajat celicus. Mou, begitu Mourinho disapa, mengetatkan jaketnya sebelum melangkah ke ruang kerjanya.

Ruang itu tak besar. Hanya ada meja kerja kecil dengan mug berisi beberapa pulpen. Juga selembar foto dirinya bersama Matilde, putrinya. Perabot lain hanya rak mungil berisi deretan buku.

Mou memandangi foto dan buku-buku itu. Ia harus mengemas semuanya hari ini. Sebab, sejak dipecat oleh pemilik Chelsea, Roman Abramovic, ruang itu bukan lagi miliknya.

Kabar pemecatan tersebut disampaikan sehari sebelumnya oleh Ketua Chelsea, Bruce Buck, dan Direktur Tehnik Chelsea, Eugene Tenenbaum, usai makan siang di Cobham.

“Ini keputusan sulit. Namun perselisihan yang terjadi antara pemain dengan pelatih membuat kami harus bertindak,” kata Direktur Tehnik Chelsea, Michael Emenalo.

Chelsea mengumumkan pemecatan Mourinho tiga hari setelah mereka ditekuk Leicester City dengan skor 1-2 dalam laga lanjutan Liga Primer Inggris di King Power Stadium, Leicester. ..lanjut

TOA

January 7, 2016

Hari ini melipir ke rumah ibuk. Pengin leyeh-leyeh sambil nyeruput kopi. Pastinya nikmat.

Namun kondisi di sana ternyata lagi nggak kondusip. Ada pengajian di musola dekat rumah.

Ceramahnya pakai TOA. Benar-benar bising. Materi ceramahnya pun itu-itu aja.

Namun, soal TOA, saya jadi teringat humor Gus Dur kepada seorang biksu dan pendeta.

“Kami memanggil Tuhan dengan panggilan ‘Om’,” kata biksu. “Itu menandakan betapa dekatnya kami dengan Tuhan.

“Kenapa bisa begitu?” tanya pendeta sedikit bingung.

“Kamu tahu sendiri kan betapa dekatnya seorang keponakan kepada pamannya?” Jawab Biksu.

Pendeta itu tersenyum. “Kami memanggil Tuhan dengan sebutan ‘Bapa’,” kata Pendeta. “Jadi kami pasti lebih dekat kepada Tuhan.”

Gus Dur yang sejak tadi hanya diam sontak tertawa. Bahunya berguncang-guncang hebat. ..lanjut

Dua Malam di Yokohama

January 6, 2016

2016/01/img_2646.jpg
Liburan kemarin kami piknik ke Yokohama. Dari rumah, jaraknya hanya 6 jam perjalanan. Tapi beda suhunya seperti kompor dan freezer.

Rumah 🏯 yang kami sewa tak begitu luas, namun tata letak ruang dan desain interiornya yang apik membuatnya terasa lapang.

Sungguh nyaman dan rasanya seperti sedang berada di rumah orang lain. Maklumlah, rumah sendiri ga seapik ini 😂.

Dan, karena ini Yokohama, rumahnya pun khas 🎌 Jepang: jendela segede gaban, pintu geser, kayu cedar, dan –tentu saja– lesehan.

Semua terasa lengkap sampai saya menemukan tumpukan sampah di samping rumah. Grrrr..bagaimana mungkin ada timbunan sampah di tempat seperti ini!

Selagi saya meratap, tiga bocah melesat dari ujung jalan. Mereka melintasi saya begitu saja dan langsung menuju..tempat sampah.

Dua anak mengais-ngais mencari gelas dan botol plastik bekas air mineral. Satu anak lainnya mengumpulkannya di dalam kresek besar.

Mereka ternyata bocah-bocah pemulung. Sampah, yang saya keluhkan, ternyata menjadi sumber kehidupan bagi bocah-bocah ini. ..lanjut

Tanpo Waton

December 30, 2015

Gus Dur konon sempat menulis Tanpo Waton, syair berisi nasehat, juga sentilan, kepada mereka yang hobi mengkafirkan orang lain sampai lupa menjenguk hatinya sendiri.

“Banyak yang hafal Al-Qur’an dan hadis. Suka mengkafirkan orang lain. Kekafirannya sendiri tidak diperhatikan. Kalau masih kotor hati dan akalnya.”

Tak jelas kapan Gus Dur menulis syair tersebut. Yang pasti, sebelum beliau meninggal 😜. Itu berarti sekitar enam tahun lalu atau lebih.

Namun syair itu seperti ditulis untuk saat ini, ketika fitnah muncul di mana-mana dan ketika orang-orang begitu mudah membidahkan dan mengkafirkan orang lain.

Yang menyedihkan, berbagai fitnah dan tudingan kafir itu justru dimuntahkan oleh mereka yang sepertinya cukup paham agama. Kok, bisa?

Karena, begitu yang tersirat dalam syair ini, mereka hanya mempelari agama sebatas syariat. Padahal ada bab lain dalam agama: hakikat.

“Jangan hanya belajar syari’at saja. Hanya pandai bicara, menulis, dan membaca, akhirnya hanya akan sengsara.” ..lanjut