Skip to content

Ngopi Tak Meski Pahit

June 29, 2015

Kata orang, minum kopi yang benar itu tanpa gula. Pahit memang, tapi di situlah nikmatnya. Aneh ya, pahit kok nikmat? Begitulah. Maka, demi meminum kopi secara benar, saya pun berulangkali minum kopi minus gula.

Salah satunya saat acara #ngipidikantor saat berbuka tadi. Saya memesan kopi tubruk. Mas Eko, sang barista, berpesan, “Tunggu empat menit, jangan diaduk, biarkan kopinya turun sendiri.”

Saya ikuti sarannya. Dua menit berlalu. Butir-butir kopi perlahan larut menjadi buih coklat yang menutupi permukaan cangkir. Tak lama kemudian buih coklat itu berguguran, menyibakkan wajah kopi sesungguhnya yang hitam pekat.

Inilah saat paling pas untuk menyeruputnya. Saya berharap pahit kali ini akan berbeda, pahit yang nikmat, seperti yang dikatakan orang-orang. Namun, sekali lagi, saya keliru.

Cukup satu tegukan untuk membuat leher saya tercekik. Pahitnya itu, seperti rasa jamu godok bikinan ibu! Seharusnya saya sadar, pahit tak punya makna lain selain pahit.

Kita bisa menyebut tawar jika kopi yang kita teguk kurang gula. Tapi kita tak pernah meminta tambahan kopi jika kopi kita kurang pahit. Sebab, rasa pahit tak memiliki spektrum.

Maka, dengan segala maaf kepada barista, saya terpaksa mencampurnya dengan gula. Barangkali, saya memang belum sampai ke maqam penikmat kopi sejati.

Tapi tak apalah. Karena pada ahirnya, ini soal bagaimana kita menikmati kopi, bukan benar atau salah penyajiannya.
Dan kopi selayaknya dinikmati, bukan diperdebatkan.

DW

Baca Juga:

Cuma Anak Kecil, Bukan Anak Nakal
 
Al Quran Lain Milik Syiah
Kemanapun Itu Tuhan Tahu
Ketika Subuh Selalu Molor
Tausiah Nasi Kuning
Penghianat Takdir
Deru Buldozer di Teras Kabah

Cuma Anak Kecil, Bukan Anak Nakal

April 20, 2015
ilustrasi: pixgood.com

ilustrasi: pixgood.com

Saya lagi menonton teve ketika seorang keponakan datang dan langsung bertanya, “Om, boleh injek kakinya, ga?”

Tentu saja, saya menggeleng. Tapi dasar anak kecil, ia tetap saja menginjak kaki saya. Berkali-kali. Sambil tertawa pula.

Tak lama setelah itu, bocah yang usianya belum genap lima tahun ini mendadak menyodorkan kakinya. “Nih, Om gantian kakiku diinjek,” katanya.

“Nggak, ah,” saya menggeleng.

“Kamu takut diomelin ayahku, ya? Gapapa Om, injek aja. Aku nggak ngadu ke Ayah, kok,” katanya dengan tatapan yang nyaris membuat saya tertawa.

Segera saya tarik lengannya lalu berbisik, “Aku nggak mau nginjek karena aku nggak mau menyakiti orang lain.”

Sesaat ia diam. Mata besarnya menatapku. Saya tahu sesuatu sedang berkelebat di kepalanya. Entah apa karena tiba-tiba ia menubrukku. “Maaf ya, Om..aku nakal..” ..lanjut

Karena Shalat Tiga Waktu

March 16, 2015

anak-kecil-shalatIni adalah artikel lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Al Quran Lain Milik Syiah.

Selain menuding Syiah telah mengubah Al Quran, ustad tersebut juga menganggap kaum syiah hanya shalat tiga kali.

Kebetulan saya punya beberapa teman bermazhab Syiah. Mereka shalat lima kali, kok, hanya waktunya memang tiga kali.

Ini karena mereka sering menggabung zuhur dengan asar dan magrib dengan isya. Sehingga timbul kesan mereka hanya shalat tiga kali.

Namun barangkali kita lupa: shalat dan waktu shalat adalah dua hal yang berbeda. Shalat memang lima kali sehari tapi waktunya terbagi menjadi tiga. .. lanjut

Al Quran Lain Milik Syiah

March 9, 2015

koranSeorang ustad mengirim artikel berantai berisi ajakan mewaspadai gerakan Syiah. Ia menuding Syiah adalah aliran sesat. “Bukti kesesatan mereka antara lain mengubah Al Quran. Mereka mempercayai Al Quran yang berbeda,” tulisnya.

Saya berharap ustad tersebut pernah memegang, membaca, dan meneliti sendiri Al Quran kaum Syiah, sehingga tudingnya tak semata berdasarkan katanya. Namun saya bahkan ragu ia pernah melihatnya.

Barangkali ustad itu juga lupa kalau Al Quran adalah kitab yang kesuciannya dijamin langsung oleh Tuhan. Dengan jaminan ini, maka isi Quran tak akan berubah satu ayat pun, hingga kiamat nanti.

Dengan menuding kaum Syiah telah mengubah Al Quran, atau ada Al Quran lain yang berbeda, berarti ustad itu telah menyangsikan janji Tuhan tersebut. Dia mungkin khilaf, tapi saya lebih percaya dia pandir. ..lanjut

Kemanapun Itu, Tuhan Tahu…

March 8, 2015

riversSekali dalam hidup orang perlu membuat loncatan besar dan aku tak mungkin melompat tanpa keyakinan. Keyakinan yang barangkali tak terjelaskan, tak terjaring kata, sulit dimengerti, namun begitu jernih. Aku tak pernah seyakin ini sebelumnya. Maka ketika keyakinan telah memenuhi hati maka jangan lagi dipertanyakan. Ikuti saja alirannya. Kemanapun itu. Tuhan tahu. Aku pun berserah, karena keyakinan ini pastinya dariNya..

-dw-

*tulisan lawas (2010), dihapus sayang