Skip to content

Mana Ibadahmu untuk-Ku?

May 11, 2019
jel

Unsplash/Jose López Franco

Azan Subuh baru terdengar ketika Kang Wardi mendadak melompat dari kasur. Wajahnya pucat. Jantungnya berdegup kencang. Ia baru saja bermimpi: Malaikat Maut datang lalu membawanya ke pucuk langit.
“Kita menghadap Tuhan,” kata Malaikat Maut.
Kang Wardi panik. Namun segera ia mengingat ibadah-ibadahnya. Hatinya perlahan menjadi tenang. ‘Aku pasti masuk surga,” batinnya.
Puncak langit ternyata begitu sunyi. Angin seperti tak bergerak dan cahaya hanya bersinar samar-samar.
“Wardi, mana ibadahmu untuk-Ku?” pertanyaan itu tiba-tiba menggema. Wardi mencari-cari asal suara tersebut, namun yang dilihatnya hanya kesunyian.
“Wardi, mana ibadahmu untuk-Ku?” suara itu terdengar lagi.
“Saya..saya selalu beribadah tepat waktu, hati saya pun selalu menyebut namamu,” kata Wardi gelagapan.
“Semua ibadah itu untuk dirimu sendiri,” sahut suara tanpa bentuk. “Kau beribadah karena mengharapkan pahala. Kau mengingatku karena menginginkan surgaku. Semua ibadahmu itu untuk kepentinganmu sendiri. Lalu mana ibadahmu buat-Ku?”
Wardi benar-benar gelisah. Wajahnya putih memucat. Belum sempat ia menjawab, Malaikat Maut menggamitnya lalu membawanya terbang.
“Pahamilah,” desis Malaikat Maut seraya melepaskan Kang Wardi.
Kang Wardi merasakan tubuhnya terjun bebas. Ia berteriak kalap sampai tubuhnya terhempas ke..kasur.
“Apakah aku sudah mati?” katanya bingung.
Sayup-sayup azan subuh masih terdengar.

_DW_

Advertisements

Zona Nyaman yang Gak Nyaman

June 7, 2018
kalender
Ilustrasi: Unsplash/Brooke Lark
Suatu malam menjelang tidur, seorang istri berbisik, “Mas, kayaknya kamu harus pindah kerja, deh.”
“Lho, kenapa?”
“Karena aku lihat kamu udah terlalu nyaman.”
“Lho orang udah nyaman kok malah disuruh pindah?”
“Karena kenyamanan itu bikin kamu mandeg. Kamu nggak tertantang untuk melompat lebih tinggi atau melangkah lebih jauh.”
“Memangnya aku harus melompat setinggi apa? Melangkah sejauh apa?
“Setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya,” sahut sang istri.
“Setinggi-tingginya aku terbang tetap gak akan bisa menyundul langit karena langit nggak berbatas. Sejauh-jauhnya aku melangkah pun tetap gak akan sampe ke ujung karena bumi itu bulat.”
Hening sesaat.
“Jadi kamu nggak mau meninggalkan zona nyamanmu?”
“Buat apa?”
“Ya sudah.” kata si istri sambil membalikkan badan.
Lelaki itu menghela nafas. Baginya, cara berpikir istrinya sungguh aneh. Tanpa sadar ia menggelengkan kapalanya.
Saat ia menggeser tubuh untuk guling, tatapannya membentur kalender dinding. Langsung teringat olehnya kontrakkan yang dua bulan belum dibayar.
Mendadak hatinya tak nyaman..

_DW_

Temukan Bingkai Mu Sendiri

June 5, 2018
FullSizeRender
Dengan atau tanpa sadar kita kerap memframing diri kita sendiri dengan bingkai yang dipasangkan orang lain.
Kita gak ingin keluar dari bingkai tersebut karena gak ingin orang itu kecewa. Lalu kita jadi jaim, jadi manis, jadi orang yang dibentuk oleh persepsi orang lain.
Gak masalah sih, selama bingkai itu membuat kita nyaman. Tapi bahkan di zona ternyaman pun seringkali kita gelisah.
Jadi gak ada salahnya sesekali loncat dari bingkai, keluar dari kotak, lalu berlari mengikuti kata hati, mencari bingkai kita sendiri.

_Dw_

Syahadat Kanjeng Dimas

November 10, 2016

Penasaran dengan pertanyaan yang sejak tiga hari terakhir berkeliaran di kepalanya, seorang santri menemui pimpinan pondok.

“Kanjeng,” katanya saat tiba di depan Kyai.

“Ya, Dimas..”

“Bukankah syahadat adalah pintu pertama untuk beriman?”

“Benar.”

“Kalau begitu, kenapa Tuhan justru meminta Nabi membaca pada wahyu pertama? Harusnya kan mengucapkan syahadat.”

“Dimas,” Kyai menyahut.

“Dalem, Kanjeng..”

“Membaca adalah pintu masuk menuju pemahaman. Dan pemahaman adalah jalan menuju keyakinan.”

Hening sejenak. Dimas melirik segelas kopi di atas meja samping Kyai. 

“Dan hanya dengan keyakinan yang dilambari pemahaman, seseorang akan sampai pada penyaksian. Apa kamu paham?”

Dimas menggeleng. Jawaban Kyai terlalu berat buatnya. “Tapi saya akan taat,” sahutnya.

“Bagus. Jadilah pribadi yang taat.”

“Baik, Kanjeng..”

Dimas kemudian pamit. 

_dw_

Hawa datang bulan

October 18, 2016

Hawa tiba tiba muncul di tengah tulisan. Ia langsung marah-marah. “Kamu, kalian, tidak adil kepada kami,” katanya.

“Apanya yang tidak adil,” sahutku terkejut. Kemunculannya yang ujug-ujug seperti hantu dan tudingannya membuatku sedikit shock.

“Ini,” katanya sambil menunjuk sebaris frase di monitor. “Hawa nafsu,” katanya.

“Apanya yang salah?”

“Kamu tahu,” sahutnya dengan tatapan sinis. “Dengan menulis ‘hawa nafsu’ berarti kamu telah merendahkan perempuan.”

“Hah?” Sahutku takjub.

“Ya.” Jawabnya. “Sebab, kalau ada hawa nafsu, seharusnya juga ada adam nafsu. Karena yang punya nafsu bukan cuma hawa!”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Pikiranku sibuk mengingat kapan terakhir kali ia datang bulan..

_DW_