Skip to content

Balada Asu dan Penulis Lepas

August 13, 2015

Suatu pagi seseorang berkata di ujung telepon, “Mas Sampeyan bisa nulis agama, kan?”
“Ya, bisa.”
“Aku minta tolong dibuatkan satu tulisan, ya.”
“Oke, gampang itu.”
“Deadlinenya sore nanti. Bisa, tho?”
“Ya, bisa.”
“Temenan lho, iki.”
“Iyooo temenan.”

Enam jam kemudian, telepon kembali berdering. “Mas, kok belum masuk tulisannya?”
“Ini siapa, ya?”
“Lho, aku yang pagi tadi nelpon minta tulisan.”
“Lha iya, siapa?”
“Aku Broto. Koncomu neng Jogya.”
“Oalah..kowe nelpon kok ndak nyebut nama, pake nomor 0274 pula.” ..lanjut

Si Kancil Bukan Pencuri Timun

August 13, 2015

Seekor kancil sedang memetik timun ketika sebuah jala tiba-tiba menyergapnya…Haap!

“Ternyata kamu yang selama ini mencuri timunku!” kata Bapak Petani sambil mengacungkan arit.

Kancil yang terkejut mencoba melepaskan diri. Namun semakin keras usahanya, semakin rumit jala membelitnya.

“Kamu harus mendapat pelajaran,” kata Pak Tani sambil berjalan mendekat. “Hukuman bagi pencuri adalah potong kaki.”

“Tunggu! Aku tidak mencuri. Ini pasti salah paham,” kata kancil berusaha membela diri.

“Sudah tertangkap basah, masih mengelak, hah?” Pak Tani melotot. Ia lalu menunjuk timun-timun yang dipetik kancil. “Itu semua buktinya.”

Kancil mencoba menenangkan diri. Ia mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. ..lanjut

Runtuhnya Tembok-tembok Persepsi

August 11, 2015

ddNamanya Shamsi Ali. Dia seorang imam di masjid New York. Kemarin siang, pria asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, ini mampir ke kantor.

Kebetulan, jika kamu percaya ada kebetulan di dunia ini, saat itu sedang ada acara #ngopidikantor. Jadi, sambil ngopi, kami meminta sedikit wejangan darinya.

Ia menceritakan pengalamannya di Amerika Serikat. Antara lain, tentang bagaimana komunitas Yahudi dan Musim di sana yang mulai menemukan titik-titik temu.

“Untuk pertamakali kami mengadakan pertemuan yang dihadiri 40 pendeta Yahudi dan 40 Imam Muslim,” begitu kira-kira katanya. “Kami sama-sama menginginkan perdamaian.”

Tak mudah mengajak komunitas Yahudi dan Muslim duduk satu meja. Semua ini, kata dia, karena “kita sudah terjebak pada asumsi”.

Asumsi menjadi jarak, seperti tembok yang memisahkan. Kita menganggap orang Yahudi begini dan Kristen begitu. Kita menempelkan berbagai persepsi kepada mereka.

Pada saat yang sama, mereka juga memiliki asumsi untuk orang Islam. Persepsi-asumsi, yang sebagian besar biasanya keliru, inilah yang menjadi tembok.

“Setelah duduk bersama, mengenal mereka secara personal, saya tak lagi melihat mereka sebagai Si Yahudi, Si Kristen, atau Si Muslim. Saya melihatnya sebagai manusia.” ..lanjut

Dalam Dusta dan Doa

August 11, 2015
IMG_8039-0

Kukatakan aku kaya
Kamu percaya
Kubilang bapakku panglima
Kamu iya saja
Kupastikan akan setia
Kamu pun yakin
Kamu selalu parcaya
Aku jadi tak percaya kamu percaya
Sampai saat kamu berkata,
“Aku tahu kamu berdusta
tapi aku memilih percaya
karena dalam hati aku berharap
dusta itu menjadi nyata.”

_DW_

Maaf, Melupakanmu

August 8, 2015

Hari belum gelap benar ketika bayangan itu berkelebat persis di depanku. Seorang gadis tiba-tiba saja sudah berdiri.

Wajahnya tak kukenali namun rasanya cukup familiar. Samar-samar kuingat lesung pipit itu. “Kaukah itu?” desisku tanpa sadar.

Gadis itu hanya menatap. Silir angin meriakkan anak-anak rambutnya, membawa harum aroma kamboja. Sesaat aku membeku.

“Kaukah itu?” Tak salah lagi. Tak mungkin keliru. Kaulah itu. Bisa kurasakan sapuan matamu mengusap batinku.

Tapi gadis itu diam saja. Hening. Senyap. Kebisuan terasa semakin menakutkan. Aku terjebak sorot matamu, terjerat dingin wajahmu.

Detik-detik merayap seperti semut basah yang meninggalkan jejak air di lantai, memantulkan cahaya bulan yang mulai merangkak naik.

Sudah malam. Aku harus pergi. Kutatap wajahnya sekali lagi. Jiwaku mengenalimu, namun memoriku tak mengingatmu.

Maaf, aku melupakanmu.

_DW_