Skip to content

Rasa Memiliki, Sumber Kehilangan

October 25, 2022
sumber gambar: hodjamusic.com

Nasrudin mendapat kabar keledainya hilang dicuri. Namun alih-alih bersedih, ia justru tersenyum sambil berkata, “Alhamdulillah..”

Husen, pembawa kabar keledai hilang, merasa heran melihat reaksi Nasrudin. Ia semula mengira Nasrudin akan menangis atau setidaknya bersedih.

“Kawan,” kata Nasrudin seolah membaca keheranan Husen. “Kalau keledai itu dicuri saat aku sedang menungganginya, aku juga pasti akan ikut hilang. Tapi aku masih di sini, aku tidak hilang. Itu sebabnya aku bersyukur.”

Husen langsung terpingkal-pingkal mendengar jawaban Nasrudin. Ia menduga kehilangan keledai telah membuat Nasrudin kehilangan kewarasannya.

Namun Husen salah menduga. Sebab jawaban jenaka Nasrudin justru tanda kewarasannya. Sebab merasa bersyukur saat kehilangan sesuatu justru menunjukkan ketidakmelekatannya pada sesuatu itu. 

Sikap seperti ini membuat Nasrudin tak lagi merasa memiliki terhadap apa yang ia miliki, karena ia memahami apa yang ada padanya hanya titipan –dan karenanya ia tak akan bersedih saat titipan tersebut diambil darinya. 

Melepaskan diri dari rasa memiliki ibarat sebatang pohon yang merasa bergembira ketika burung-burung hinggap di rantingnya tapi tidak bersedih ketika burung-burung itu terbang menjauh dari dahan-dahannya.

Jadi, di balik kejenakannya, Nasrudin sejatinya waras. Karena hanya mereka yang waras yang tidak akan merasa kehilangan atas apa yang tidak pernah mereka miliki.

Seperti lagu Letto:

Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Kisah Nasrudin di atas muncul begitu saja setelah saya WA-an dengan seorang teman tentang ketidakmelekatan. Ide ketidakmelekatan, menurutnya, sudah disisipkan Tuhan ketika ia meminta Ibrahim menyembelih Ismail.

Ismail adalah putra yang kelahirannya telah dinanti lama. Sehingga Ibrahim pun begitu mencintainya. Cinta yang mungkin membuat Ibrahim merasa memiliki dan karenanya ingin selalu menjaganya serta tak ingin kehilangannya.

Namun ndilalah Tuhan justru meminta Ibrahim menyembelih Ismail. Boleh jadi Tuhan cemburu dan tak ingin Ibrahim membagi cintanya kepada Ismail. Perintah ini sekaligus ujian kemelekatan Ibrahim pada sesuatu selain-Nya.

“Ikhlasnya dia (Ibrahim) membuktikan dia telah melepaskan diri dari keterikatan sama satu hal yang bentuknya pemberian Tuhan. Anak kan pemberian, bukan milik dia,” tulis teman saya.

Akhir kisah Ibrahim dan Ismail kita sama-sama tahu: Ibrahim melepaskan semua keterikatannya, termasuk pada anak, dan sepenuhnya mengikat diri pada titah Tuhan.

Sementara Ismail melepaskan keterikatannya pada dirinya sendiri, pada rasa memiliki akan tubuhnya sendiri, juga pada kehendak untuk hidup, karena kehidupan yang didapatnya sejatinya juga bukan miliknya.

Kisah Ibrahim dan Ismail bisa jadi kisah sempurna tentang ketidakmelekatan. Sebab, tulis teman saya, “Karena cinta mereka hanya untuk Tuhannya.”‘

_DW_

Kejutan Mobil Tua

September 14, 2022

Mobil tua memang penuh kejutan. Pagi ini misalnya Xtrail mendadak ngambek. Mobil kelahiran tahun 2004 ini cuma mau hidup sebentar.  

Berkali-kali saya starter, berkali-kali pula dia mati sendiri. Mesinnya hanya hidup tidak sampai lima detik. Padahal kemarin pagi normal-normal saja.

Saya buka kap mesin, cek sana-sini, tapi gak ada yang mencurigakan. Gak ada bau-bau sangit, gak ada kabel putus, gak ada tetesan oli atau tanda semburan air radiator.

Semuanya sekilas terlihat baik-baik saja. Indikator aki juga masih biru, pertanda masih bagus. Sekering dan relay juga terlihat normal-normal aja.

Karena gak nemu ada yang mencurigakan, saya lalu bertanya ke teman-teman di grup Xtrail Enthusiast di WA. 

“Kalo mesin hidup ketika distarter tapi gak lama kemudian mati, biasanya masalahnya ada di sensor,” kata seorang anggota grup.

Masalahnya, Xtrail punya banyak sensor, mulai dari sensor CMP, CKP, sensor pedal gas, sensor O2, sampai sensor MAF.

Tapi sensor yang diduga kuat menjadi penyebab masalah adalah sensor CKP, CMP, dan MAF. Sensor MAF paling gampang cara mengeceknya. Sebab posisi sensor ada di atas mesin sehingga gampang dilepas-pasang. Jadi sensor ini yang pertama saya cek.

Cara mengetes apakah sensor MAF masih berfungsi atau nggak pun mudah. Cukup lepas soketnya lalu nyalakan mesin. Jika mesin tetap hidup, berarti sensor tersebut bermasalah.  Sebab, kalau sensor MAF masih bagus, mesin pasti akan mati begitu soketnya dicabut. 

Dan inilah yang terjadi pada Xtrail saya. Ketika soket sensor MAF saya cabut, mesin tetap hidup meski RPM terlihat ngayun dan seperti mau mati ketika pedal gas diinjak. Jadi, dugaan sementara sensor MAF bermasalah semakin menguat.

Untuk lebih memastikan, saya colokin scanner OBD II ke slot di bawah stir, lalu menghubungkannya dengan ponsel melalui bluetooth. Langkah selanjutnya memindai dengan aplikasi Torque dan langsung ke-detect problemnya: Sensor MAF.

Tapi belum tentu sensor ini rusak, bisa jadi hanya kotor saja. Karena itu saya copot sensor tersebut lalu menyemprotnya dengan cairan khusus MAF cleaner. Jangan pernah membersihkan sensor MAF dengan air biasa ya, karena ini justru akan merusak sensor.

Setelah bersih, sensor tersebut saya pasang lagi. Hasilnya..ternyata sama saja. Mesin tetap gak normal, hanya hidup beberapa detik kemudian RPM drop dan akhirnya mesin mati.

Jadi fix memang sensornya harus diganti. Saya cek harga ke bengkel resmi Nissan, harga sensor MAF Rp2,8 juta. Itu pun harus inden minimal 2 pekan. Karena gak sanggup nunggu dan terutama gak sanggup bayar, saya pun mencari sensor tersebut di marketplace.

Ternyata banyak yang menjual dengan harga di bawah Rp500 ribu. Jauh banget dari harga bengkel resmi. Mungkin sensor yang dijual di marketplace kualitas KW. Sebab ada harga pasti ada kualitas. Tapi karena selisih harga yang kelewat jauh, saya memutuskan membeli sensor di marketplace.

Menjelang isya sensor itu pun datang. Sensor dikemas dengan dus dan plastik bertuliskan Nissan. Gak terlihat seperti barang KW. Saya langsung pasang sensor tersebut. Dan alhamdulillah, mesin langsung jreng seperti sedia kala.

Total biaya perbaikan Rp437 ribu dengan rincian harga sensor MAF Rp365 ribu dan sisanya ongkir paket instan.

Malam ini sepertinya saya bisa tidur nyenyak, tapi tidak terlalu nyenyak. Sebab mobil tua akan selalu punya kejutan. Memang kejutannya selalu tidak menyenangkan, tapi dari kejutan-kejutan itu saya jadi terbiasa dengan kejutan-kejutan hidup..wkwk       

Tentukan Bintangmu

December 15, 2021
ilustrasi: Pinterest


Hati adalah laut yang gelombangnya tak selamanya mampu kau baca. Ia bisa mengombang-ambingmu tanpa kau merasa terombang ambing. Membuatmu semakin asing dan terasing lalu menjadi sekedar titik yang perlahan dilupakan.

Sementara pikiran adalah gemintang di langit malam yang menjadi petunjuk arahmu dan kerlipnya menghibur sedihmu. Mereka tetap di sana, dalam posisi dan rasi yang selamanya tak berubah.

Maka tentukan bintangmu lalu kayuhlah sauh atau kembangkan layarmu menujunya, daratan menunggumu. Atau kamu memang menghendaki kebimbangan tanpa titik: larut dalam laut yang selamanya tak dimiliki atau memiliki..

Dari Notes FB Januari 2010

-dw-

Mengejar Aroma

October 11, 2021
Kopi Aroma. 📸: Me

“Kita gak akan keburu kalau ke Aroma,” kata teman saat kami keluar di exit Tol Pasteur. Aroma yang dimaksud adalah Kedai Kopi Aroma di Jalan Banceuy, Bandung.

Saya lirik jam, sudah pukul 13.35 WIB. Memang tidak akan keburu. Sebab dari exit Tol Pasteur menuju Braga tempat Kedai Aroma cukup memakan waktu. Belum lagi macetnya. Maklum, ini Sabtu. Sementara kedai Kopi Aroma tutup pukul 14.00 WIB.

Jadi, apa boleh buat, Kedai Aroma kami coret dari daftar.

Padahal saya kangen banget ingin mencicipi aromanya kopi Aroma. Terakhir kali saya minum kopi Aroma di kedai Kopi Tiam Oey di Jalan Sabang Jakarta bertahun-tahun lalu. Sampai saat ini saya masih menyimpan kenangan akan rasa dan aromanya.

“Aneh ya ada kedai kopi tutup jam 2 siang, Sabtu pula. Padahal ini lagi rame-ramenya, kan,” kata saya.

“Sebenernya gak aneh,” sahut teman saya. Dia pernah mewawancari pemilik Aroma.

Oya, kedai kopi aroma sudah berdiri sejak 1930-an. Sejak itu konon tak banyak yang berubah dari kedai ini, baik toko maupun rasa dan aroma kopinya.

“Pemilik Aroma itu kokoh-kokoh yang kayaknya menjalankan bisnis bukan untuk meraup kekayaan sebanyak-banyaknya,” kata teman saya.

“Mana ada. Orang berbisnis ya pasti mencari cuan,” sahut saya.

“Gue gak bilang dia gak mencari cuan, tapi sepertinya dia gak berpikir cuan adalah segalanya.”

“Hmm…”

“Kopi Aroma itu udah dikenal. Orang se-Bandung Raya pasti tahu kedai kopi ini. Jadi kalau kokohnya mau, bisa aja dia expand, go nasional, tapi dia memilih bertahan. Dia memilih gini-gini aja.”

“Kenapa begitu? Kenapa dia melewatkan peluang untuk menjadi lebih besar, meraup lebih banyak cuan?”

“Kenapa harus ngoyo mengejar cuan kalau secangkir kopi udah cukup membuat lo bahagia?” katanya balik bertanya.

Saya diam.

“Kokoh pemilik Aroma itu mengelola kedai kopi seperti petani yang selalu menanam di lahan yang itu-itu juga. Itu sebabnya dia gak membuka penjualan kopi secara online.”

Mobil terus merayap membelah kemacetan Kota Bandung. Saya masih merasa ada yang aneh dengan konsep berbinis tapi enggan meraup cuan sebanyaknya.

“Kalau begitu, besok saja kita ke kedai Aroma-nya,” kata saya. Kebetulan kami akan menginap di Bandung malam ini.

“Kamu belum tahu?” sahut teman saya. “Kedai Aroma tutup hari Minggu.”

_DW_

Sugeng Tindak, Mas Hari..

July 15, 2021
Foto diambil dari laman Facebook Mas Hari Prasetyo

Saya baru menyalakan komputer ketika Mas Hari tiba di kantor. Ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek dengan tas ransel di pundak.

“Sepedaan lagi, Mas?”

“Iya. Tipis-tipis aja,” katanya

Mas Hari lalu mengeluarkan handuk kecil kemudian berjalan menuju toilet. “Aku nyeka dulu, ya.”

Mas Hari, lengkapnya Hari Prasetyo, adalah editor olahraga di Tempo. Saya mulai akrab dengannya sejak bergabung ke desk sport pada awal 2011.

Semula saya mengira Mas Hari pendiam. Tapi saya keliru. Sebab Mas Hari ternyata doyan ngobrol. Kalau sudah kumpul bareng Pak Agus Baharudin dan Mas Tulus Wijanarko –dua editor sport lainnya, obrolannya bisa gado-gado.

Dari obrolan itu saya kemudian tahu kalau Mas Hari menyimpan begitu banyak cerita. Mas Hari ternyata juga pegiat teater. Ia, bersama timnya, bahkan kerap mentas di berbagai negara di Eropa.

Pernah suatu pagi sepulang dari Eropa ia menghampiri saya lalu menyodorkan jersey berwarna biru bertuliskan “Ukraine”.

“Sorry ya, aku cuma bawa ini aja,” katanya.

Saya lupa di mana menyimpan jersey tersebut. Tapi kebaikan, kerendahhatian, juga kebersahajaannya masih terus membekas.

Komputer saya sudah nyala ketika Mas Hari datang dari kamar mandi. Handuk kecil tersampir di pundaknya sementara tangan kanannya membawa segelas teh. Celana pendeknya berganti sarung.

Beberapa jam kemudian teh itu masih utuh.

“Udah dingin kali Mas tehnya,” canda saya.

Mas Hari cuma tersenyum sambil menjawab singkat, “Oh, ini buat persiapan buka puasa nanti..”

Siang ini saya mendapat kabar Mas Hari berpulang. Sugeng tindak, Mas. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah…

_DW_