Skip to content

Syahadat Kanjeng Dimas

November 10, 2016

Penasaran dengan pertanyaan yang sejak tiga hari terakhir berkeliaran di kepalanya, seorang santri menemui pimpinan pondok.

“Kanjeng,” katanya saat tiba di depan Kyai.

“Ya, Dimas..”

“Bukankah syahadat adalah pintu pertama untuk beriman?”

“Benar.”

“Kalau begitu, kenapa Tuhan justru meminta Nabi membaca pada wahyu pertama? Harusnya kan mengucapkan syahadat.”

“Dimas,” Kyai menyahut.

“Dalem, Kanjeng..”

“Membaca adalah pintu masuk menuju pemahaman. Dan pemahaman adalah jalan menuju keyakinan.”

Hening sejenak. Dimas melirik segelas kopi di atas meja samping Kyai. 

“Dan hanya dengan keyakinan yang dilambari pemahaman, seseorang akan sampai pada penyaksian. Apa kamu paham?”

Dimas menggeleng. Jawaban Kyai terlalu berat buatnya. “Tapi saya akan taat,” sahutnya.

“Bagus. Jadilah pribadi yang taat.”

“Baik, Kanjeng..”

Dimas kemudian pamit. 

_dw_

Hawa datang bulan

October 18, 2016

Hawa tiba tiba muncul di tengah tulisan. Ia langsung marah-marah. “Kamu, kalian, tidak adil kepada kami,” katanya.

“Apanya yang tidak adil,” sahutku terkejut. Kemunculannya yang ujug-ujug seperti hantu dan tudingannya membuatku sedikit shock.

“Ini,” katanya sambil menunjuk sebaris frase di monitor. “Hawa nafsu,” katanya.

“Apanya yang salah?”

“Kamu tahu,” sahutnya dengan tatapan sinis. “Dengan menulis ‘hawa nafsu’ berarti kamu telah merendahkan perempuan.”

“Hah?” Sahutku takjub.

“Ya.” Jawabnya. “Sebab, kalau ada hawa nafsu, seharusnya juga ada adam nafsu. Karena yang punya nafsu bukan cuma hawa!”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Pikiranku sibuk mengingat kapan terakhir kali ia datang bulan..

_DW_

Adil Sejak dalam Doa

September 7, 2016

Sebelum lomba lari anak-anak dimulai, gadis kecil itu menundukkan wajahnya. Mulutnya berkomat-kamit memanjatkan doa.

Begitu lomba dimulai, gadis kecil itu langsung menerjang. Ayunan kakinya begitu ringan. Tubuhnya meluncur seperti anak kijang.

Akhirnya, meski dengan tubuh basah kuyup dibanjiri keringat, gadis kecil itupun menjadi anak pertama yang muncul di garis finis.

Seorang guru sekaligus juri kemudian mendekatinya. “Hebat, Nak!” berkata Si Guru. “Sebelum lomba saya lihat kamu berdoa, ya?”

Gadis itu mengangguk. Bulir-bulir keringat masih terus mengalir dari dahinya. “Kamu meminta Tuhan menolongmu agar bisa menang, ya?”

Tiba-tiba gadis itu menggeleng. “Kalau saya minta Tuhan agar Dia memenangkan saya, itu sama saja saya meminta agar peserta lain dikalahkan. Itu tidak adil,” katanya.

“Kenapa begitu?” Si Guru sedikit bingung. Dahinya yang mulai keriput semakin berkerut.

“Karena seperti saya, mereka pun sudah berusaha keras untuk menang. Jadi biar usaha kami yang menentukan, bukan bantuan Tuhan.”

Si Guru terhenyak. Namun sesaat kemudian ia kembali bertanya, “Kalau begitu, apa yang kamu minta pada Tuhan dalam doamu tadi?”

“Saya meminta kepada Tuhan agar Dia memberi kekuatan supaya saya tidak menangis saat kalah..”
_DW_

Kecanduan Sedekah, Komunitas Luhur Para Ibu

September 4, 2016

bpk

 

Bapak tua itu tersenyum girang saat menerima sepiring nasi. Matanya selintas berkaca-kaca. “Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian,” katanya.

Ia lalu duduk di bangku plastik, meletakkan pikulannya, kemudian mulai melahap nasinya. Kebahagiaan memancar dari wajahnya yang tampak letih.

Sepiring nasi, tentu dengan lauk-pauk, itu pemberian dari para ibu yang tergabung dalam komunitas Kecanduan Sedekah.

Mereka menggelar prasmanan di depan Stasiun Depok Baru, siang tadi. Menunya lengkap, mulai dari nasi, ayam, tempet, sayur, kue,  buah, hingga kerupuk.

“Kami menyediakan sekitar 500 porsi untuk prasmanan hari ini,” kata Ari Sumirah, satu dari ibu berhati mulia tersebut.

Makanan sebanyak itu hasil keroyokan bareng. Ada yang menyumbang nasi, memasakkan sayur, ada juga yang membawa buah. “Beda-beda,” Ari melanjutkan.

Ada juga yang menyumbang dalam bentuk uang. Selain digunakan untuk memberi makan kaum dhuafa, uang tersebut juga disalurkan ke anak yatim piatu.

Menurut Ari, kegiatan memberikan makan secara gratis ini rutin mereka lakukan delapan kali dalam sebulan. Lokasinya berpindah-pindah di seputaran Depok.

“Kami mencari lokasi yang banyak kaum dhuafanya,” katanya. “Biasanya kami bawa nasi bungkusnya pakai motor. Tapi kali ini kami adakan secara prasmanan.” ..lanjut

Jejak Mengejutkan Si Bapak Tua

August 8, 2016

FullSizeRenderSaya terkejut saat bapak ini menyebut usianya: 95 tahun. Memang kulit wajahnya sudah berkerut dan gigi depannya hanya tinggal dua. Namun saya tak mengira ia setua ini.

Setiap pagi, saya sering melihatnya duduk termenung di halte Perikanan, Ciganjur, Jakarta Selatan. Namun baru pagi tadi saya menghampiri dan menyapanya.

Semula saya mengira bapak ini seorang pengemis. Sebab peci, jas, dan celananya lumayan dekil. Karena itu saya membawakannya sebungkus donat.

“Maaf saya sudah bawa bekal,” katanya berusaha menolak sambil menunjuk kresek hitam di sampingnya. Namun ia akhirnya menerima donat tersebut.

“Nama saya Agung Budiono,” katanya memperkenalkan diri. Suaranya terdengar jelas dengan aksen kejawa-jawaan. “Saya dari Cisarua.”

Bapak ini ternyata doyan bercerita. Ia mengatakan dirinya pernah tinggal di Rumah Sakit Cisarua. “Rumah sakit itu dulu punya bapak saya,” katanya. “Namanya Gunawan.”

Gunawan ini, bapak itu melanjutkan, adalah kakak dari Menteri Kesehatan. “Namanya Profesor Satrio.”

Saya hanya mengangguk-anggukkan kepala. Agak sulit bagi saya membayangkan anak pemilik rumah sakit dan sepupu mantan menteri kesehatan bisa terlantar seperti ini.

Bapak ini mengatakan dirinya dulu aktif di militer. Ia pernah ditugaskan di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Malang. Namun ia menolak menyebutkan pangkat terakhirnya. “Buat apa,” katanya. <!–more..lanjut–>

Dengan lancar, Si Bapak juga mengisahkan perjuangannya melawan Belanda dan sepak terjang Jenderal Sudirman di hutan saat bergerilnya mengusir Belanda dari Yogyakarta.

“Tidak ada yang pengorbanannya lebih besar dari Jenderal Sudirman,” katanya. “Itu sebabnya kenapa beliau disebut Jenderal Besar.”

Obrolan kami sempat terhenti ketika sebuah mobil colt hitam berhenti persis di depan kami. Seorang pria 40-an tahun lalu turun dari mobil. Ia menyalami Si Bapak. Setelah itu pria tersebut kembali naik ke mobil.

Ia sempat melambaikan tangan sebelum pergi. Si bapak balas melambaikan tangan kemudian membuka telapak tangan kanannya. Di sana ada selembar sepuluh ribuan. Ia tersenyum.

Saya ingin bertanya siapa lelaki tersebut. Namun Si Bapak kembali melanjutkan ceritanya. Kali ini ia mengeluhkan kesehatannya yang mulai menurun.

“Mata kiri saya sudah buta sejak lima bulan lalu,” katanya. “Tapi saya selalu datang ke Sibro untuk mengecek kondisi syaraf-syaraf saya.”

Sibro yang dimaksud adalah dokter Sibro. Dulu dokter Sibro membuka praktek di Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan. Kini klinik tersebut sudah menjadi rumah sakit besar.

Saya tahu ini karena saya akamsi alias anak kampung sini. Kami terus mengobrol hingga setengah jam kemudian. Ketika hujan sudah mulai mereda, saya pun pamit.

Sepanjang jalan saya berpikir, mungkinkah semua yang dikatakan bapak itu benar? Bahwa ayahnya adalah pemilik rumah sakit dan pamannya pernah menjadi menteri kesehatan?

Pertanyaan tersebut saya bawa ke kantor. Iseng-iseng saya coba browsing. Saya buka laman Rumah Sakit Cisarua dan saya mendapatkan artikel tentang seseorang bernama Goenawan.

Lengkapnya Goenawan Partowidigdo. Beliau ternyata seorang dokter yang mempelopori pengobatan penyakit paru. Namanya diabadikan di Rumah Sakit Cisarua! (http://www.rspg-cisarua.co.id/rspg-meluncurkan-buku-biografi-dr-goenawan-partowidigdo/)

Penelurusan saya kemudian berlanjut ke nama Profesor Satrio. Dan ternyata benar: Profesor Satrio pernah menjadi Menteri Kesehatan pada 1957-1966. (https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Menteri_Kesehatan_Indonesia)

Saya belum menemukan apakah dokter Goenawan Partowidigdo dan Profesor Satrio adalah kakak beradik. Namun keserasian cerita Si Bapak dengan temuan di internet sudah cukup membuat saya tercengang.

Tentu menarik menelusuri cerita Si Bapak. Namun saat ini sepertinya beliau lebih membutuhkan teman ngobrol. Saya bisa melihat matanya yang berbinar-binar setiap kali ia bercerita.

Namun dengan peci dan jas lusuh seperti itu, tak banyak orang mau mendekatinya.

DW