Skip to content

Pergi Sewajarnya

April 20, 2021

Buat apa merayakan perpisahan kalau toh pada akhirnya satu demi satu dari kami juga akan pergi?

Unsplash/Fanny Gustafsson

“Aku pamit, ya!” katanya seraya menyambar jaket jeans dengan bordiran Rolling Stones di dada kiri.

Ini adalah hari terakhirnya di sini. Setelah bertahun-tahun kami bekerja bersama, seharusnya perpisahannya gak segaring ini.

Setidaknya harus ada isak tangis atau keharuan atau apalah yang bisa kami kenang kelak. Tapi hari ini dia pergi begitu saja.

Tanpa pamit seolah besok dia akan kembali lagi. Betapa kering, betapa tak berkesannya. Atau memang sebaiknya begini saja?

Sebab buat apa merayakan perpisahan kalau toh pada akhirnya satu demi satu dari kami juga akan pergi?

Apa artinya perpisahan kalau kita semua juga akan menjalaninya?

Read more…

Kehadiran yang Tak Terbayar

April 19, 2021

Ada sesuatu yang tak bisa dihargai: kehadiran.

Unsplash/Metis Designer

Dia datang tergopoh-gopoh dari Australia hanya untuk mendapati nisan beku yang terpacak di ujung gundukan tanah merah.

“Ayah..” desisnya dengan tubuh nyaris ambruk.

Pria itu, berusia sekitar 45 tahun, duduk terisak. Bahunya berguncang-guncang dihantam kesedihan. Rasa kehilangan yang teramat dalam membuat bumi seolah ambruk menenggelamkannya dalam penyesalan.

Hari mulai gelap ketika pria itu akhirnya beranjak dari permakaman menuju rumah yang kini terasa asing. Bondan, adiknya, duduk di sofa. Matanya masih sembab.

Ingin rasanya ia berhambur memeluk adik satu-satunya itu. Namun Bondan menatapnya tak acuh. Bondan bahkan belum menegurnya sejak ia datang sore tadi.

Pria itu merasakan kehilangan dan keterasingan yang amat sangat. Kepedihannya semakin menusuk ketika tatapannya membentur deretan foto keluarga yang terpacak di dinding ruang tamu.

“Mas bisa tidur di kamar ayah,” kata Bondan sambil berdiri dari sofa kemudian beranjak ke kamarnya.

Senyum sang ayah dari foto yang tergantung di dinding ruang tamu serasa menikamnya.

Malam itu ia tidur di kamar ayahnya. Ia membuka lemari kecil di sudut kamar dan terhenyak ketika mendapati tumpukan amplop tersimpan rapi. Amplop-amplop itu berisi uang yang selalu ia kirimkan setiap bulan. Semuanya masih utuh.

Ia lalu teringat percakapan terakhirnya dengan Sang Ayah.

“Ayah sudah terima kirimanku, kan?” katanya di bibir telepon.

“Sudah. Kamu kapan pulang?”

Ia tak pernah bisa menjawab. Bisnisnya di Australia sedang pesat.

Ia mengira, dengan mengirimi uang setiap bulan, sudah cukup mewakili kehadirannya. Tapi amplop-amplop itu ternyata masih tersimpan rapi. Ayahnya bahkan tak pernah membukanya. Jam mewah yang ia kirimkan di hari ulang tahun ayahnya juga masih tersimpan di boksnya.

Sekilas terbayang wajah ibunda yang berpulang dua tahun lalu. Saat itu pun ia tak sempat datang ke pemakamannya.

‘Ada harga yang harus dibayar untuk setiap sesuatu,’ katanya ketika itu, mencoba menghibur diri.

Tapi malam ini, di kamar ayahnya, ia tersungkur. Ada sesuatu yang tak bisa dihargai: kehadiran.

_DW_

Read more…

Jeda

April 16, 2021
tags: ,
Unsplash/Erik Mclean

Kadang kita perlu melupakan sejenak semua masalah, bukan untuk lari darinya, melainkan untuk mengambil jarak dan jeda.

Jarak membuat kita bisa melihat sesuatu secara lebih utuh dan jeda memberi kita ruang untuk mengatur irama nafas.

Seperti spasi yang tanpanya kalimat tak akan bermakna, seperti itu juga jarak dan jeda.

_DW_

Road Trip Depok-Gresik Naik Altis Tua, Ada Aja Masalahnya!

April 15, 2021
Ruas jalan tol trans jawa. 📸 Me.

Pergi jauh naik mobil tua itu memang hampir selalu ada dag-dig-dug-nya. Sebab kita gak pernah tahu masalah apa yang akan muncul dari balik kap mesin, kaki-kaki, atau malah pengapiannya.

Bisa jadi saat dibawa harian di dalam kota, si mobil gak ada masalah, enak-enak aja, nyaman-nyaman aja. Tapi begitu digas pol ke luar kota, baru deh ketahuan bengeknya.

Ini saya alami saat mengajak Altis tua road trip dari Depok ke Gresik pada Senin 5 April 2021. FYI, Altis saya kelahiran 2002, sudah nyaris 20 tahun, satu tahun lagi genap dua dekade, usianya.

Selama pandemik Covid-19 dia lebih banyak nongkrong di rumah. Dan selama lima tahun terakhir gak ada masalah berarti. Jadi ini akan menjadi perjalanan yang cukup menyiksa buatnya, meski bukan road trip pertamanya.

Sebab dia akan digeber selama 12 jam, mungkin juga lebih, secara nonstop. Mesin yang biasanya cuma jalan-jalan santai di dalam kota bakalan merasakan kejamnya tol transjawa.

Kami start pukul 06.30 WIB dari rumah tapi baru masuk Tol Brigif satu jam kemudian, karena harus cek tekanan angin ban plus ngisi bensin dulu –ini seharusnya saya lakukan sehari sebelumnya 😂.

Perjalanan sampai Semarang enak-enak aja. Sebab jalan tolnya relatif landai, meski banyak banget ruas yang lagi diperbaiki. Mesin 1800 cc Altis berasa ngisi terus tenaganya, terutama pada putaran tengah dan atasnya.

Tenaganya terasa banget saat kami menerjang tol Semarang menuju Bawen yang meliuk-meliuk dan menanjak lumayan panjang. Meski sempat ada momen si Altis ngeden di tanjakan, tapi overall Altis 2002 ini gak berasa tuanya.

Hanya saja, setiap kali jarum speedometer menyentuh angka 110 kpj, setir terasa bergetar. Getaran tersebut lalu hilang pada kecepatan 120 kpj dan seterusnya. Hmm..kira-kira kenapa, ya?

Saat kami masuk ke rest area di daerah Kediri, kejanggalan lain muncul dari kap mobil. Istri saya yang pertama kali ngeh soal ini.

“Kok suaranya kayak mesin Panther, ya?” katanya. Saat itu saya juga mengendus bau-bau gosong. Semula saya pikir bau tersebut berasal dari asap knalpot bus. Ternyata dari kap mesin mobil saya sendiri. Hiks!

Read more…

Meruwat Kematian

April 15, 2021
📸: Dwi Agustiar

“Kalau begitu berarti kalian ingin mempertentangkan kehendak Allah.”

Ambulans itu merayap di gang sempit rumah kami. Tanpa ngiung-ngiung, hanya lampu biru-merahnya berkedip-kedip, mengisi kesunyian, juga kesedihan, di jalan ini.

Ini keempat kalinya ambulans datang dalam sebulan terakhir. Pertama, ia menjemput ibu. Setelah itu giliran Bu Saman, Bang Mamit, dan sore ini Bu Sarah.

“Empat orang meninggal dalam sebulan ini sangat gak wajar,” kata seorang warga. “Pasti ada yang salah!”

“Memang aneh. Sepertinya kita perlu mengadakan ruwatan,” seorang warga lain menimpali. Warga lain mengamini.

Sebelumnya kematian memang tidak pernah datang sesering ini ke gang kami. Sehingga usulan ruwatan menyebar dan dengan cepat sampai di pintu rumah Pak RT.

“Secepatnya kalau bisa, Pak. Warga sudah resah,” seorang perwakilan warga mendesak. Pak RT hanya manggut-manggut. Segelas kopi tak lagi menggugah seleranya.

“Kalau begitu,” katanya sambil beranjak. “Kita minta pendapat Wak Dul.”

Mereka lalu menggeruduk rumah Wak Dul yang nyempil di ujung gang. Wak Dul adalah pria berusia 50-an namun rambutnya telah memutih semua.

Konon Wak Dul bisa membaca kode-kode dari masa depan. Beberapa warga telah membuktikannya. Waktu zaman togel masih jaya, Wak Dul sering dimintai nomor.

Ada juga warga yang datang hanya untuk memintanya menafsirkan mimpi. Kalau warga kesurupan, Wak Dul orang pertama yang akan didatangi.

Banyak yang menduga Wak Dul itu wali. Tapi banyak pula yang menampiknya. Sebab Wak Dul hanya sesekali saja muncul di musala.

“Kalau dia itu benar wali, harusnya setiap hari menjadi imam kita di musala,” kata ustaz yang baru pulang dari pondok di Sawangan.

Malam itu Wak Dul sedang menyesap sebatang rokok kretek di halaman depan rumahnya ketika warga berdatangan. Wal Dul tak acuh saja. Kedatangan orang-orang itu sama sekali tak mengusiknya.

Pak RT segera menghampiri Wak Dul. Beberapa saat keduanya terlibat pembicaraan sampai Wak Dul tiba-tiba terkekeh.

“Kalian ini lucu,” kata Wak Dul menatap warga. “Kalian mau meruwat itu tujuannya apa?”


“Ya supaya kita semua selamat,” sahut seorang warga.


“Mintanya kepada siapa?”


“Ya kepada Allah!” sahut mereka.


Wak Dul kembali terkekeh. “Kalian pikir kematian mereka itu atas izin siapa?”

“Ya atas izin Allah.”

“Kalian tahu kematian datang atas izin Allah tapi kalian juga ingin menggelar ruwatan agar terhindar dari kematian. Kalau begitu berarti kalian ingin mempertentangkan kehendak Allah,” kata Wak Dul.


Warga bingung. Mereka gak nyangka niat menggelar ruwatan bakal berakhir ruwet seperti ini.


Wak Dul izin masuk ke dalam rumah, meninggalkan warga yang kebingungan begitu saja. Sepeninggal Wak Dul, aroma melati menyeruak entah dari mana

Ambulans itu merayap di gang sempit rumah kami lalu berhenti di ujung gang. Warga yang masih berkerumun di depan rumah Wak Dul bertanya-tanya.


“Siapa lagi yang mati?” kata Pak RT.


Sopir ambulans menjawab: “Wak Dul.”

_DW_