Skip to content

Semut, Kecoa, Jokowi

July 22, 2014

ilustrasi: hardtofindpartysupplies.com

ilustrasi: hardtofindpartysupplies.com

Saat obor rakyat mulai beredar luas, seorang teman berkata, “Fitnah dalam ratusan ribu eksemplar itu seperti bom atom yang meluluh lantakkan Nagasaki dan Hiroshima. Semua hancur. Bahkan radiasinya bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.”

Yang tidak diketahui teman saya itu adalah, beberapa hari setelah bom itu meledak, sejumlah peneliti dari Angkatan Udara Amerika, dengan memakai pakaian antiradiasi, datang ke lokasi dan tertegun melihat semut-semut dan kecoa tetap hidup bahagia, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana*.

Para ahli itu kemudian mencatat: serangga, dari kumbang es di Antartika hingga kalajengking matahari di Death Valley, tetap dapat hidup dengan gembira pada temperatur, tingkat kekeringan, dan tekanan dalam rentang yang mematikan. Mereka juga mampu bertahan terhadap kekuatan paling mematikan di alam semesta ini: radiasi. ..lanjut

Tausiah Nasi Kuning

June 24, 2014

Broken ChainKursi lipat sudah disiapkan, tapi Mas Gun memilih duduk di atas tikar. Memakai kemeja lengan pendek biru dan celana jeans, bekas pemimpin Majalah Tempo ini terlihat sumringah.

Mas Gun hari ini datang ke Velbak untuk memperingati 20 tahun pembredelan Majalah Tempo. Setiap tahun, kisah ini selalu kami peringati. Tapi tak setiap tahun Mas Gun datang.

Sejak SMA saya suka membaca ‘Catatan Pinggir’. Ini adalah tulisan di halaman paling belakang Majalah Tempo yang terbit saban pekan.

Penulisnya, ya, Mas Gun ini. Saya membacanya ketika tulisan-tulisan itu sudah dibundel dalam buku berjudul Caping alias Catatan Pinggir.

Tidak semua tulisan Catatan Pinggir saya mengerti. Terutama saat Mas Gun menulis tentang filsafat. Benar-benar ndak mudeng.

Meski begitu, saya tetap menikmati penyajiannya: tentang bagaimana Mas Gun menjahit setiap kata, memilih diksi, hingga memenggal kalimat.

Saat sore tadi Mas Gun diminta memberikan tausiah, saya juga menikmatinya. Mendengarnya berbicara seperti membaca lembar terakhir Majalah Tempo.

“Pers tidak harus netral. Boleh netral, tapi tidak wajib,” katanya. “Kalau menghadapi kesewenang-wenangan, pers yang memilih tetap netral justru tidak bertanggung-jawab.” ..lanjut

Jalan Suci Menuju Brasil

June 14, 2014

Banyak jalan menuju Brasil, salah satunya dengan sepeda. Meski untuk itu ketiga orang ini harus mengayuh ribuan kilometer. Ini adalah perjalan suci para penggila sepak bola.

foto: baotintuc.vn

foto: baotintuc.vn


Juan Luis Sube bersama dua temannya berhenti di Iguazu Falls, air terjun yang indah di perbatasan Argentina dan Brasil, dua pekan lalu. Insinyur lingkungan ini menyandarkan sepedanya lalu duduk menikmati gemuruh air terjun setinggi 82 meter itu.

“Kami sudah lama menantikan saat-saat seperti ini,” kata pria berusia 29 tahun ini. Dua temannya, yakni Sube Angle Martinez, 26 tahun, dan Hector Luja, 25 tahun, ikut duduk di sampingnya. Wajah ketiganya tampak begitu letih. “Perjalanan kami masih jauh.”

Untuk sampai di Iguazu Falls, tiga orang nekat ini telah mengontel sepeda sejak Desember lalu. Mereka berangkat dari Guadalajara di Meksiko Utara kemudian menyusuri Guatemala, Honduras, Nicaragua, dan terus ke selatan.

Total, mereka telah melintasi 14 negara dan menempuh jarak sekitar 5.900 kilometer. Tapi, perjalanan mereka belum berhenti. Karena tujuan akhir mereka adalah Recife, Brasil. Artinya, mereka harus mengontel lagi sejauh 3.000 kilometer.

Itu sebabnya mereka beristirahat sejenak menikmati keindahan Iguazu Falls sebelum mengontel sepeda lagi. “Kami tahu ini sedikit gila tapi kami terlalu bersemangat. Kami ingin menjadi bagian dari pesta Piala Dunia dengan mendukung tim nasional kami,” kata Sube penuh semangat.

Sube bukan ingin gaya-gayaan naik sepeda ke Brasil, tapi dengan kantong yang cekak, mereka tak punya pilihan selain mengontel sepeda. “Masing-masing kami membawa US$ 3.500,” kata Sube. “Dan kini kami mulai kehabisan uang.” lanjut

Gol-gol yang Membebaskan

June 12, 2014


Hanya dua bulan sebelum Piala Dunia 1958 digelar, Rachid Mekhloufi bersama sembilan pemain keturunan Aljazair memutuskan hengkang dari Prancis. Mereka menyelinap ke Swiss lalu bergabung dengan tim sepak bola bentukkan Front Pembebasan Aljazair (NFL) di Tunisia.

Mekhloufi, saat itu masih berusia 21 tahun, adalah pemain bintang yang membawa klub sepak bola Saint-Étienne empat kali juara Ligue 1 –kompetisi utama di Prancis. Ia juga membawa tim nasional Prancis menjuarai Piala Dunia Militer yang digelar di Buenos Aires, Argentina, pada 1957.

Karirnya cerah dan masa depannya cemerlang. Ia hidup serba enak di Prancis. Tapi hatinya tak tentram setiap kali mengingat Setif, kampung halamannya di Aljazair, yang terus dibombardir pesawat-pesawat Prancis.

“Saya mendapat semua kesenangan di Saint-Etienne tapi saya tidak bisa berhenti memikirkan Aljazair,” kata Mekhloufi. “Bagaimanapun saya orang Aljazair dan harus melakukan sesuatu untuk mereka.”

Aljazair saat itu sedang bergolak melawan prancis. Perang kemerdekaan bergulir sejak 1954 dan menewaskan lebih dari 1,5 juta orang. Maka, pada April 1958, Mekhloufi bersama Mustapha Zitouni –pemain bek tim nasional Prancis– dan delapan pemain lain menyusup ke Tunisia. ..lanjut

Kado Tragis Buat Moyes

May 21, 2014

foto: bbc

foto: bbc

Jarum jam baru menunjukkan pukul 8 pagi ketika mobil Ed Woodward memasuki Carrington Training Center, pusat pelatihan sepak bola milik klub Manchester United di kota Manchester, Inggris, 22 April lalu.

Mengenakan kemaja putih yang dibalut sweater hitam, CEO Manchester United itu langsung disambut pelatih Manchester United, David Moyes, dengan wajah beku.

“Bagaimana berita ini bisa sampai ke media sementara saya sendiri sama sekali tidak diberitahu?” kata Moyes dengan nada tinggi ketika keduanya sudah duduk berhadapan.

Kabar yang dimaksud Moyes itu adalah berita pemecatan dirinya yang santer diberitakan media-media Inggris sehari sebelumnya.

Woodward meminta maaf. Ia mengatakan berita itu memang benar. Tapi ia tidak tahu siapa yang membisikkan kabar tersebut ke media sebab ia bukan satu-satunya orang dalam di United yang mengetahui informasi itu.

Moyes kemudian tak banyak bicara. Pertemuan empat mata itu berakhir 15 menit kemudian. Setelah itu, akun twitter resmi Manchester United merilis berita: David Moyes telah meninggalkan klub. ..Lanjut