Skip to content

Ketika Subuh Selalu Molor

November 20, 2014

foto: me

foto: me

Setiap kali bangun kesiangan, istri saya biasanya langsung mengambil wudhu lalu salat subuh –sekalipun jam sudah menunjuk pukul 06.30 wib. “Mending telat daripada nggak sama sekali,” begitu katanya.

Saya cuma nyengir. Namanya saja shalat subuh, dikerjakannya ya di waktu subuh. Kalau sudah jam segini, namanya bukan lagi salat subuh. Mungkin duha.

Tapi kalimat itu tak pernah benar-benar keluar dari mulut saya. Takut dia tersinggung. Saya lebih memilih tidur lagi. Salat yang terlewat hari ini, saya akan membayarnya subuh besok.

Pernah ada teman yang bertanya: “Apa bisa salat diganti waktunya?”

Kenapa nggak? Derajat salat, setidaknya menurut rukun Islam, lebih tinggi dari puasa Ramadhan. Jika puasa bisa diganti, kenapa salat nggak bisa?

Memang ada beberapa hadis yang menyebutkan Rasul pernah bangun ketika matahari sudah kelewat tinggi lalu langsung salat subuh. Ini menjadi dasar mereka melakukan salat subuh di luar waktunya.

Tapi, benarkah –atau mungkinkah–rasul pernah bangun kesiangan lalu tergopoh-gopoh salat subuh? ..lanjut

Perginya Senandung Ibu

October 30, 2014

“Kau selalu di hati, bersemi di dalam kalbu, dari semula, hingga akhirnya, kasih ku serahkan..”

Suara Mba (apa tante ya?) Tetty Kadi dari komputer tua di meja seberang mengingatkanku pada ibu.
Dulu sekali, ketika dua adikku belum lahir, ibu selalu menyetel lagu-lagu Tetty Kadi lalu ikut mendendangkannya.
Kini, ibu tak selincah dulu. Keriput mulai merambati kulit-kulitnya dan ia mulai sering mengeluh sakit kepala.
Tapi ia masih bisa berjalan ke pasar. Hanya, ia tak lagi menyanyi. Saya tak tahu persis mulai kapan ibu berhenti bernyanyi. lanjut

Nyi Ratu di Belakang Jokowi

October 21, 2014

Ilustrasi API

Ilustrasi API

“Kamu tahu Nyi Roro Kidul? Dia sekarang dekat dengan Jokowi,” kata Seno sambil mengunyah sebatang bengbeng.
Saya tak terkejut mendengarnya. Sebab otak manusia satu itu mirip kuda liar, sering loncat-loncat ga karuan.
Meski begitu, toh, saya tertarik juga. “Dari mana kamu tahu? Memangnya kamu paranormal? Lagian memangnya Nyi Roro Kidul beneran ada?”
Seno tersenyum, lebih tepatnya mencibir. Dia menunjuk televisi sambil berkata, “Kamu nonton pelantikan Jokowi pagi tadi?”
Ia tak perlu jawaban karena mulutnya yang masih penuh bengbeng itu cepat berkata lagi. “Di pelantikan itu Jokowi bilang dia akan mengembalikan kejayaan samudera kita.”
“Ya, saya dengar itu.”
“Nah, setelah pelantikkan, dia diarak ke Istana dengan kereta kencana. Samudera dan kereta kencana, apa yang bisa kamu simpulkan?”
“Nyi Roro…” lanjut

Habis Susu, Tumbuhlah Cabe

October 10, 2014

IMG_4543-1Sepasang daun mungil itu akhirnya mekar juga. Usianya baru 7 hari, batangnya masih rapuh, namun ia hidup. Bahagia sekali melihatnya. Benar kata orang, berkebun itu ternyata memang menyenangkan.

Apalagi, modalnya pun tak banyak. Hanya butuh biji-bijian, tanah, sedikit pupuk, dan pot. Bijinya bisa biji apa saja, tergantung selera. Saya memilih biji cabe, karena kebetulan punyanya itu.

Ini adalah biji cabe meksiko. Saya membelinya di Ace Hardware. Satu sachet harganya –kalau nggak salah–Rp 15 ribu. Cukup murah karena berisi puluhan biji cabe. Ada jaminan pasti tumbuh pula!

Tanah tinggal keduk sedikit dari halaman belakang lalu masukkan ke pot. Karena nggak punya pot, jadi kardus bekas susu uht pun jadi, hehe. Untuk menyemai saja tak apa, nanti kalo sudah besar tinggal dipindah ke pot beneran. lanjut

Jejak Yamin dalam Syair Indonesia Raya

October 3, 2014

Wage Rudolf Soepratman tak sendirian menciptakan lagu Indonesia Raya. Syair lagu tersebut ditulis Muhammad Yamin.

Ilustrasi: TEMPO

Ilustrasi: TEMPO

Sambil menjinjing kotak biolanya, Wage Rudolf Soepratman menghampiri Soegondo Djojopoespito di sela kongres Pemuda II di Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat 106, 28 Oktober 1928.

Pemuda berusia 25 tahun itu memberi hormat sebentar lalu menyodorkan secarik kertas berisi notasi dan syair lagu berjudul Indonesia. Ia meminta Soegondo, pemimpin rapat hari itu, memberinya kesempatan membawakan lagu tersebut.

Soegondo mengerutkan keningnya saat membaca syair lagu itu. Banyak frase dalam syair lagu tersebut yang bisa menyulut semangat persatuan. Jika teks itu dinyanyikan, Polisi Hindia Belanda bisa-bisa langsung membubarkan kongres.

Karena itu Soegondo meminta Soepratman menunggu sebentar. Ia lalu menghampiri utusan dari Kantor Voor Inlandsche Zaken, Van der Vlaas, untuk berkonsultasi. Vlaas mengijinkan lagu itu dimainkan asalkan tanpa syair.

“Saya hanya akan membawakannya dengan permainan biola,” kata Soepratman saat Soegondo melaporkan hasil konsultasinya. Soegondo mengijinkan. Soepratman pun tampil. Memakai setelan putih-putih dan berpeci hitam, pemuda berkacamata itu mulai menggesek biolanya. lanjut