Skip to content

Nyi Ratu di Belakang Jokowi

October 21, 2014

Ilustrasi API

Ilustrasi API

“Kamu tahu Nyi Roro Kidul? Dia sekarang dekat dengan Jokowi,” kata Seno sambil mengunyah sebatang bengbeng.
Saya tak terkejut mendengarnya. Sebab otak manusia satu itu mirip kuda liar, sering loncat-loncat ga karuan.
Meski begitu, toh, saya tertarik juga. “Dari mana kamu tahu? Memangnya kamu paranormal? Lagian memangnya Nyi Roro Kidul beneran ada?”
Seno tersenyum, lebih tepatnya mencibir. Dia menunjuk televisi sambil berkata, “Kamu nonton pelantikan Jokowi pagi tadi?”
Ia tak perlu jawaban karena mulutnya yang masih penuh bengbeng itu cepat berkata lagi. “Di pelantikan itu Jokowi bilang dia akan mengembalikan kejayaan samudera kita.”
“Ya, saya dengar itu.”
“Nah, setelah pelantikkan, dia diarak ke Istana dengan kereta kencana. Samudera dan kereta kencana, apa yang bisa kamu simpulkan?”
“Nyi Roro…” lanjut

Habis Susu, Tumbuhlah Cabe

October 10, 2014

IMG_4543-1Sepasang daun mungil itu akhirnya mekar juga. Usianya baru 7 hari, batangnya masih rapuh, namun ia hidup. Bahagia sekali melihatnya. Benar kata orang, berkebun itu ternyata memang menyenangkan.

Apalagi, modalnya pun tak banyak. Hanya butuh biji-bijian, tanah, sedikit pupuk, dan pot. Bijinya bisa biji apa saja, tergantung selera. Saya memilih biji cabe, karena kebetulan punyanya itu.

Ini adalah biji cabe meksiko. Saya membelinya di Ace Hardware. Satu sachet harganya –kalau nggak salah–Rp 15 ribu. Cukup murah karena berisi puluhan biji cabe. Ada jaminan pasti tumbuh pula!

Tanah tinggal keduk sedikit dari halaman belakang lalu masukkan ke pot. Karena nggak punya pot, jadi kardus bekas susu uht pun jadi, hehe. Untuk menyemai saja tak apa, nanti kalo sudah besar tinggal dipindah ke pot beneran. lanjut

Jejak Yamin dalam Syair Indonesia Raya

October 3, 2014

Wage Rudolf Soepratman tak sendirian menciptakan lagu Indonesia Raya. Syair lagu tersebut ditulis Muhammad Yamin.

Ilustrasi: TEMPO

Ilustrasi: TEMPO

Sambil menjinjing kotak biolanya, Wage Rudolf Soepratman menghampiri Soegondo Djojopoespito di sela kongres Pemuda II di Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat 106, 28 Oktober 1928.

Pemuda berusia 25 tahun itu memberi hormat sebentar lalu menyodorkan secarik kertas berisi notasi dan syair lagu berjudul Indonesia. Ia meminta Soegondo, pemimpin rapat hari itu, memberinya kesempatan membawakan lagu tersebut.

Soegondo mengerutkan keningnya saat membaca syair lagu itu. Banyak frase dalam syair lagu tersebut yang bisa menyulut semangat persatuan. Jika teks itu dinyanyikan, Polisi Hindia Belanda bisa-bisa langsung membubarkan kongres.

Karena itu Soegondo meminta Soepratman menunggu sebentar. Ia lalu menghampiri utusan dari Kantor Voor Inlandsche Zaken, Van der Vlaas, untuk berkonsultasi. Vlaas mengijinkan lagu itu dimainkan asalkan tanpa syair.

“Saya hanya akan membawakannya dengan permainan biola,” kata Soepratman saat Soegondo melaporkan hasil konsultasinya. Soegondo mengijinkan. Soepratman pun tampil. Memakai setelan putih-putih dan berpeci hitam, pemuda berkacamata itu mulai menggesek biolanya. lanjut

Semut, Kecoa, Jokowi

July 22, 2014

ilustrasi: hardtofindpartysupplies.com

ilustrasi: hardtofindpartysupplies.com

Saat obor rakyat mulai beredar luas, seorang teman berkata, “Fitnah dalam ratusan ribu eksemplar itu seperti bom atom yang meluluh lantakkan Nagasaki dan Hiroshima. Semua hancur. Bahkan radiasinya bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.”

Yang tidak diketahui teman saya itu adalah, beberapa hari setelah bom itu meledak, sejumlah peneliti dari Angkatan Udara Amerika, dengan memakai pakaian antiradiasi, datang ke lokasi dan tertegun melihat semut-semut dan kecoa tetap hidup bahagia, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana*.

Para ahli itu kemudian mencatat: serangga, dari kumbang es di Antartika hingga kalajengking matahari di Death Valley, tetap dapat hidup dengan gembira pada temperatur, tingkat kekeringan, dan tekanan dalam rentang yang mematikan. Mereka juga mampu bertahan terhadap kekuatan paling mematikan di alam semesta ini: radiasi. ..lanjut

Tausiah Nasi Kuning

June 24, 2014

Broken ChainKursi lipat sudah disiapkan, tapi Mas Gun memilih duduk di atas tikar. Memakai kemeja lengan pendek biru dan celana jeans, bekas pemimpin Majalah Tempo ini terlihat sumringah.

Mas Gun hari ini datang ke Velbak untuk memperingati 20 tahun pembredelan Majalah Tempo. Setiap tahun, kisah ini selalu kami peringati. Tapi tak setiap tahun Mas Gun datang.

Sejak SMA saya suka membaca ‘Catatan Pinggir’. Ini adalah tulisan di halaman paling belakang Majalah Tempo yang terbit saban pekan.

Penulisnya, ya, Mas Gun ini. Saya membacanya ketika tulisan-tulisan itu sudah dibundel dalam buku berjudul Caping alias Catatan Pinggir.

Tidak semua tulisan Catatan Pinggir saya mengerti. Terutama saat Mas Gun menulis tentang filsafat. Benar-benar ndak mudeng.

Meski begitu, saya tetap menikmati penyajiannya: tentang bagaimana Mas Gun menjahit setiap kata, memilih diksi, hingga memenggal kalimat.

Saat sore tadi Mas Gun diminta memberikan tausiah, saya juga menikmatinya. Mendengarnya berbicara seperti membaca lembar terakhir Majalah Tempo.

“Pers tidak harus netral. Boleh netral, tapi tidak wajib,” katanya. “Kalau menghadapi kesewenang-wenangan, pers yang memilih tetap netral justru tidak bertanggung-jawab.” ..lanjut